INI adalah sekelumit kisah permainan anak-anak yang nyaris punah di zaman teknologi gadget ini, yakni permainan jelangkung atau jailangkung. Ya, permainan yang hingga kini masih mampu menarik minat masyarakat jika dikemas dalam bentuk film komersial.

SISMADI tak pernah menyangka jika keseringannya bermain jaelangkung membawa petaka bagi dirinya. Peristiwa yang ia alami beberapa tahun lalu tersebut hingga kini masih dikenangnya. Sebab, peristiwa itu nyaris merenggut nyawanya karena kerap diganggu makhluk halus berwujud seperti jelangkung.

karaoke-room

“Dulu, saya dan teman-teman sering bermain jelangkung dan biasanya dilakukan persis setiap malam Jumat. Supaya cepat menarik makhluk halus itu, kami menyediakan berbagai keperluan ritual seperti kembang warna tujuh, minyak misik, menyan atau dupa dan nampan sebagai tempat menyimpan berbagai persyaratan ritual. Bahkan kami juga menyediakan rokok dua batang, kopi, air putih dan kelapa muda,” ujar Sismadi kepada penulis, Kamis (16/3/2017).

Jika malam Jumat tiba, Sismadi dan beberapa rekannya segera menyiapkan syarat yang dibutuhkan. Ia juga menyediakan kayu dua batang dan batok kelapa plus kain putih sebagai penutup boneka jelangkung tersebut. Tempat yang dipilih adalah di bawah pohon asem tua yang tak jauh dari rumahnya di daerah Kampung Kebon Kelapa atau yang sekarang disebut daerah Cangkring, Kota Cirebon.

“Supaya tambah ramai, saya mengajak teman-teman lain untuk ikut menyaksikan dan umumnya mereka bersedia karena penasaran dengan ritual ini. Terlebih teman-teman saya menganggap ritual pemanggilan jin ini tidaklah berbahaya atau tidak ada efek negatifnya,” ujar dia.

Memang, selama melakukan ritual pemanggilan hantu jelangkung tidak ada persoalan berarti. Setelah acara bubar, semua bisa kembali ke rumah masing-masing tanpa ada gangguan sedikit pun. Namun kali ini ada peristiwa yang sangat menyeramkan yang menimpa Sismadi hingga nyaris kehilangan nyawanya.

“Waktu itu, seperti biasa saya dan teman-teman berkumpul di bawah pohon asem. Ritual dimulai sekitar pukul 22.00 WIB. Kami berbagi tugas, saya sebagai pemegang boneka jelangkung, Otong yang membaca mantera dan Ato, teman lainnya membakar menyan. Kami juga menyematkan pensil atau spidol di tangan jelangkung berikut media kertasnya sebagai alat untuk mengetahui nama dan penyebab meninggalkan hantu yang dipanggil,” ungkapnya.

Setelah mantera-mantera diucapkan, lanjut Sismadi, tiba-tiba angin besar muncul dan menghempas dedaunan pohon asem dengan cukup keras. Meski demikian, Sismadi dan rekan-rekannya tetap tak bergeming dan terus melanjutkan proses pemanggilan hantu jelangkung.

Tiba-tiba boneka yang dipegang Sismadi berguncang cukup keras. Kemudian perlahan tapi pasti, tangan boneka mulai menyebutkan namanya. R…I…N…I… Penulisan itu setelah Otong menanyakan nama jelangkung yang datang. Otong kemudian menanyakan kembali mengapa ia meninggal dunia. Tangan jelangkung itu kembali menuliskannya di atas kertas, B…U…N…U…H D…I…R…I….

Suasana semakin mencekam karena ternyata dari atas pohon asem itu terdengar suara perempuan yang tertawa cekikikan… Hihihihi….Hihihihi….Hihihihiiiiiii…. Kontan saja semua orang yang terlibat ritual lari tunggang langgang. Sismadi yang semula berusaha tenang dan berani pun tak kuasa menahan rasa takutnya. Ia langsung membanting boneka jelangkung itu dan segera kabur melarikan diri.

“Saya lari sekencang-kencangnya. Saya pulang ke rumah karena takut kuntilanak itu mengejar saya. Malam itu saya tidak bisa tidur sampai pagi. Saya ketakutan sekali, khawatir kuntilanak itu mendatangi saya di kamar dan mencekik leher saya,” ungkapnya.

Malam berikutnya, teror sang kuntilanak pun mulai dirasakan Sismadi. Ia kerap diperlihatkan sosok kuntilanak di dalam atau saat berada di luar rumahnya. Bahkan ketika bangun tidur pun, kuntilanak itu sudah berada di sampingnya.

“Mukanya pucat, putih sekali seperti tembok yang bercat putih. Rambutnya terurai panjang. Sorot matanya tajam dan mulutnya seperti menyeringai. Kuku tangannya panjang-panjang dan seolah diarahkan ke leher saya. Dia kelihatan marah sekali karena mungkin saya dianggap menghina dirinya karena membanting bonekanya ke tanah dengan sangat keras,” ujar Sismadi.

Orang pintar

Sismadi sempat menceritakan kepada keluarganya, namun anehnya tidak ada satupun anggota keluarga yang melihatnya. “Saya malah dianggap gila. Saya sering menjerit-jerit sendiri. Saya sering mengingau sendiri kalau sedang tertidur dan saya sering menangis karena tak tahan dengan teror kunti tersebut dan pernah suatu ketika saat bangun tidur wajahnya persis ada di hadapan saya. Bagaimana saya tidak dibuat gila dan saya nyaris bunuh diri karena sudah tak tahan dengan gangguan kunti itu,” tuturnya.

Melihat anaknya yang nyaris gila, akhirnya keluarga Sismadi mencari orang pintar yang sanggup menghilangkan teror kuntilanak tersebut.

“Kemudian saya dibawa keluarga ke daerah Kuningan. Saya di saya diobati sama kiai yang punya pesantren. Saya dimandiin dan kemudian diberi air putih. Saat dimandiin saya merasa seperti ada yang lepas dari tubuh saya, kata pak kiai, kuntilanak itu sudah bersemayam di dalam tubuh saya jadi setiap saat bisa menampakkan diri dan mengganggu saya kapanpun. Lalu saya diminta untuk tidak lagi main jelangkung dan sejak saat itu saya benar-benar kapok dan nggak mau lagi main yang mengundang makhluk halus apapun,” terangnya.(Ki Buyut Ireng)

duo-dolly