SEJARAH Indramayu seperti terungkap dalam Lontar Babad Dermayu (LBD) menegaskan, kawasan pedukuhan di wilayah hilir Sungai Cimanuk yang kini menjadi wilayah Kabupaten Indramayu didirikan oleh kesatria dari Bagelen, Raden Aria Wiralodra. Pengukuhan itu terjadi pada Jum’at Kliwon tanggal 1 Sura 1449, bertepatan dengan 1 Muharam 934 H atau 7 Oktober 1527 Masehi.

Putra seorang tumenggung dari Banyuurip Bagelen — Gagak Singalodra — itu memberi nama pedukuhan di pinggir Sungai Cimanuk tadi sebagai “Dharma Ayu”.
Boleh jadi, nama itu dipilih karena rasa cintanya terhadap Nyi Endang Dharma lebih kental ketimbang dendamnya. Ketertarikan Aria Wiralodra terhadap Nyi Endang Dharma memang bermula dari dendam karena gadis cantik nan sakti itu telah membunuh kerabat ayahnya, yaitu Pangeran Guru berikut 24 muridnya.

Benih-benih ketertarikan terhadap lawannya ternyata muncul juga dalam diri Nyi Endang Dharma. Adu kesaktian antara kedua orang sakti itu pun ternyata sama-sama dilatari rasa saling cinta. Ketertarikan Nyi Endang Dharma terhadap Aria Wiralodra mendorongnya untuk mengakhiri perang tanding dengan menceburkan diri ke Sungai Cimanuk. Sementara Aria Wiralodra mengabadikan nama pujaan hatinya pada nama pedukuhan, “Dharma Ayu”.

Keberadaan Sungai Cimanuk menjadi saksi sekaligus kunci bagi lahir dan berkembangnya pedukuhan “Dharma Ayu”. Boleh jadi, tidak akan terlahir pedukuhan “Dharma Ayu” tanpa Cimanuk. Tidak akan terjadi pula pertumbuhan pada kawasan cikal bakal Indramayu itu tanpa Sungai Cimanuk.

Potensi alam Sungai Cimanuk memacu berkembangnya aktivitas pertanian di pedukuhan Dharma Ayu. Seiring waktu, kawasan subur itu berkembang menjadi pusat perdagangan antar pulau. Kapal-kapal besar pengangkut barang secara periodic keluar masuk pedukuhan “Dharma Ayu” lewat sebuah kota pelabuhan yang disebut Bandar Cimanuk.
Terpacu aktivitas Bandar Cimanuk, pabrik-pabrik penggilingan beras, gudang-gudang barang, dan sarana penunjang aktivitas pelabuhan lainnya berdiri di pinggir sungai sekitar Bandar. Meski sebagian tinggal puing-puing, bukti keberadaan dan kejayaan Bandar Cimanuk tempo dulu itu masih bisa ditemukan saat ini.

Beberapa di antaranya dalam bentuk gedung-gedung tua, gudang-gudang tua, bahkan tiang-tiang pancang bekas penambataan kapal-kapal barang ketika itu. Fakta itu lagi-lagi menegaskan batapa pentingnya peran Sungai Cimanuk bagi pertumbuhan “Dharma Ayu” atau Indramayu saat ini.

Merengkuh “Uga”
Bagian lain LBD menegaskan, Indramayu bakal mencapai kejayaan kembali “… tan ana sawiji-wiji”. Itulah “uga” Indramayu. Dalam pengertian sederhana, “uga” adalah prediksi atas sesuatu – biasanya daerah – bakal menjadi bagaimana di kemudian hari, bila apa. “Uga” menegaskan, Indramayu bakal memperoleh kejayaan “… tan ana sawiji-wiji”. Meski tidak tegas, tapi prasyarat bagi terciptanya kondisi Indramayu seperti “uga”-nya tadi melibatkan Sungai Cimanuk. Antara lain seperti tergambar dalam prasyarat “… bila ada ular menyebrangi Sungai Cimanuk, dst” yang kemudian dimaknakan sebagai bentangan pipa minyak dan gas melintasi Sungai Cimanuk.

“Meski demikian, kejayaan Indramayu tidak akan terjadi dengan sendirinya. Tidak bisa ujug-ujug. Kejayaan itu harus diupayakan dengan karja keras secara berkelanjutan, terarah, dan sinergis. Dan langkah itu tidak cukup dilakukan oleh pemerintah saja, melainkan juga swasta, dan masyarakat secara luas,” tutur Kepala Bagian Humas Indramayu, Wawan Idris.

Langkah berat merengkuh “uga” mencapai cita, dari hari ke hari kian nampak hasilnya. Bahkan memperoleh kemajuan signifikan. Tengok saja produksi padi yang setiap tahun mencapai 1,7 juta ton gabah kering panen. Produksi perikanan, baik ikan laut maupun ikan air tawar, dan air payau mencapai 108 ribu ton setiap tahun dengan nilai tidak kurang dari Rp 1,556 triliun. Belum lagi produksi palawija, minyak, dan gas, serta aneka kerajinan.

