CIREBON, (KC Online).-

Kelangkaan gas 3 kilogram kini hampir merata terjadi di Kota dan Kabupaten Cirebon. Warga di sejumlah kecamatan di Kabupaten Cirebon mengeluhkan pasokan gas 3 kilogram ini dan mulai susah dicari. Kalaupun tersedia, harga gas melambung hingga Rp 25 ribu/tabung.

Kelangkaan gas sendiri terjadi diduga adanya pengurangan volume distribusi gas. Permintaan gas di masyarakat tidak sebanding dengan persediaan. Pengurangan volume distribusi gas 3 kilogram ini dilakukan sebagai strategi untuk memudahkan penjualan bright gas atau gas dengan ukuran 5,5 kilogram berwarna pink yang menyasar warga menengah ke atas yang baru saja diluncurkan pada Agustus lalu.

Selama ini, sudah menjadi rahasia umum jika penggunaan gas melon kerap disalahgunakan, antara lain dibeli juga oleh mereka yang mampu serta digunakan untuk kepentingan industri. Akibatnya, pengguna gas 3 kilogram ini membludak, di sisi lain di Wilayah III Cirebon, Pertamina menyalurkan 4,5 juta gas 3 kilogram per bulannya. Jumlah ini masih kurang jika dibandingkan dengan banyaknya penggunaan gas ini di masyarakat. Untuk itu, secara perlahan masyarakat digiring untuk menggunakan gas 5,5
kilogram tersebut.

Kepala Bidang LPG Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Cirebon, Fauzi Hasan, menjelaskan, pihaknya sudah menerima laporan minimnya pasokan gas 3 kilogram di sejumlah daerah pada pekan lalu.

“Saat ini memang ada peningkatan konsumen yang membuat kelangkaan gas terjadi. Antara permintaan dan ketersediaan tidak sebanding. Entah kenapa ini terjadi secara serentak, silakan terjemahkan sendiri,” kata Fauzi saat dihubungi KC, Kamis (3/11/2016).

Fauzi enggan bicara blak-blakan soal dugaan strategi pengurangan distribusi gas melon ini. Namun, secara lugas, Fauzi membantah jika kelangkaan gas terjadi karena adanya penimbunan atau karena diborong oleh pihak yang mengelola industri.

“Saya tegaskan tidak ada pihak industri yang memborong gas dan juga tidak ada penimbunan. Karena Hiswana Migas meminta pihak agen untuk melaporkan setiap hari terkait gas-gas yang keluar kepada Pertamina, dan itu wajib dilakukan. Sehingga, kalau ada penimbunan dan sebagainya itu akan ketahuan,” ucap Fauzi.

Menurutnya, Pertamina Balongan sudah mendistribusikan gas 5,5 kilogram sebanyak 30 ribu gas ke Wilayah III Cirebon. Secara perlahan, angka penjualan gas ini menunjukkan nilai positif.

“Antara 25 ribu hingga 30 ribu gas 5,5 kilogram, warnanya yang cerah berwarna pink kita harapkan turut menjadi primadona di pasaran, terutama bagi masyarakat menengah ke atas. Apalagi, di situasi kekurangan gas melon, harusnya gas pink ini jadi solusi,” katanya.

Saat ini, tambah Fauzi, Pertamina memberlakukan trade in atau penukaran dua hingga tiga tabung gas 3 kilogram dengan satu tabung 5,5 kilogram.

“Jadi, kita asumsikan kalau masyarakat menengah ke atas yang masih membeli gas melon pastinya membeli lebih dari satu tabung gas. Daripada mereka terus membeli lebih dari satu tabung gas 3 kilogram, lebih baik mereka menukarnya dengan satu tabung gas 5,5 kilogram atau kita istilahkan trade in,” ucapnya.

Operasi pasar

Pertamina sendiri akan memberlakukan operasi pasar murah gas 3 kilogram pada Jumat ini secara serentak di banyak titik. Khusus di Kabupaten Cirebon, Pertamina akan menggelar operasi hampir di semua kecamatan.

Sementara itu, Kamis (3/11/2016), salah satu agen PT Pertamina yaitu PT Harjamukti Makmur menggelar operasi pasar murah gas melon dengan harga Rp 15 ribu/tabung di Kantor Kuwu Desa Balad, Kecamatan Dukupuntang. Di Desa Balad, kelangkaan terjadi hampir dua minggu. Kalaupun masih tersedia, harganya meroket hingga Rp 23 ribu/tabung, padahal Harga Eceran
Tertinggi (HET) hanya Rp 15 ribu/tabung. Kantor Desa Balad langsung diserbu masyarakat sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, pihak agen sendiri memberikan batas pembelian hanya dua tabung per orang.

Namun, warga tidak kehilangan akal, mereka mengantre dengan seluruh keluarga sehingga per keluarga ada yang memborong hingga 20 tabung. Dalam operasi pasar murah ini, pihak agen menyediakan 560 tabung.

Manager PT Harjamukti Makmur Beni Guntoro mengatakan, pihaknya menanggapi permintaan pihak Desa Balad untuk menggelar operasi pasar murah ini.
“Besok (hari ini) juga akan ada lagi operasi serupa di desa lain. Kita jual dengan HET Rp 15 ribu/tabung. Maksimal warga hanya boleh 2 tabung, kita pakai sistem pendaftaran terlebih dahulu,” ucapnya.

Salah satu warga Desa Balad, Nining (46 tahun), yang turut membeli gas 3 kilogram di operasi pasar ini mengatakan, dirinya membeli gas sekaligus 20 tabung sebagai persediaan.

“Kapan lagi tabung gas harganya hanya Rp 15 ribu. Makanya, tadi saya daftarkan anggota keluarga yang lain supaya dapat belinya banyak, karena agennya membatasi dua tabung saja,” katanya.(C-11)