Oleh Fanny Krishna-Kabar Cirebon

 

SEORANG penjual mainan yang sedang nongkrong tepat di  depan pintu gerbang Ponpes Manbaul Ulum menggelengkan kepalanya saat ditanya lokasi SMP Sindang Jawa, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, Rabu (3/5/2017).

Dirinya yang merupakan penjual mainan keliling di sekitar Sindang Jawa-Cikalahang memberitahukan jika di Kecamatan Dukupuntang tidak ada SMP Sindang Jawa. Penasaran, KC bertanya kembali kepada penjaga sekolah SMK Manbaul Ulum yang bangunannya berada tepat di seberang Ponpes Manbaul Ulum.

Dengan sigap, penjaga sekolah menunjukkan sebuah bangunan yang sedikit tersembunyi dengan papan nama sekolah yang cukup tersembunyi pula. Lokasi SMP Sindang Jawa ternyata berada tepat di samping Ponpes Manbaul Ulum atau hanya sekitar 15 meter dari si penjual mainan keliling tersebut.

Yang membuatnya cukup sulit dicari, selain papan nama sekolah yang tidak mencolok, juga karena tidak memiliki akses masuk sendiri. Menuju sekolah ini, kita harus melalui pintu gerbang Ponpes Manbaul Ulum, padahal antara SMP Sindang Jawa dan Ponpes Manbaul Ulum tidak ada kaitan apa-apa.

Fakta berikutnya, begitu masuk ke area sekolah, kita akan langsung disuguhi sebuah bangunan yang bagian atap depannya hampir ambruk. Bangunan ini hanya tinggal menunggu waktu untuk ambruk seluruhnya. Ruangan yang hampir ambruk ini sudah lama tidak ditempati siswa, karena khawatir ada musibah  saat siswa sedang belajar. Sekolah ini memiliki 300 siswa dengan jumlah total 10 ruangan, namun hanya 5 ruangan yang masih layak ditempati.

“Kita sudah ajukan perbaikan ke Dinas Pendidikan (Disdik), tapi sepertinya memang belum masuk prioritas,” tukas Kepala SMP Sindang Jawa, Jaenal Muttakin sambil membereskan sebuah ruangan kelas yang sedikit berantakan.

Karena kekurangan ruangan kelas, akhirnya ada satu ruangan kelas yang disekat. Bahkan ada satu ruangan yang disekat menjadi tiga bagian. Ruangan ini merupakan ruangan kelas VIII dan IX, kemudian di tengahnya terdapat ruangan perpustakaan.

“Jangan bayangkan di sekolah ini berlantai keramik, karena sekolah ini dari dulu hanya berlantaikan ubin saja, atapnya bilik, papan tulisnya bukan white board melainkan papan tulis biasa, atap pada bolong. Ini sangat memprihatinkan tapi kami mencoba bertahan,” katanya.

Menurut Jaenal, jika mendung sudah terlihat di langit, maka dirinya akan memulangkan para siswa.

“Daripada rawan musibah dengan bertahan di kelas saat hujan datang, lebih baik saya pulangkan para siswa. Meskipun mendungnya datang jam 9 atau jam 10 pagi, pasti saya pulangkan,” tukasnya.

Memantau cuaca

Yang lebih repot adalah saat Ujian Nasional SMP berlangsung seperti saat ini. Sebab, dirinya harus terus memantau cuaca. Jika mendung datang, dirinya akan meminta siswa untuk buru-buru mengerjakan soal, dan tidak akan memulangkan siswa seperti hari biasa.

“Sebab, kami pun harus menyelamatkan lembar jawaban UN para siswa. Syarat kelulusan kan lembar jawabannya bisa terisi. Bayangkan kalau mendung datang pada pagi hari di mana siswa sedang mengerjakan UN. Sementara lembar jawaban harus sudah ada di Sub Rayon Disdik pada jam 2 siang, kemudian jam 4 sorenya dibawa ke Bandung,” katanya.

Menurut sepengetahuannya, belum ada bantuan apa pun terhadap sekolah ini selama dirinya memimpin sekolah sejak 2015 lalu.

“Bahkan mungkin sebelum saya pun sudah lama tidak ada bantuan, itu terlihat dari kondisi bangunan yang begini-begini saja. Padahal, untuk sebuah sekolah swasta, SMP Sindang Jawa itu cukup diminati karena banyak anak warga sekitar yang bersekolah di sini. Tapi, bantuan yang kami usulkan entah kenapa belum direalisasikan?” tukasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang SMP pada Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon, Ronianto mengatakan, pihak Kementerian Pendidikan sudah menyatakan kesediaannya untuk membantu perbaikan bangunan SMP Sindang Jawa.

“Kemarin-kemarin juga sudah datang ke lokasi untuk melihat seberapa jauh kerusakannya,” katanya.

Menurutnya, dalam APBD Kabupaten Cirebon perbaikan bangunan SMP Sindang Jawa memang tidak dialokasikan, begitupun dalam Dana Alokasi Khusus (DAK) di pemerintah pusat.

“Kemungkinan akan dialokasikan dalam anggaran program block grant dari Kementerian Pendidikan di tahun ini. Kita berharap bisa diperbaiki di tahun ini juga, dan untuk pihak sekolah saya harap bersabar dulu untuk sementara waktu,” ujarnya.***