Tati Purnawati-KC Online

MENJELANG bulan Ramadan yang tinggal sekitar dua pekan lagi, perajin industri rumahan kue tradisional khas sunda “kokontong” di Blok Sukamandi, RT 06, RW 01, Desa Mekar Raharja, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka, kebanjiran pesanan.

Kolontong adalah makanan sejenis opak yang terbuat dari beras ketan, hanya bedanya kokolontong beras manis yang manisnya berasal dari gula aren. Pada umumnya kokolontong ini dibakar atau masak menggunakan pasir (sunda:di sangray). Setelah matang ada yang dilumuri kembali dengan gula ada pula yang natural hanya mengandalkan rasa manis dari gula yang ditumbuk bersama-sama dengan ketan saat pembuatan opaknya.

Kokolontong ini ada yang dikerat kecil ada pula yang tetap besar dengan linkar 10-15 cm. Ada pula yang dikerat kecil dan digoreng seperti yang dilakukan salah seorang perajin Umi Enih Nurhaeni (30 tahun) di Blok Sukamandi, Mekar Raharja.

Umi mulai menekuni kerajinan makanan kokolontong sejak tahun 2016 meneruskan usaha ibunya yang sudah sejak tahun 1980 menjadi perajin opak. Bedanya, ibunya hanya menjadi perajin kokolontong dengan cara disangrai dan opak ketan asin biasa.

“Saya mencoba kokolontong dengan digoreng, ternyata peminatnya cukup banyak. Hanya saja dengan digoreng tidak bisa bertahan lama,” kata Umi.

Stok

Pesanan hampir rata-rata untuk Lebaran dan bulan puasa, sehingga stok ketan dan opak harus mencukupi agar pemesan tidak kecewa. Kokontolong buatan Umi ini sedikit berbeda dengan kokontolong hasil industri rumahan lainnya, rasanya lebih renyah dan lembut sehingga ketika sampai dimulut seolah tak perlu dikunyah karena langsung hancur.

Agar bisa seperti itu, pengolahannya butuh waktu lama. Beras ketan juga kualitasnya harus sangat bagus agar ketika ditumbuk benar-benar halus tidak ada beras yang masih tersisa. “Banyak kokolontong yang keras atau seperti beras, itu kemungkinan karena beras ketannya kurang bagus serta saat menumbuk juga kurang halus,” kata Umi.

Setiap harinya, Umi minimal menghabiskan 3 kg ketan ditambah gula aren. Beras sebanyak itu menghasilkan 40 bungkus kokolontong dengan harga jual per bungkus sebesar Rp 5.000. Produksi kokolontong Umi, selain dijual ke rumah-rumah penduduk ddan warung-warung di desanya, juga dijual ke pasar-pasar tradisional dan toko-toko di Kecamatan Talaga.

Tata, Kaur Ekonomi dan Pembangunan Desa Mekaraharja, menyebutkan, hampir 70 persen masyarakatnya menjadi perajin opak asin dan kokolontong, hal itu sudah ditekuni warga sejak puluhan tahun yang lalu karena usaha ini ditekuni secara turun temurun.

Tak heran, bila menjelang bulan puasa hingga menjelang Lebaran atau bulan-bulan tertentu saat musim hajatan, semua ibu rumah tangga sibuk membuat opak asin atau kokolontong karena tingginya pesanan baik dari pedagang di pasar ataupun pesanan, khusus dari warga biasa.

Satu orang perajin yang biasanya hanya mampu menghabiskan 4 hingga 5 kg per hari, di saat bulan puasa atau menjelang puasa bisa naik hingga dua kali lipat.

“Di wilayah kami opak ini bisa untuk berbuka puasa, atau untuk menyediakan jamuan ke mesjid saat berbuka dan tarawih. Itu disajikan dengan makanan lainnya seperti lemper, wajit dan lain-lain. Kalau kokolntong yang diolah dengan cara disangray bisa tahan hingga dua bulanan sedangkan di goreng paling bisa bertahan seminggu lebih saja,“ tambah Tata.***