KUNINGAN, (KC).-

Sebagian besar desa di Kabupaten Kuningan belum dinyatakan terbebas dari buang air besar (BAB) sembarangan (open defecation free). Rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, membuat masih banyaknya warga yang masih menggunakan tempat yang bukan semestinya untuk BAB.

karaoke-room

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, H Raji K Sarji, Rabu (21/9/2016), menyebutkan, dari keseluruhan jumlah 376 desa/kelurahan, yang dinyatakan sudah terbebas dari BAB sembarangan hanya 74 desa. Sedangkan di desa lainnya, bagian besar warga masih memanfaatkan sungai, kolam, kebun maupun di tempat lain yang bukan semestinya digunakan untuk BAB. Seperti di sepanjang Sungai Cisanggarung dan anak sungainya.

Menurut Raji, kondisi tersebut diakibatkan rendahnya kesadaran masyarakat dalam melaksanakan pola hidup sehat. Karena untuk mencapai derajat sehat itu sangat ditentukan oleh perilaku sebesar 35-40 persen, faktor lingkungan 45 persen, dan sisanya faktor keturunan maupun kebiasaan.

Kemudian dampak dari perilaku buruk ini sangat merugikan bagi kesehatan lingkungan dan masyarakat. Selain mencemari lingkungan sekitarnya, juga memicu terjadinya penularan penyakit seperti kejadian luar biasa (KLB) muntaber/diare, kusta, penyakit kaki gajah (filariasis) dan sebagainya.

Dikatakannya, sebagai upaya menekan perilaku tersebut pihaknya sudah mencanangkan bebas BAB sembarangan sejak 2015. Melalui sosialiasi penerapan pola hidup sehat dalam program sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), yang terus dilakukan oleh petugas Dinas Kesehatan di tingkat Kabupaten, hingga Puskesmas di masing-masing kecamatan.

“Diharapkan memasuki 2017, secara bertahap warga yang melakukan BAB sembarangan akan semakin berkurang,” ujar Raji.

Menggugah kesadaran

Kepala Bidang (kabid) Pengendalian Masalah Kesehatan, Ucup Supriatna, didampingi Pelaksana Pada Seksi Kesehatan Lingkungan, Oci Sarkosi, mengungkapkan, penerapan program STBM ini dilaksanakan melalui analisa partisipatif dan pemicuan. Sehingga akan timbul rasa malu, jijik, takut sakit dan dosa yang kemudian terpicu harga dirinya apabila BAB di sembarang tempat.

Karena itu, memasuki tahun depan ditargetkan ada 64 desa yang setelah diintervensi akan terbebas dari BAB sembarangan. Sedangkan target bebas BAB sembarangan secara nasional harus tercapai sepenuhnya pada 2019.

“Program STBM ini merupakan pendekatan untuk merubah perilaku hygiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan tersebut. Sebagaimana tujuan umum yakni, memicu masyarakat atas kesadarannya sendiri mau menghentikan kebiasaan BAB di tempat terbuka, lalu pindah ke tempat tertutup dan terpusat,”tuturnya.(C-27)

banner-dishub