CIREBON, (KC Online).-

Peran ganda perempuan di luar rumah maupun di dalam rumah diyakini merupakan sumber kekuatan perempuan. Peran ganda inilah yang tidak gampang ditemukan di dalam diri laki-laki. Saat ini, kemampuan menjalankan peran ganda tersebut berada di titik terpuncaknya.

karaoke-room

Di satu sisi sebagai wanita karier yang mampu mendobrak peran laki-laki, di sisi lain sebagian besar perempuan sukses menjalankan peran istri maupun peran ibu bagi anak-anaknya.

Di kantornya dia bisa memimpin rapat, terdepan dibandingkan karyawan lain, dan di rumahnya dia menjalankan tugas domestik, yaitu mencuci piring, mencuci baju, menemani anak-anaknya bermain, dan menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Inilah gambaran Kartini era sekarang.

Memasuki era saat ini, bisa jadi peran perempuan jauh melampaui keinginan Kartini itu sendiri. Kiprah perempuan masa kini mulai banyak diperhitungkan. Terbukti banyak dari mereka yang menduduki posisi penting di berbagai bidang.

Begitu pun Kartini-kartini Kota Wali. Mereka memiliki kemampuan dan semangat untuk membangun daerahnya di bidangnya masing-masing. Semangat dan dedikasi tinggi untuk membangun daerahnya terlihat oleh Kartini-kartini Kota Wali.

Seperti sosok Eti Herawati yang menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon dari Partai Nasdem. Eti menilai,  sosok Kartini menjadi semangat baginya untuk bisa berkiprah sesuai tugasnya sebagai legislator.

“Wanita harus sadar karena dalam mengisi kemerdekaan  tidak hanya diisi oleh kaum Adam. Kekurangan potensi dalam pengisian struktur dalam kiprahnya di dunia politik harus ditingkatkan,” ujar Eti.

Sementara Lili Eliyah yang duduk sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Cirebon dari Partai Golkar mengatakan, aplikasi perjuangan RA Kartini sangat berpengaruh banyak dalam meningkatkan peran serta perempuan di kancah pembangunan. Optimalisasi peran perempuan pada pentas perpolitikan bangsa untuk menghadapi tantangan zaman harus menjadi kesadaran. Penyiapkan regenerasi khsusnya kaum hawa untuk turut aktif dan tidak tabu akan dunia politik harus dibina secara berkelanjutan. Bahkan undang-undang telah mengatur bahwa peran serta perempuan dalam kancah perpolitikan harus dilibatkan.

“Menyiapkan generasi muda perempuan untuk lebih bagus lagi perlu dibina terus. Mengingat, kali ini nyatanya masih banyak bangku kosong bagi kaum perempuan yang belum terisi dengan maksimal,” kata Lili.

Fitria Pamungkaswati yang menjadi anggota DPRD Kota Cirebon dari PDIP memaparkan, peran serta perempuan dalam kancah politik di Kota Cirebon, saat ini sudah  sangat luar biasa.  Terbukti di wilayah

Cirebon hampir setiap dapil, perempuan-perempuan sudah tampil di dalamnya.

Sehingga, dengan terbentuknya generasi perempuan yang luar biasa ini diharapan dapat lebih baik lagi. Baik dalam tugas, tupoksi dan juga dalam peran kancah berpolitik sudah maksimal yang terbukti kuota yang disediakan sebesar 30 persen sudah terpenuhi.

“Zaman memang sudah berubah. Dengan buku terbitan RA Kartini, yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang, memang sangat terasa saat ini. Karena, memang pemerintah telah memberikan kebebasan itu

dan harus jadi penunjang dan berperan didalamnya,” ungkapnya.

Sementara itu, ada juga sosok perempuan yang kini menjadi Ketua Umum KONI Kota Cirebon, Wati Musilawati. Menurutnya, makna peringatan Hari Kartini tak cukup hanya dilakukan setiap 21 April. Namun, menurutnya, sebagai wanita peringatan Hari Kartini sudah melakukannya setiap hari. Sebab, kaum wanita memerankan sosok yang lebih dari kapasitasnya.

