Oleh Jejep & Tati-KC Online

LIMA burung yang berasal dari China dan Jepang hinggap di Gunung Ciremai, sebelum berakhir di Australia. Kelima burung itu berjenis sikep madu asia (pernis ptylorhinchus), elang alap cina (accipiter soloensis), elang alap Nipon (accipiter gularis). Lalu, baza hitam (aviceda leuphotes) dan elang kelabu (butastus indicus).

“Kelima burung itu merupakan migran dari China dan Jepang menuju Australia, dan Gunung Ciremai merupakan tempat hinggap sementara, begitupun sebaliknya,” ujar Divisi Humas Taman Nasional Gunung Ciremia (TNGC) wilayah Majalengka, Agus Yudantara didampingi polisi hutan, Dadan, kemarin.

Menurut dia, TNGC sejak dulu terbukti memiliki kekayaan flora dan fauna serta keanekaragaman hayati yang menakjubkan. Bahkan, beberapa jenis burung dari mancanegara sering kali hinggap di Gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat ini.

“Perlu diketahui, migrasi burung merupakan kejadian langka yang terjadi dua kali dalam satu tahun, yaitu arus datang pada September-November, dan arus balik pada Maret-Mei,” tegasnya.

Jika masyarakat ingin melihat burung imigran dari Jepang dan China tersebut, kata dia, masyarakat bisa melihatnya melalui beberapa jalur pendakian, baik dari jalur Apuy Kecamatan Argalingga Kabupaten Majalengka, maupun jalur Palutungan Kabupaten Kuningan.

“Biasa juga terlihat di daerah Bintangot Cilimus Kuningan, terus ke arah barat sampai ke sangiang, sadarehe, apuy argalingga sampai Bantaragung dan Batuluhur,” paparnya.

Bupati Majalengka, H Sutrisno mengajak masyarakat maupun wisatawan menikmati pesona alam Majalengka, khususnya keindahan alam gunung Ciremai di wilayah Majalengka.

“Saya berjanji akan terus mengembangkan sektor pariwisata, karena memang potensi alam di Majalengka sangat mendukung, apalagi dengan hadirnya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB),” katanya.

Sementara itu, belum lama ini sebanyak 17 kukang jawa (Nycticebus javanicus) korban perdagangan online dilepasliarkan di hutan TNGC Desa Bantaragung Kecamatan Sindangwangi Kabupaten Majalengka.

Dokter Hewan IAR Indonesia, drh. Nur Purba Priambada primata mengatakan, yang termasuk di antara 25 jenis primata paling terancam punah di dunia. Pelepasliaran ini merupakan inisiasi dari Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Subdirektorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Satwa Yayasan IAR Indonesia, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, dan TNGC.

Primata yang dilepasliarkan terdiri dari 10 betina dan 7 jantan. Tim gabungan Ditjen Gakkum KLHK dan Kepolisian Resort Majalengka pada Januari lalu menyitanya dari pedagang yang memperjualbelikan satwa dilindungi lewat media sosial.

“Kini kondisi fisik dan perilaku kukang telah layak untuk dilepasliarkan, setelah sebelumnya mereka menjalani masa karantina dan rehabilitasi di kaki Gunung Salak, Bogor sekaligus untuk menyesuaikan iklm,”ungkapnya.***