Misteri di Balik Gunung Ciremai

BERBAGAI cerita misteri hingga kini terus menyelimuti Gunung Ciremai. Ya, Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat, gunung dengan ketinggian 3.000 meter lebih ini salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi para pecinta alam, baik dari local maupun mancanegara. Cari cerita sejumlah pendaki, konon Gunung Ciremai satu dari gunung terangker di Indonesia. Banyak sekali cerita-cerita mistis yang dialami pendaki gunung, bahkan ada yang hilang dan tak diketahui jasadnya.

1. Tempat pertemuan para wali
Masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Ciremai meyakini gunung itu adalah lokasi pertemuan para wali sanga. Mitos bahwa gunung itu merupakan tempat pertemuan para wali dan tampaknya relevan dengan arti Gunung Ciremai itu sendiri yang berasal dari kata “cerem/pencereman” atau perundingan/musyawarah.

Banyak orang yang percaya kalau jalur pendakian Gunung Ciremai melalui pos Linggarjati adalah jalur yang dahulu dipakai Wali Songo untuk menuju Batulingga. Konon Wali Songo dalam melakukan perjalanan mendaki Gunung Ciremai dipandu Sunan Gunung Jati, salah seorang anggota wali sanga yang tinggal di Cirebon. Pendakian dimulai dari desa Linggarjati, dan Pos Cibunar adalah tempat pertama rombongan wali sanga beristirahat.

Medan pendakian lewat jalur ini memang terkenal paling sulit dibanding dengan jalur-jalur lain seperti dari Palutungan maupun Majalengka. Konon tersiar kabar jika Sunan Gunungjati sempat kelelahan pas di pertengahan gunung. Sunan Gunungjati akhirnya memutuskan untuk tidak meneruskan pendakiannya dan memilih beristirahat. Ia kemudian mempersilakan rombongan wali sanga untuk meneruskan pendakian dengan ditemani empat orang pengawalnya.

Sunan Gunungjati memilih istirahat sembari duduk bersila di atas batu besar. Batu inilah yang sekarang dikenal dengan sebutan batu lingga. Karena terlalu lamanya duduk untuk berkhalwat, sampai-sampai batu tempat duduk ini meninggalkan bekas dan berbentuk daun waru atau jantung.

Sunan Gunungjati sampai lama di tengah Gunung Ciremai karena sampai Wali sanga sudah turun, Namun sang sunan tidak mau ikut turun dikarenakan malu. Karenanya ada yang menyebutnya Satria Kawirangan.

Di bagian atas dari Pos Batu Lingga ada Pos Sangga Buana, kalau diperhatikan pohon-pohonnya berbentuk unik, karena pucuknya meliuk ke arah bawah semua. Konon para pengawal yang mestinya menemani rombongan wali sanga ternyata juga tidak kuat meneruskan pendakian.
Akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti jejak Sunan Gunungjati, dan sebagai penghormatan kepada sang sunan, mereka membungkukkan badannya ke bawah ke arah Sunan Gunungjati beristirahat. Para pengawal inilah yang konon berubah menjadi pepohonan yang pucuk-pucuknya meliuk ke bawah.

2. Nyi Linggi dan dua ekor macan tutul
Satu mitos yang selalu menjadi perbincangan masyarakat sekitar Gunung Ciremai adalah misteri Nyi Linggi dan dua macan kumbang. Menurut salah satu juru kunci Ciremai, setelah Sunan Gunungjati tidak bertapa di Batu Lingga, maka Nyi Linggi datang ke tempat tersebut menggantikan Sunan Gunungjati.

Namun kedatangan Nyi Linggi ke batu lingga tidak sendirian, ia ditemani dua ekor binatang kesayangannya, yaitu macan tutul. Kedatangan Nyi Linggi ke batu lingga ingin mendapatkan ilmu kedigdayaan.
Tapi sayangnya Nyi Linggi gagal memperoleh ilmu yang diinginkan. Nyi Linggi meninggal dunia di batu lingga sementara pengiringnya, yaitu dua ekor macan tutul itu hilang entah ke mana. Kabarnya setelah peristiwa itu kejadian aneh sering terjadi di sekitar batu lingga, yaitu munculnya sosok Nyi Linggi dan dua ekor macan tutulnya.