Wati mengatakan, peran wanita yang berkeluarga, baik sebagai istri dari suaminya maupun ibu dari anak-anaknya itu sudah otomatis berjalan sebagai sosok kartini masa kini. Sehingga, makna kartini itu

dijalankan dalam kehidupan rumah tangga. Sebab, langsung diaplikasikan lantaran memiliki peran banyak.

“Di kehidupan rumah tangga peran tidak kalah dengan wanita karir. Kerjanya tidak terbatas, dari pagi ke pagi, itu kan sudah lebih dari apapun. Dari tangan para istri lahir orang-orang berprestasi,” katanya, Kamis (21/4/2017).

Ia mengatakan, setiap wanita punya peran penting dalam kehidupan. Situasi tidak pernah mengabaikan peran perempuan. Menurutnya, di posisi apapun semua perempuan adalah Kartini.

“Dengan peringatan Hari Kartini ini, membuat makin terpacu untuk terus meningkatkan prestasi olahraga Kota Cirebon. Tidak ada yang instan dalam memperjuangkan sesuatu. Mulai dari lingkup terkecil berupa rumah tangga, hingga lingkup yang lebih besar mencakup orang banyak,” ujarnya.

Wanita kerap dipandang memiliki tenaga yang lebih lemah dibanding pria. Bahkan, dalam dunia olahraga seolah wanita diberikan ruang di cabang olahraga tertentu. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Wati Musilawati.

Ia tampil menjadi sosok yang menahkodai Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Cirebon. Mengordinir 35 pengurus cabang olahraga dan dua badan fungsional demi kemajuan prestasi dunia olahraga di Kota Cirebon. Bahkan, ia pun berprofesi sebagai notaris andal.

 

Belum lagi menjadi ibu bagi anak-anaknya dan istri bagi suaminya. Sekilas, seolah biasa saja dan tak ada yang istimewa. Namun, jangan kira melakukan semua kegiatan tersebut secara bersamaan semudah membalikkan telapak tangan.

“Kalau ditanya capek tidak, ya jelas capek. Tapi, kalau dilakukan dengan kordinasi tidak akan capek. Kuncinya kerjasama dan lakukan semuanya dengan hati senang,” pungkasnya.

Semakin menguat

Di Kabupaten Cirebon, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Cirebon, Hj. Wahyu Tjiptaningsih menyebutkan, perempuan yang dimaksud Kartini setara dengan laki-laki adalah perempuan tahan banting.

Ayu, sapaan akrabnya, percaya betul peran perempuan tidak sesederhana seperti dipikiran banyak orang. Perannya akan semakin menguat saat dia bisa memotivasi keluarganya.

“Keluarga itu kelompok terkecil di masyarakat. Perempuan di dalamnya harus tahan banting, dialah ‘cinta pandangan pertama’ anak laki-lakinya karena diharuskan memberikan pendidikan di awal-awal kehidupannya, terus sampai ke usia dewasa,” ujar Ayu.

Kartini zaman sekarang, tukas Ayu, memang perannya lebih kompleks. Di satu sisi dia harus bisa mengaktualisasikan perannya, di sisi lain dia harus mendidik keluarganya.

“Sangat kompleks. Tapi peran perempuan memang begitu, yang saya kagumi saya melihat sebagian besar perempuan mampu menjalaninya, bahkan seorang ibu di kampung sekalipun,” ucapnya.

Sebagai ketua TP PKK yang sering berkeliling, Ayu hafal betul karakter tiap perempuan. “Semuanya sudah melampaui Kartini itu sendiri. Saya bangga, para perempuan kini banyak yang lebih percaya diri. Terutama semangat dalam membangun kualitas keluarganya,” katanya.

Sementara Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon Hj Yuningsih mengatakan, jumlah kaum wanita yang menduduki posisi wakil rakyat menunjukkan angka terbaiknya. Sebab,  kini sudah memenuhi 30 persen kuota perempuan. Namun, jumlah kursi perempuan yang sudah memenuhi secara kuantitas ini diharapkan turut meningkat dari sisi kualitas.

