BABAK delapan besar Piala Dunia 2014 sudah berakhir, empat tim memastikan tempatnya di semi final, setelah menyelesaikan empat pertandingan. Mereka terdiri dari dua wakil Eropa, Jerman dan Belanda, kemudian Brasil dan Argentina dari Benua Amerika. Siapa yang akan melangkah ke partai puncak, atau malah berhenti di perebutan juara tiga, semuanya akan ditentukan pada pertandingan semi final, Rabu (9/7/2014) dan Kamis (10/7/2014).

Laga penutup babak perempat final mengantarkan Belanda menjadi negara terakhir yang memperoleh tiket ke fase empat besar, setelah berhasil menyingkirkan Kosta Rika melalui adu penalti dengan skor 4-3 usai bermain 0-0 sampai babak perpanjangan waktu, di Arena Fonte Nova, Minggu (6/7/2014) dinihari WIB.

Sehari sebelumnya, Brasil dan Argentina masuk empat besar putaran final Piala Dunia, setelah tim Samba menumbangkan Kolombia dengan skor 2-1, di Estadio Castelao, Fortaleza. Kemudian La Albiceleste, berhasil melaju ke babak semi final, usai mengalahkan Belgia dengan skor tipis 1-0, di Estadio Nacional Mane Garrincha.

Di pertandingan awal, Jerman sukses menghentikan langkah Prancis, dengan keunggulan 1-0 di Maracana, Rio de Janiero, Jumat (4/7/2014) malam WIB.

Selanjutnya di semi final, akan saling berhadapan timnas Jerman dengan Brasil Rabu (9/7/2014), kemudian Belanda kontra Argentina Kamis (10/7/2014).

Istimewa
Bagi Argentina, melaju ke semi final Piala Dunia 2014, merupakan momentum istimewa setelah terakhir mereka rasakan di Piala Dunia 1990. Kemenangan atas Belgia pun, mendapat apresiasi dari pelatih Alejandro Sabella, yang menilai penampilan timnya di laga itu merupakan yang terbaik sejauh ini.

Dalam tiga kesempatan terakhir, saat tim Tango sukses melaju ke semi final, pada tahun 1978, 1986, dan 1990, mereka selalu sukses melaju sampai final. Bahkan pada 1978 dan 1986 mereka sukses jadi juara.

Kemudian dua puluh empat tahun silam, Argentina melaju ke semi final setelah menyingkirkan Yugoslavia lewat adu penalti. Mereka kemudian menghadapi Italia di semi final dan kembali menang lewat adu penalti.

Namun Argentina kalah di partai puncak. Menghadapi Jerman Barat, Argentina kalah 0-1 lewat gol penalti Andreas Brehme dan harus puas hanya jadi runner-up.

Selain itu, bagi Alejandro Sabella, keberhasilan timnya menekan Belgia sehingga tidak mampu membuat banyak peluang di pertandingan itu dianggap sebagai satu catatan positif. Lebih jauh, pelatih 59 tahun itu menyambut gembira kelolosan timnya ke babak semifinal kendati kecewa dengan cederanya Angel Di Maria.
“Ini adalah pertandingan terbaik kami di Piala Dunia 2014, dalam hal keseimbangan permainan dan semua aspek lain di laga ini. Menembus babak semi final adalah sebuah keberhasilan besar untuk tim dan publik Argentina,” katanya.

Lain halnya di kubu Brasil, keberhasilan mereka menjejak empat besar mencatatkan prestasi tersendiri bagi pelatih Luis Felipe Scolari. Sukses menyingkirkan Kolombia, sekaligus mengukuhkan status Luis Felipe Scolari sebagai pelatih berdarah tangan dingin.

Fakta itu pernah diraih saat Brasil tampil di Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea. Dalam dua gelaran Piala Dunia berikutnya, tanpa Scolari, Brasil hanya sampai babak perempat final.

Namun ironisnya, di laga itu pula, Brasil harus kehilangan ujung tombak timnya, Neymar yang harus dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan setelah mengalami cedera lutut.

Pemain bernomor punggung 10 itu ditandu keluar lapangan, dengan tampak kesakitan setelah dilanggar bek Kolombia Juan Camillo Zuniga menjelang akhir laga kemenangan 2-1 Brasil di Fortaleza.

Peristiwa ini merupakan pukulan berat bagi perjalanan tim Samba, menjelang babak akhir Piala Dunia 2014. Kehilangan Neymar akan berpengaruh pada daya gedor serangan Brasil di laga berikutnya, terutama di lini depan yang menjadi tumpul.(net/KC)