INDRAMAYU, (KC Online).–

Sedikitnya 700 hektare areal tambak di Blok Waledan, Desa Lamarantarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, hancur diterjang banjir. Total kerugian yang harus ditanggung para petambak mencapai ratusan juta rupiah.

karaoke-room

Pantauan KC, ratusan hektare tambak, yang budidayanya didominasi bandeng, berubah layaknya bentangan sungai yang luas. Hal itu terjadi setelah datangnya banjir yang berasal dari kiriman Sungai Cimanuk wilayah hulu dan diperparah datangnya banjir air pasang air laut (rob).

Banjir tersebut datang secara tiba-tiba pada Minggu (8/1/2017) lalu. Hingga Rabu (11/1/2017), banjir masih belum sepenuhnya surut. Ikan bandeng yang dibudidayakan para petambak pun hanyut terbawa banjir.

‘’Gara-gara banjir kiriman sungai dan bersamaan datangnya air pasang laut, bandeng yang saya pelihara di tambak jadi pada kabur,’’ keluh Rangsih (40) petambak Blok Waledan, Rabu (11/1/2017).

Rangsih menyebutkan, umur bandeng yang dibudidayakannya kini sudah mencapai empat bulan. Tak sedikit modal yang telah dikeluarkannya untuk memelihara bandeng hingga mencapai umur tersebut. Bandeng tersebut dibudidayakan di lahan tambak seluas empat hektare.

Rangsih mengaku telah mengeluarkan modal sekitar Rp 5 juta per hektare. Modal tersebut digunakan untuk membeli bibit bandeng dan biaya pemeliharaannya selama empat bulan terakhir.

‘’Tadinya saya sangat berharap bisa meraup keuntungan. Tapi ternyata sekarang bandengnya malah kabur terbawa banjir,’’ tutur Rangsih.

Hal yang sama diungkapkan petambak lainnya, Casim (42). Dia mengatakan, telah kehilangan seluruh ikan bandeng di lahan tambak seluas enam hektare miliknya. ”Sangat sedih dan kecewa. Semua bandeng kita kabur, hanyut terbawa banjir,” kata Casim.

Casim menjelaskan, ikan bandeng yang dipeliharanya itu telah berumur lima bulan. Menurut rencana Ikan bandeng tersebut akan dipanen sebulan lagi. Akibatnya, dia mengalami kerugian yang sangat besar.

Saat ini, baik Rangsih, Casim maupun para petambak lainnya di blok tersebut sedang berusaha membersihkan areal tambak yang rusak dan kotor tersapu banjir. Mereka pun berupaya meninggikan tanggul tambak agar tak mudah mengalami limpas ketika banjir tiba.

Berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanla) Kabupaten Indramayu, luas lahan tambak di Kabupaten Indramayu mencapai 22.514 hektare. Selain bandeng, komoditas unggulan yang dibudidayakan di areal tambak tersebut berupa udang, nila, lele, gurame, dan rumput laut.

Pendangkalan

Kepala Diskanla Kabupaten Indramayu, AR Hakim mengakui, banyaknya saluran tambak yang mengalami kerusakan. Dari total panjang saluran tambak di Kabupaten Indramayu yang mencapai 468,6 kilometer, hanya ada 180,6 kilometer yang layak digunakan.

‘’Sepanjang 288 kilometer lainnya dalam keadaan rusak atau tidak layak digunakan,’’ kata Hakim, saat ditemui akhir Desember 2016 lalu.

Kondisi saluran tambak yang mengalami kerusakan itu di antaranya terlihat di Blok Waledan, Desa Lamarantarung, Kecamatan Cantigi. Di titik tersebut, saluran tambak yang merupakan saluran tersier mengalami pendangkalan.

Pendangkalan itu membuat saluran tambak tak mampu menampung air secara optimal. Akibatnya, saat gelombang pasang air laut (rob) datang, air di saluran tambak jadi melimpas dan menghantam tanggul tambak.(Odok)

banner-dishub