Yuningsih menyebutkan, para perempuan yang menghiasi wajah DPRD diharapkan jangan hanya menjadi pemanis belaka, namun lebih dari itu harus turut aktif dalam menyuarakan kebijakan yang lebih pro terhadap masyarakat, terutama terhadap kaum perempuan itu sendiri.

Lurah Kemantren, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, Ike Sri Agustina menilai, emansipasi wanita di era sekarang sudah lebih baik. Khususnya di lingkungan pemerintahan yang menduduki jabatan pun sudah diakomodir, meski menurutnya  sejauh ini masih kurang dan perlu untuk ditambah lagi.

“Karena memang wanita itu sebagai penyanggah ya? Tanpa wanita, lelaki tidak bisa apa-apa. Cuma memang tetap harus memperhatikan kodratnya sebagai perempuan,” kata Ike.

Ia mencontohkan, dirinya yang sebagai perempuan karir, tetap harus tahu diri bahwa dirinya adalah sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya. Yang artinya, kata dia, sebagai seorang perempuan dirinya pun mampu menempatkan tupoksi sesuai tempatnya.

“Jadi emansipasi wanita yang dicetuskan oleh Ibu Kartini ini memang sangat mendukung sekali bagi kaum perempuan untuk lebih berkarya, serta memotivasi diri bahwa kita bukan kaum yang lemah, kita adalah perempuan kuat yang serba bisa segalanya,” ujar Ike.

Lebih lanjut disampaikannya, dengan semangat emansipasi wanita, untuk era sekarang sudah tak zamannya lagi perempuan berkutat pada sumur, kasur, dan dapur saja. Namun katanya, kaum perempuan harus bisa berkarya dan berkiprah. Sebab aku dia, lahirnya seorang anak yang cerdas pun, tak lain lebih didominasi oleh gen dari seorang ibu.

“Jadi wanita di Indonesia itu saya yakin mereka pintar, mereka cerdas. Hanya saja masih kurang adanya peluang dan kurangnya motivasi,” ujar perempuan yang memiliki dua orang anak ini.

Anggota DPRD Kabupaten Cirebon, Dian Hernawa Susanti menilai, emansipasi wanita di daerahnya dalam kedudukan di legislatif maupun eksekutif, meski tak seperti zaman dulu yang masih belum banyak

mengakomodir perempuan, akan tetapi masih kurang. Maka, kata dia, diharapkan perempuan harus lebih memiliki semangat tinggi dalam menggapai cita-citanya.

“Saya harapkan juga semoga ada Kartini-Kartini modern yang jauh lebih maju ke depan. Bukan berarti menghilangkan sosok Ibu Kartini yang sebagai sosok teladan, tapi lebih berwawasan serta mempunyai sikap idealis bahwa perempuan juga bisa melakukan apa yang bisa dilakukan laki-laki,” kata Santi.

Bahkan, kata perempuan yang juga sebagai anggota Komisi IV dari Fraksi PDIP Perjuangan di DPRD Kabupaten Cirebon ini, tindak pelecehan terhadap perempuan di daerahnya pun masih terbilang sangat tinggi. Jadi menurutnya, cita-cita emansipasi wanita yang digalakkan Ibu Kartini masih belum sepenuhnya dirasakan.

“Hargailah sosok perempuan bukan sebagai objek pelengkap. Perempuan wajib dijunjung tinggi dan dihormati,” ungkap Santi.

Ia yang juga sebagai Ketua Caruban Nagari ini melanjutkan, meski pun kodrat perempuan sebagai ibu dan istri. Namun perempuan juga mempunyai hak untuk bisa berkarya atau lebih maju tanpa harus meninggalkan kodratnya.

“Maka tentunya, perempuan-perempuan harus mampu dan siap mengisi segala lini. Baik di bidang politik, pendidikan, kesehatan, seni-budaya, maupun bidang-bidang lainnya. Jadilah Kartini yang bermartabat dan istiqomah,” kata Santi.(C-11/C-13/C-18/C-19)

 

banner-dishub