Bupati Indramayu Hj. Anna Shopanah yakin betul, ragam maupun volume hasil produksi pertanian, perkebunan, perikanan, kerajinan, bahkan pada saatnya; hasil aneka industri dan jasa pariswisata dari Indramayu akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Optimisme itu didasari langkah jajarannya yang nyaris tanpa henti membangun sarana dan prasarana. Normalisasi sungai dan saluran disinergikan dengan perbaikan, penambahan ruas, dan daya tahan jalan berikut jembatannya. Itu dimaksudkan agar pertumbuhan ekonomi terjadi secara relative merata di setiap desa, dan hasilnya mudah didistribusikan.

Kembali ke Cimanuk

Alur Sungai Cimanuk bermula dari wilayah Garut. Melintasi wilayah Sumedang, dan Majalengka, sungai itu bermuara di wilayah Indramayu. Cimanuk memang bukan milik Indramayu. Tapi fungsi dan peran Sungai Cimanuk bagi Indramayu berbeda dengan fungsi serta peran sungai tersebut bagi Kabupaten Garut, Sumedang, maupun Majalengka.

Cimanuk dan “Dharma Ayu” atau Indramayu memang demikian menyatu. Seperti gula dan manisnya. Bila Cimanuk “marah”, akibatnya bisa luar biasa berbahaya bagi Indramayu. Tapi, semarah-marahnya Cimanuk bagi daerah lain, tidak akan terlampau besar bahayanya. Indramayu membutuhkan kondisi Sungai Cimanuk yang selalu ramah dan tersenyum.

“Itu sebabnya, mulai tahun ini, intensitas kita kembali ke Cimanuk lebih ditingkatkan. Mulai dari penataan bantarannya, normalisasi alurnya, dan secara bertahap meningkatkan daya dukungnya bagi pertumbuhan industri pertanian maupun pariwisata,” jelas Wawan Idris lagi. (Baca tulisan terkait : Festival Cimanuk 2015)
Diakui Wawan, hingga saat ini penataan kawasan Cimanuk masih terbatas. Yaitu baru menyentuh alur sungai yang melintasi kota dari mulai Bendung Bojongsari sampai Prajagumiwang atau Karangsong. Itu pun belum tuntas. “Tapi sudah cukuplah sebagai bukti awal bahwa kita memang ingin kembali ke Cimanuk,” ujar lelaki asal Ciamis itu lagi.

Menanti Jasa Waduk Jatigede

Waduk Jatigede di wilayah Kabupaten Sumedang sudah rampung dibangun. Saat ini tengah dalam tahap penggenangan. Sekitar satu miliar kubik air – kebanyakan dari SungaiCimanuk — akan ditampung di waduk tersebut, dan digelontorkan secara terkendali sesuai kebutuhan. Indramayu termasuk wilayah yang bakal memperoleh manfaat besar dari keberadaan waduk tersebut. Hal itu diakui oleh Bupati Indramayu Hj. Anna Shopanah.

Keberadaan Waduk Jatigede, menurut Bupati Anna akan semakin memperbesar peran Sungai Cimanuk bagi pertumbuhan dan kemajuan Indramayu di masa datang. Debit air Sungai Cimanuk yang selama ini terbuang percuma di musim hujan, tetapi kering di musim kemarau, lewat keberadaan Waduk Jatigede, dapat dikendalikan.

“Kelak, setelah beroperasi penuh, Waduk Jatigede memberi manfaat banyak bagi Indramayu. Sungai Cimanuk tidak menjadi ancaman banjir di musim hujan, dan tetap memberi cadangan air di saat kemarau. Perluasan areal sawah teknis pun menjadi lebih terbuka. Demikian halnya dengan intensifikasi perikanan tambak, perikanan air tawar, pengembangan industri pariwisata, dll,” katanya.

Ungkapan Hj. Anna itu ibarat sebuah pengakuan. Betapa Indramayu tak bisa dipisahkan dengan keberadaan Sungai Cimanuk. Terlebih setelah dijinakkan oleh Waduk Jatigede. Indramayu yang pada awal kelahirannya terkait erat dengan keberadaan Sungai Cimanuk, boleh jadi untuk mencapai kejayaan pun harus tetap bergandengan dengan Sungai Cimanuk.

Menurut “uga”, kejayaan Indramayu itu seperti sebuah keniscayaan. Persoalannya, seberapa jauh “pemegang kebijakan” Indramayu mampu meraih prasyaratnya “… tan ana sawiji-wiji..” dan meramunya dalam sebuah sinergitas hingga menjadi sebuah kekuatan yang menghasilkan sebuah kata; kesejahteraan bersama. Semoga. (Alex Sumarsya/Odox)