KEJAKSAN, (KC).-

Pemerintah Kota (pemkot) Cirebon melalui Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Cirebon, memastikan bahwa pabrik Tjampolay, yang berada di Jalan Elang Raya, Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, tidak memiliki Instalasi Pengelolahan Air Limbah (ipal).

Karenanya, tak aneh bila limbah dari pengelolahan sirup itu telah menciptakan aroma tidak nyaman bagi warga dua RW di lingkungan tersebut.

Meski telah dipastikan tidak memiliki APAL, KLH tidak ingin terburu menetapkan bahwa pabrik tersebut telah menyebabkan bau tidak sedap. Diakuinya, untuk penyelidikan, pihaknya sudah menyimpan tiga sampel air untuk mencari kebenaran soal limbah berbau tersebut.

“Kami telah mengambil tiga sampel air, yaitu sebelum outlet (pembungan limbah) yang berwarna bening, setelah outlet yang berwarna bening merah, dan setelah limbah melewati warung PKL yang berwarna merah keruh,” kata Kepala KLH, Agung Sedijono saat ditemui usai pengecekan lokasi pabrik, Kamis (10/7/2014).

Disinggung mengenai kemungkinan adanya pencemaran lingkungan, Agung membenarkan adanya hal itu. Meski hanya terlihat mata telanjang, dirinya yakin bahwa pabrik Tjampolay telah menebar dua limbah.

“Yang pertama air, yang kedua udara. Sejatinya, udara yang bersih adalah udara yang tak berbau. Sedangkan pabrik kan berbau seperti gula. Itulah yang kami maksud pencemaran. Tapi untuk air sendiri, bila baunya seperti kotoran, pasti sudah tercampur dengan limbah lainnya,” jelasnya.

Masih menurutnya, sekalipun meyakini adanya pencemaran lingkungan, dirinya belum berani memastikan zat apa yang terkandung dalam pencemaran itu. Hal itu dikarenakan, untuk mengetahui zat yang terkandung, dibutuhkan penelitian lebih lanjut.

“Saya belum berani memastikan, karena diperlukan penelitian hingga beberapa hari ke depan,” ujarnya.

Untuk itu, dirinya berencana membantu pihak pabrik Tjampolay untuk dibuatkan IPAL demi menghindari adanya pencemaran lingkungan yang terjadi beberapa tahun terakhir. Dikatakannya, untuk IPAL nantinya, KLH tidak akan membuat IPAL jenis limbah B3. Hal ini dikarenakan pembuatan sirup Tjampolay tidak menggunakan pewarna tekstil.

“Nanti kita bikin yang sederhana. Karena ini kan pabrik minuman, dan tidak mungkin menggunakan pewarna tekstil. Hal ini bisa dilihat dari warna hasil limbah yang tidak mencolok,” jelas Agung.

Sementara itu, meski telah berlangsung berhari-hari, pihak pabrik Tjampolay enggan memberikan komentarnya. Padahal “KC” sudah datang ke pabrik demi mendapatkan konfirmasi.

“Percuma Mas. Pihak pemilik pabrik tidak mau ketemu dengan siapapun, apalagi media,” ujar pegawai pabrik saat ditemui di lokasi.(C-21)