MAJALENGKA, (KC Online).-

Pemerintah Kabupaten Majalengka kesulitan membangun atau menata kawasan obyek wisata yang ada walaupun kondisinya potensial untuk dibangun dan akan sangat menarik wisatawan. Seperti obyek wisata milik Perum Perhutani dan Taman nasional Gunung Ciremai.

karaoke-room

Menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka, Gatot Sulaeman, didampingi Kepala Bidang Pariwisata, Vera Juntriesta, untuk membangun atau menata kawasan wisata selalu terbentur oleh persoalan kepemilikan lahan yang bukan milik Pemkab Majalengka.

“Ketika mengajukan permohonan bantuan untuk menata kawasan wisata Pemerintah Pusat ataupun Provinsi Jabar selalu meminta persyaratan fotokopi sertifikat kepemilikan lahan. Dan yang dibangun adalah kawasan wisata milik Pemda bukan milik pihak lain, baik TNGC ataupun Perum Perhutani,” ungkap Vera.

Sementara di Majalengka, hampir sebagian besar obyek wisata yang ada adalah milik Perum Perhutani dan Taman nasional Gunung Ciremai, atau kalaupun ada obyek wisata tersebut adalah milik pemerintah desa yang pengelolaannya harus dilakukan melalui MoU antara desa dengan Pemkab Majalengka.

Obyek wisata di Majalengka yang lahannya milik Pemda dan sudah bersertifikat hanya ada 4 objek, masing-masing Gunung Panten, Sangraja, Muara Jaya yang pengelolaannya kini dilakukan oleh Kompepar serta Talaga Emas di Desa Pajajar yang berdampingan dengan situ yang wilayahnya masuk di Desa Indrakila, Kecamatan Rajagaluh bukan milik Pemkab.

“Kami ingin mengembangkan seluruh obyek wisata yang ada apalagi mulai tahun ini pendapatan Pemkab Majalengka diproyeksikan terbesar berasal dari wisata. Namun sayangnya ketika berupaya mengajukan anggaran untuk penataan kepada Pemerintah Pusat ataupun Pemprov Jabar selalu terkendala kepemilikan serta harus menyertakan sertifikat,” kata Vera.

Prioritas utama

Makanya, untuk sementara ini prioritas utama yang akan dikembangkan adalah wisata Gunung Panten atau yang kini lebih dikenal obyek wisata paralayang. Kebetulan juga obyek wisata tersebut kini sudah menjadi destinasi wisata. Bahkan banyak atlet paralayang dari luar daerah termasuk manca negara yang mulai mencoba landasan. Sejumlah kejuaraan tingkat provinsi dan nasional juga pernah dilakukan.

Selain tempatnya dipergunakan untuk sarana olah raga juga suasananya yang indah dan nyaman. Pendatang bisa melihat view ke arah Utara yang terhampar pesawahan serta jalan dan sungai yang membentang terlihat dari ketinggian sekitar beberapa ratus meter dari permukaan laut dan Timur Gunung Ciremai.

Prioritas pengembangan kedua adalah wisata Sangraja, di Kelurahan Cigasong, di sana obyeknya akan tetap kolam renang namun lebih ke pemandian air panas, meniru pemandian air panas Tampaksiring, Bali. Air panasnya di Majalengka akan menggunakan air panas buatan. Air panasnya akan dialirkan melalui pancuran.
“Untuk pembangunannya kami rencanakan mulai tahun 2018 mendatang,” ungkap Vera.

Menyinggung soal Pendapatan Asli Daerah dari sektor wisata, pada tahun 2017 ini ditargetkan mencapai Rp 1,3 miliaran, itu berasal dari pajak hiburan sebesar Rp 300.000.000, hotel sebesar Rp 750.000.000 serta retribusi pariwisata sebesar Rp 250.000.000.(Tati)

banner-dishub