MAJELIS Hakim Pengadilan Negeri Kota Cirebon, akhirnya menjatuhkan hukuman mati dalam sidang kasus perdagangan narkoba jaringan Internasional, Rabu (11/4/2017).* Imam/KC

CIREBON, (KC Online).-

Sebanyak enam terdakwa pengedar narkoba dan obat-obatan terlarang divonis pidana mati oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri, Kota Cirebon. Vonis berupa pidana mati tersebut dibacakan Ketua Majelis Hakim, Moch. Muchlis, saat memimpin sidang putusan atas enam terdakwa pengedar narkoba dan obat-obatan terlarang, Rabu (11/1/2017).

“Tidak ada hal yang meringankan dari terdakwa,” kata Moch. Muchlis dalam amar putusannya.

Sehingga, majelis hakim memutuskan untuk menjatuhkan vonis pidana mati terhadap enam terdakwa pengedar narkoba tersebut.
Hal yang memberatkan lainnya menurut majelis hakim, yaitu keenamnya tidak mendukung program pemerintah dalam hal pemberantasan tindak pidana narkotika dan obat-obatan terlarang, apalagi barang yang mereka edarkan bisa merusak mental genarasi muda.
“Mereka juga termasuk dalam jaringan internasional yang berada di Indonesia,” kata Muchlis.

Keenamnya juga telah menerima upah atas perbuatan yang mereka lakukan. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, majelis hakim berpendapat hukuman yang diberikan sudah setimpal dengan perbuatan yang mereka lakukan.

Ada pun ke enam terdakwa yang divonis mati-mati masing-masing atas nama M Rizki (30 tahun), Jusman (52 tahun), Ricky Gunawan (34 tahun), Sugianto alias Acay (29 tahun), Yanto alias Abeng (50 tahun) dan Karun alias Ahong (40 tahun). Dari keenam terdakwa tersebut, tiga di antaranya ternyata masih menjalani hukuman di LP Narkotika Jakarta dan LP Tanjung Gusta, Medan. Mereka masing-masing atas nama Ricky Gunawan, Karun dan Yanto.

Keenamnya telah terbukti bersalah melanggar Pasal 114 ayat 2 junto Pasal 132 ayat 1 UU No. 35 Tahun 2009 tentang Larangan Peredaran Narkotika dan Obat-obatan Terlarang.

Sedangkan terhadap seorang terdakwa lainnya atas nama Fajar Priyo Susilo (25 tahun), majelis hakim memvonis hukuman 10 tahun penjara potong masa tahanan. Hukuman yang berbeda ini dikarenakan peran Fajar tidak terlalu banyak dalam jaringan ini. Ia hanya membantu mengepakkan barang namun mengetahui jika barang tersebut merupakan barang terlarang.

Pertimbangan lainnya, Fajar masih muda dan masih bisa memperbaiki perilakunya di masa depan. Vonis yang diberikan kepada Fajar jauh lebih ringan dibandingkan tuntutan dari tim Jaksa Penuntut Umum (JPU). Fajar sebelumnya dituntut penjara seumur hidup bersama-sama dengan M Rizki.

Selain pengedar narkoba, masih dalam kasus yang sama juga ada dua terdakwa yang dijerat dalam pasal pencucian uang. Masing-masng atas nama Hendri Unan dan Gunawan Aminah. Mereka menurut majelis hakim telah terbukti secara sah melanggar Pasal 3 junto Pasal 10 UU No. 8 Tahun 2010 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

Keduanya divonis hukuman delapan tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Jika tidak bisa diganti, maka akan ditambah dengan hukuman kurungan 6 bulan penjara. Vonis majelis hakim ini lebih rendah dibandingkan tuntutan dari tim JPU yang menuntut 12 tahun penjara. Sementara untuk dendanya hanya sebesar Rp 10 juta untuk kedunya. Selain itu, uang yang sudah terkumpul dengan nilai sekitar Rp 600 juta dari hasil penjualan narkoba disita untuk negara.

Kasi Pidum Kejaksaan Negeri Kota Cirebon, Asep Sunarsa, saat dikonfirmasi usai persidangan mengaku pikir-pikir atas semua vonis yang dijatuhkan. “Baik vonis yang dijatuhkan kepada pengedar narkoba maupun vonis yang dijatuhkan terhadap dua terdakwa yang melakukan pencucian uang,” kata Asep.

Sementara itu kuasa hukum terdakwa, Budi Sampurno, menyatakan tim kuasa hukum juga menyatakan pikir-pikir atas putusan yang diambil oleh majelis hakim tersebut. “Tapi secara pribadi saya keberatan dengan vonis yang dijatuhkan majelis hakim,” kata Budi usai persidangan.

Menurut dia, karena majelis hakim tidak mempertimbangkan adanya peran orang lain dalam putusannya. “Masih ada orang lain yang saat ini dijadikan DPO. Yaitu atas nama aseng dan Asu. Keduanya yang sebenarnya berperan sebagai pembeli dan penjual. Jika keduanya tertangkap, Budi yakin vonis yang dijatuhkan kepada klien mereka tidak akan seberat itu,” ujar Budi.

Tidak hanya itu, lanjut Budi, baik tuntutan maupun vonis yang dilakukan sangat dipengaruhi oleh tekanan dari pihak luar. Seperti diketahui sejumlah organisasi massa selalu ramai mendatangi persidangan bahkan menuntut seluruh terdakwa divonis hukuman mati.(C-16/C-18)