SAID (68 tahun), warga Desa Weru Lor, Kecamatan Weru, berdiri di depan rumahnya yang kini sedang diperbaiki.* Fanny/KC

Oleh Fanny Krishna-Kabar Cirebon

 

HATI Said (68 tahun) senang tidak terkira. Warga Blok Kenduruan, Desa Weru Lor, Kecamaran Weru, Kabupaten Cirebon, yang sempat diberitakan KC dua hari yang lalu ini membayangkan tubuh rentanya tidak perlu lagi berbaring di atas kasur lusuh.

Ya, kini dirinya serta istrinya Pia (45 tahun) kebanjiran bantuan, bahkan beberapa ada yang ditolaknya. Seminggu yang lalu, Said masih tinggal di sebuah gubuk yang tidak layak di pemakaman umum desa tersebut, di dalam gubuk ini terdapat sebuah ranjang tua dengan kasur lusuh. Setiap kali masuk ke gubuknya, tercium aroma minyak tanah.

Maklum, Said masih menggunakan lampu cempor akibat ketiadaan listrik di gubuknya ini. Namun kini, ada donatur yang bersedia membetulkan gubuknya dan untuk pertama kalinya sejak belasan tahun Said dan istri bisa menikmati listrik meski masih harus menyambungkan ke rumah tetangganya.

“Ada yang menyumbang kasur empuk, jadi nanti bisa menggantikan kasur saya yang memang sudah tipis,” ucap Said saat ditemui di kediamannya, Minggu (19/2/2017).

Meski masih dengan luas yang sama, namun Said bersyukur sebab gubuknya kini menjadi lebih layak. Dulu masih beralaskan tanah, tapi kini sudah dilapis semen. Dan dulu dinding gubuknya terbuat dari bilik bambu, kini telah berubah menjadi tripleks.

Beberapa bantuan dari tetangga sekitar yang juga kini berdatangan, terpaksa ditolaknya. Sebab, para tetangga ini ada yang memberikan lemari namun ukurannya tidak akan cukup untuk dimasukkan ke dalam kediamannya ini.

“Yah terpaksan saya tolak. Bukannya sombong, tapi lemarinya memang tidak masuk cukup di dalam tempat saya ini. Sebab, meski kini sudah diperbaiki tapi saya sudah ada perjanjian dengan pemilik tanah untuk tidak menambah luas bangunan dan bangunannya jangan permanen. Segini juga saya sudah sangat bersyukur,” ucapnya.

Soal listrik, dirinya mengaku senang bisa kembali menikmati listrik. Dulu, di rumah pertamanya yang sudah dijual, dirinya sempat menikmati listrik. Namun, setelah dijual dan pindah ke gubuknya, Said dan istri terpaksa harus membiasakan hidup tanpa listrik.

“Jangankan untuk membayar listrik, untuk makan saja susah. Kini, mungkin nanti akan ada membayari listrik setiap bulannya. Saya berterima kasih sekali kepada penolong saya ini, bagaikan didatangi malaikat baik hati,” katanya.

Lalu, siapakah sebenarnya penolong Said yang dianggapnya sebagai malaikat baik hati ini? Kuwu Weru Lor, Ibnu Rochman, mengungkapkan, belum lama ini dirinya sempat didatangi beberapa orang. Kedatangan mereka tak lain ingin membantu Said setelah ramai diberitakan seorang tukang bersih makam yang tinggal di gubuk tidak layak.

“Mereka tidak ingin membuka data diri, dan mereka hanya ingin disebut hamba Allah. Ya sudah saya tidak mengorek lebih jauh lagi, akhirnya mereka membantu perbaikan gubuk Pak Said sampai selesai. Mungkin dalam beberapa hari ke depan, perbaikan sudah selesai,” ujar Ibnu.

Ibnu pun mengaku sangat senang, sebab pihaknya tidak harus menunggu lebih lama lagi bantuan dari Pemerintah Kabupaten Cirebon.

“Jadi kan meringankan Pemkab Cirebon juga. Akhirnya Pak Said kini tinggal di tempat yang lebih layak,” katanya.

Said sendiri masih tetap ingin jadi tukang bersih makam-makam yang ada di Blok Kenduruan tersebut. Menurutnya, dirinya tidak lagi melihat jumlah pemberian keluarga yang meninggal, tapi lebih kepada pengabdian terhadap sesama.

“Mungkin sampai meninggalnya saya dan istri, saya akan tetap menjadi tukang bersih makam-makam ini. Kalau ada yang memberi ala kadarnya ya saya terima sebagai jasa membersihkan makam keluarga mereka, tapi kalau tidak diberi pun ya tidak masalah karena saya tidak akan memaksa. Intinya, pengabdian lebih kepada sesama. Tidak mengapa, karena usia saya juga sudah tua dan sudah saatnya melakukan hal yang lebih bijak lagi,” tuturnya.***