KEJAKSAN, (KC).-

Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Cirebon tidak melayani penukaran uang rupiah baru dalam berbagai pecahan untuk masyarakat di Cirebon. Sebaliknya, BI bekerja sama dengan 34 bank di Cirebon siap melayani masyarakat atau nasabah yang ingin menukar uang baru berbagai pecahan.

Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Cirebon, Totok Hermiyanto, menyampaikan, kebijakan tidak melayani penukaran uang di kantor tersebut berlaku untuk seluruh kantor BI se-Jawa Barat. Keputusan tersebut, katanya untuk memudahkan masyarakat tidak lagi harus mengantri di kantor BI.

“Ini juga jadi pilot project BI dan baru di Jawa Barat yang memberlakukan kebijakan ini,” ujarnya belum lama ini.

Dalam pelaksanaan penukaran uang, BI perwakilan Cirebon menyiapkan Rp 3,1 triliun dari berbagai pecahan. Dari jumlah yang dipersiapkan, kebutuhan uang bari di wilayah kerja BI perwakilan Cirebon diprediksi mencapai Rp 2 triliun.

Sementara nasabah yang ingin menukar uang harus ke 43 bank yang sudah bekerja sama dengan BI. Cara ini, menurut Totol, menghindari terjadinya transaksi atau jual beli uang. “Lebaran juga, kita perbanyak pintu layanan bank.

Kita juga menyambut di Wilayah Indramayu, Kuningan dan Majalengka. Penukaran uang tanpa dipungut biaya. Kami juga tekankan agar bank tidak melayani nasabah saja,” tandasnya.

Peningkatan inflasi
Sementara sejumlah momen besar di Indonesia akan mempengaruhi pertumbuhan di berbagai sektor di tingkat daerah. Pemilu presiden, Ramadhan dan tahun ajaran baru dipastikan akan memicu terjadinya peningkatan inflasi di Wilayah Cirebon.

Kepala Kantor Perwakilan Wilayah BI Cirebon, Totok Hermiyanto menyampaikan, bulan Juni ini pertumbuhan inflasi di Cirebon 0,33 persen. Sektor yang mempengaruhi inflasi umumnya adalah tanaman pangan seperti bawang merah. “Hingga Juni, inflasi 6,35 persen, di atas target 45 persen. Inflasi kita memang jauh dibanding nasional tapi masih lebih tinggi di Jawa Barat,” sahutnya, Selasa (8/7/2014).

Namun demikian, dalam momen yang berbeda, inflasi akan kembali merangkak naik diperkirakan 1,7 persen. Pemicunya, tegas Totok, yakni momen pemilu presiden, Ramadhan atau mendekati Lebaran dan yang terdekat kebutuhan membeli baju dan perlengkapan sekolah di tahun ajaran baru ini.

“Secara common sense juga sudah terlihat bakal ada kenaikan inflasi toh? Itu baru prediksi dan nyatanya berapa masih belum tahu,” ujarnya.

Dalam upaya mengantisipasi tingginya inflasi tersebut. BI berupaya untuk mengendalikan suku bunga bank atau BI rate. “Biasanya kalau inflasi naik BI rate juga naik. Saya masih percaya kalau BI rate belum berubah,” sahut Totok.

Selain itu, ia meminta agar ada kerja sama baik antara pelaku usaha dan pemerintah terkait pasokan sektor riil. Kerja sama tersebut dalam mempertahankan distribusi barang khususnya barang dagangan yang memiliki peranan penting. “Kami pun menyadari biaya pendidikan pengaruhnya besar.

Tapi dari sektor pendidikan ada penurunan dari 1,2 persen turun 0,05 persen. Kami cuma meminta agar pemerintah tidak menaikkan biaya pendidikan itu saja,” pungkas Totok.(C-23)