MUHAMMAD Ibrahim Al Fatih (kiri) setelah menjadi mualaf, kemarin. Ibrahim mengucapkan kalimat syahadat untuk memeluk Islam di Masjid IAIN Syekh Nurjati.* Fanny/KC

Oleh Fanny Krishna-Kabar Cirebon

MUHAMMAD Ibrahim Al Fatih (23 tahun) mengingat hari sialnya beberapa waktu lalu saat kecopetan di tengah perjalanan menuju Sidoarjo dari Jakarta. Pria ini menggunakan sepeda motor dari Jakarta menuju tanah kelahirannya Sidoarjo dan kecopetan di wilayah Pangenan, Kabupaten Cirebon.
Tapi, siapa sangka setelah peristiwa ini, Ibrahim justru bisa menuju titik spritual terdalam yang pernah dialaminya. Sesaat setelah kecopetan, Ibrahim bertemu dengan seorang warga lokal dan dalam keadaan tidak memiliki uang sama sekali Ibrahim diantar ke kompleks kampus IAIN Syekh Nurjati.
Keesokan harinya, Ibrahim yang tadinya merupakan warga non muslim kemudian menjadi mualaf. Nama Muhammad Ibrahim Al Fatih merupakan nama barunya setelah memeluk Islam, tadinya Ibrahim dikenal dengan nama Jhon Andita Bill Prasili.
Siapa sangka, perjalanan spiritual Ibrahim ini didapatkannya dengan cara yang tidak biasa. Sebab, dirinya pernah belajar teologi di Sanata Dharma Yogya di Jakarta. Salah satu dosen IAIN Syekh Nurjati, Mustofa, yang membimbing kalimat syahadat untuk Ibrahim, sama sekali tidak mengalami kesulitan saat memintanya untuk mengucapkan kalimat syahadat tersebut.
“Saya belajar S2 di Sanata Dharma dan mengambil jurusan teologi. Di jurusan ini, ada penjurusan konsentrasi yaitu Islamology. Jurusan ini khusus mengupas tentang Islam, lama-lama belajar Islam ini sangat mengasyikkan. Salah satunya saya menghapal kalimat syahadat, sehingga saat saya resmi masuk Islam dengan mengucap kalimat ini saya tidak mengalami kesulitan,” kata Ibrahim, kemarin.
Setiap hari belajar Islam di Sanata Dharma, diakui Ibrahim sangat membekas di hatinya. Ketika mengupas beberapa ayat yang membuat keyakinannya akan Islam yang merupakan agama yang benar semakin mengukuhkannya untuk masuk agama ini.
“Di Islamology saya juga belajar tentang keturunan Nabi Muhammad, maka semakin jelaslah hati saya memang ingin memeluk Islam. Saat itu, saya belum resmi masuk Islam, hanya saya sudah hapal kalimat syahadat, sudah bisa salat, sudah bisa membaca Alquran. Empat bulan lalu, setelah saya baca Quran, saya tidur, di dalam mimpi itu ada dua orang. Yang satu wajahnya agak Arab, satu lagi seperti non muslim. Di antara mereka berdua ada cahaya, lalu muncul surat Al Maidah. Saat itu semakin cepat saya ingin masuk Islam,” katanya.
Dalam perjalannya ke Sidoarjo dan tadinya mengalami kesialan di Cirebon, dijadikannya momentum yang tepat untuk berpindah keyakinan. Ibrahim mengatakan, dirinya akan melanjutkan perjalanan ke Sidoarjo untuk menemui sang ibunda. Kepada ibunya, Ibrahim akan mengakui telah memeluk Islam.
“Perjalanan spritual saya cukup panjang, inilah saatnya saya masuk Islam. Selanjutnya, saya akan ke Kantor Kementerian Agama setempat untuk mengurus administrasi perpindahan agama. Kemudian, kepada ibu saya di Sidoarjo pun saya akan mengatakan jika saya sudah masuk Islam, beliau sangat demokratis dan mungkin akan menerima perpindahan agama anaknya,” ucapnya.***