3. Singgasana Nyi Pelet
Konon, Gunung Ceremai dipercaya sebagai singgasana kerajaan Nini Pelet. Nini Pelet ini merupakan tokoh yang memiliki kesaktian hebat, khususnya di bidang percintaan. Dia adalah tokoh yang merebut kitab “Mantra Asmara” ciptaan tokoh sakti bernama Ki Buyut Mangun Tapa. Salah satu isi dari ajian dalam kitab tersebut adalah ilmu “Jaran Goyang” yang dikenal ampuh mengikat hati lawan jenis. Uniknya, ilmu itu sampai kini masih dipelajari oleh kebanyakan orang, terutama para paranormal.

Sementara itu, Ki Buyut Mangun Tapa, si pencipta ilmu “Jaran Goyang”, setelah meninggal dimakamkan di Desa Mangun Jaya, Blok Karang Jaya, Indramayu, Jawa Barat. Untuk masyarakat di sekitar makam itu meyakini sering muncul harimau siluman yang dipercaya peliharaan Ki Buyut. Konon, harimau itu sering muncul pada tengah malam, khususnya malam Jumat Kliwon dan Selasa Legi.

3. Tempat bersarangnya tujuh manusia harimau siluman
Adanya tujuh manusia harimau siluman ini terkuak saat salah seorang warga Jalan Cangkring II, Gang Manggarsari, Kota Cirebon, bernama Puah kesurupan seusai bermain ke obyek wisata Linggarjati di Kabupaten Kuningan. Ketika itu, Puah dengan pasangannya melempar-lemparkan kerikil ke arah sebuah pohon besar dan ternyata mengenai makhluk gaib berwujud nenek. Nenek gaib tersebut merasuki tubuh Puah, namun berhasil diusir oleh tetangganya bernama Ruddy.

Selepas nenek gaib itu pergi, masuklah makhluk gaib lain yang menamakan dirinya tujuh manusia harimau siluman dari Gunung Cirebon. Pertarungan antara Ruddy dan ketujuh makhluk itu tak terhindarkan. Enam siluman manusia harimau berhasil diusir, namun rajanya cukup sulit. Namun setelah disiram dengan air hangat dan disabet sapu lidi, raja manusia harimau siluman ini pun takluk dan bersedia meninggalkan tubuh Puah tanpa syarat.

4. Jalak hitam dan tawon hitam
Ketika perjalanan pendaki sudah mencapai Pengalap atau Pos VI, berarti pendakian telah mencapai separuhnya. Pendaki harus berhati-hati jika sudah memasuki Pengalap atau Pos VI. Pengalap berarti jemputan. Di Pos Pengalap setiap pendaki akan didatangi dua binatang yang sampai sekarang masih menjadi misteri keberandaannya yaitu jalak hitam dan tawon hitam. Sampai sekarang tidak ada seorang pun yang tahu mengapa jalak hitam selalu mengiringi pendaki dari Pengalap ke Seruni dan juga tawon hitam yang selalu datang mengganggu.

5. Larangan membuang air seni
Salah satu mitos yang berkembang soal Gunung Ceremai adalah larangan membuang air seni ke tanah. Biasanya pantangan itu diberitahu oleh kuncen Gunung Ceremai kepada para pendaki sebelum melanjutkan perjalanannya.

Konon, jika tak dituruti akan mendapat bala sehingga para pendaki yang mempercayai pantangan tersebut membuang air seninya ke dalam botol atau plastik. Karenanya tak heran sepanjang jalur pendakian Gunung Ciremai banyak dahan dan ranting pohon yang digantungi plastik atau botol plastik yang berisi air seni.

Itulah sebagian kecil mitos-mitos tentang Gunung Ciremai. Masih banyak mitos lain yang beredar di masyarakat seperti mitos Pos Kuburan Kuda, yang dipercaya merupakan kuburan dua kuda tentara Jepang di masa penjajahan. Jika melewati daerah ini sering terdengar ringkikan kuda tanpa ada wujudnya.

Ada pula mitos Pos Papa Tere yang dianggap angker karena pernah terjadi pembunuhan terhadap seorang anak oleh ayah tirinya. Mitos Pos Sangga Buana dan Pengasungan juga dikabarkan angker karena sering terdengar derap langkah kaki para serdadu Jepang. Menurut cerita, tempat ini dulunya menjadi tempat pembuangan tawanan perang dari Indonesia.

Belum lagi mitos-mitos yang dikisahkan dari pengalaman para pendaki gunung seperti penampakan kuntilanak, orang tinggi besar, kakek-kakek zaman dulu, suara aneh angin badai, semua korek api tidak bisa menyala dan masih banyak lagi kejadian tidak masuk akal lainnya sehingga yang menimbulkan mitos-mitos baru.(KBI/Net)