MAJALENGKA, (KC Online).-

Sejumlah petani di desa Biyawak, Panyingkiran dan Pasiripis serta Kertawinangun mengeluhkan serangan keong mas dan ulat tanah (sunda:gaang) serta kepiting sawah yang menyerang tanaman padi yang baru ditanam hingga gundul.

karaoke-room

Petani di wilayah tersebut terpaksa banyak yang menanam ulang dengan bibit baru karena sebagian tanaman mati. Ada pula petani yang berupaya membasmi hama tersebut dengan menebar dedak dicampur obat agar hama memakan dedak yang sudah dicampur obat-obatan tersebut.

Itu seperti yang dilakukan Soleh, petani di Desa Kertawinangun. Sambil sejumlah pekerja menanam padi dia berupaya terus menedar dedak di pematang sawah dan lahan-lahan lainnya pinggir pohon berada di tengah sawah yang diduga menjadi tempat bersarang ulat tanah dan kepiting.

“Kalau tidak ditebari dedak seperti ini serangan hamanya sangat tinggi, padi yang baru ditanam akan habis sehingga harus ada bibit cadangan. Dengan dedak, diperkirakan ulat tanah yang keluar sebelum makan batang padi akan memakan dedak yang sudah dicampur racun dan akhirnya mati,” ujar Soleh.

Sedangkan di Desa pasiripis dan Biyawak serangan paling tinggi adalah keong mas. Keong muncul setiap hari terlebih bila usai hujan, setiap petani setiap pagi bis memperoleh hingga satu karung atau bahkan lebih. Dari luas satu hektaran sawah menurut Dana bisa diperoleh hingga 1 kw lebih keong mas.

“Setiap pagi petani memunguti keong, apalagi bila usai hujan deras keong sangat banyak. Akibatnya tanaman padi pun jadi gundul. Saya saja sekarang lagi menanami kembali di tempat-tempat yang gundul,” ujar Dana disertai istrinya.

Sangat cepat

Serangan keong ini lebih tinggi dibanding tahun kemarin, hal itu menurut Dana, diduga karena musim hujan terjadi sepanjang tahun sehingga perkembangbiakan keong mas sangat cepat. Dari satu keong bila ratusan bahkan ribuan anak jadi wajar bila sekarang serangannya sangat tinggi. “Semalam tidak hujan jadi keong tidak sebanyak kemarin,” ungkap Dana.

Akibat serangan keong mas petani di Desa panyingkiran, menurut Aep, banyak yang kekurangan bibit padi. Malah banyak petani yang terpaksa memunguti bibit yang tumbuh di sawah atau kebun bekas panen atau diistilahkan petani setempat ngadaut atau sireura. Ada pula petani yang membeli bibit kepada petani lain yang masih memiliki cadangan bibitnya dengan harga Rp 2.500 per ikat.

Menurut Rohim, petani lainnya, kurangnya bibit padi ini selain akibat serangan hama keong juga banyak persemaian yang rusak karena diguyur hujan deras secara terus menerus sehingga bibit yang baru tumbuh tunasnya langsung mati.

Serangan hama serupa pernah terjadi beberapa tahun lalu juga akibat curah hujan yang cukup tinggi sehingga keong berkembang biak dengan sangat cepat. Akibatnya tanaman padi yang baru ditandur habis di makan. “Gaang makan akan padi, keong makan batangnya demikian juga dengan wereng. Akhirnya tanaman habis. Petani terpaksa menanam ulang,” kata Rohim.(Tati)

banner-dishub