CIREBON, (KC).-

Upah Minimum Regional (UMR) Kota Cirebon untuk tahun 2017 mendatang dipastikan naik dari Rp 1,6 juta menjadi Rp 1,7 juta. Kenaikan UMR tersebut sesuai dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78/2015 pasal 44 ayat 1 dan 2.

Kepala Dinas Sosial Ketenaga Kerjaan dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kota Cirebon, Jamaludin mengatakan, perhitungan nilai UMK tersebut dipengaruhi oleh faktor inflasiyang dihitung pada periode September tahun lalu hingga September tahun ini.

Selain itu, berdasarkan formulasi yang tercatat dalam PP. Dalam perhitungan UMK, melibatkan pula pertumbuhan produk domestik bruto atau pertumbuhan ekonomi yang mencakup periode kwartal III dan IV tahun sebelumnya. Selain itu periode kwartal I dan II tahun yang berjalan.

“Untuk mencari UMK yang akan ditetepkan, yakni dengan membagi UMK yang sedang berjalan kemudian dibagi dengan nilai inflasi yang ditambah dengan pertumbuhan produk,” ungkap Jamaludin kepada wartawan, Rabu (19/10/2016).

Dijelaskan Jamal, untuk saat ini, nilai inflasi nasional mencapai 3,07 persen, sedangkan untuk pertumbuhan ekonominya sudah mencapai 5,18 persen. Dengan UMK saat ini yang hanya Rp 1,6 jutaan, jika dibagi dengan jumlah inflasi nasional yang ditambah dengan nilai pertumbuhan ekonomi, maka didapatkan hasil kenaikan yang mencapai sekitar Rp 100 ribu. Sehingga, UMK tahun depan dipastikan mencapai Rp 1,7 juta.

“Untuk angka inflasi dan pertumbuhan ekonomi itu sejatinya sudah ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) RI, melalui surat mereka mengirimkan nominal penetapannya,” tegasnya.

Sementara itu, kata Jamaludin, untuk daerah yang UMK tahun ini masih di bawah nilai Kebutuhan Hidup Layak (KHL), diwajibkan untuk menyesuaikan UMK dengan KHL paling lambat pada 2019 nanti.

“Berdasarkan PP nomor 78/2015 perhitungan UMK yang di bawah KHL berbeda dengan yang sudah disesuaikan dengan KHL. Karena, ada penyesuaian besaran nilai prosentase untuk UMK yang disesuaikan dengan KHL,” tandasnya. (C-13)