Oleh Tati Purnawati-KC Online

PESANTREN tak hanya mengajarkan ilmu agama seperti nahwu, sorof atau pelajaran fikih atau mencetak qori dan qoriah, namun di Pesantren Assidikiyah Darrunajah pimpinan H Muhidin Rifai di Blok Ciawi, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka juga diajarkan bagaimana santri belajar musik dan bernyanyi.

Malah pesantren tersebut telah memiliki grup kesenian sendiri yang diberi nama grup Assidiqiyah. Grup kesenian ini mempelajari aneka kesenian islami dan juga dangdut serta pop yang digemari masyarakat umum dengan alat musik genjring, bas, akustik, tumpuk batu dan lain-lain.

Menurut Harul Mubarok yang memimpin rombongan saat pentas, grup kesenian ini mulai berdiri pada tahun 2004 lalu. Pemainnya sebanyak 24 orang karena banyaknya alat musik yang dimainkan serta tiga orang penyanyi yang ke semuanya laki-laki. “Di kami ada laki-laki dan perempuan, namun satu grup yang biasa kami main semuanya laki-laki yang usianya dibawah 25 tahunan,” ungkap Harul.

Menurutnya, grupnya tersebut biasa memenuhi undangan khusus seperti yang dilakukannya saat pembukaan pendaftaran calon bupati dan wakil bupati yang dilakukan PKB, upacara hari besar Maulud Nabi, rajaban atau juga undangan perorangan di tempat hajatan. Malah undangan di tempat hajatan seperti pernikahan dan sunatan cukup banyak. “Kami juga sering manggung ke luar daerah seperti Ciawi, Tasikmalaya, Ciamis juga di wilayah sendiri,” kata Harul.

Tak bergoyang

Lagu-lagu yang dinyanyikannya tidak hanya lagu-lagu islami, nadoman, solawatan, namun juga lagu-lagu pop dan dangdut. Bedanya penyanyi tidak pernah bergoyang apalagi berjoget karena semua mengenakan sarung dan kopiah. Alasannya malu dan aurat bila harus berjoget seperti penyanyi dangdut pada umumnya.

Diajarkannya kesenian di pesantren, untuk mengubah paradigma kalau pesantren hanya mengajar ngaji dan belajar fikih. Namun manusia juga butuh hiburan karena otak harus juga diisi dengan persoalan yang ringan dan menghibur. Makanya di pesantren Assidiqiyah Darrunajah ini semua santri bisa ikut belajar memainkan alat musik dan belajar bernyanyi, mereka pun bisa ikut pentas bila ada yang mengundang, sekaligus memupuk mental para santri untuk tampil di depan publik.

Karena, menurut Harul, tidak semua orang bisa tampil di depan publik, padahal para santri ini harus mampu memberikan ceramah keagamaan di masyarakat, dan bagaimana masyarakat juga tidak fanatik terhadap keseniana dan hiburan lainnya.***