Oleh Tati Purnawati-(KC Online),-

HERYANTO asal Cikijing membangun komunitas hydroponik di setiap wilayah di Kabupaten Majalengka untuk mengembangkan tanaman sayuran yang sehat bagi masyarakat serta memiliki nilai ekonomis karena pasar sayuran cukup tinggi serta harga sayur yang menjadi mahal.

Anggota komunitas yang sudah mengembangkan tanaman aneka sayuran hydroponik sudah menyebar di setiap kecamatan dan sejumlah desa yang tidak memiliki lahan luas untuk menanam sayuran di sekeliling rumahnya atau tidak memiliki lahan perkebunan.

“Awalnya saya melihat kebutuhan sayuran sangat tinggi, ibu-ibu rumah tangga harus mengeluarkan uang besar untuk belanja setiap hari guna memenuhi kebutuhan sayuran bagi keluarganya,” ungkap Heryanto yang profesinya sebagai Penyuluh Lapangan Pertanian Kabupaten Majalengka.

Ketika harus menanam sayuran tidak semua masyarakat memiliki lahan yang luas, kalau membeli sayuran kondisi sayurannya juga kurang sehat karena sayuran di pasar sejak mulai tanam sudah disemprot dengan pestisida, belum lagi pupuk yang dipergunakan juga pupuk an organik.

Melihat kondisi tersebut, Heryanto mencoba memulai menanam sayuran dengan cara hydriponik, dan ternyata banyak masyarakat yang tertarik untuk ikut mencoba menanam. Hingga akhirnya dia terus melakukan bimbingan ke sejumlah daerah di Majalengka.

“Kini sudah banyak yang menjalani perkebunan sayur lewat hydroponik hasilnya sebagian sudah dipasarkan di samping untuk konsumsi keluarganya. Jumlah anggota komunitas sudah lebih dari 60 orang, karena ada beberapa masyarakat desa juga yang mencoba serius untuk menanam sayuran,” ungkap Heryanto.

Memasarkan

Kini jenis sayuran yang ditanam antara lain adalah kangkung, siomak romen, beberapa jenis selada seperti pakcoy, selada merah atau golorosa amandine dan sejumlah sayuran lainnya.

Sejumlah komunitas malah sudah mulai memasarkannya. Heryanto sendiri kini setiap harinya harus memenuhi kebutuhan pasar rumah makan di Bandung, kebutuhan sayurnya untuk satu jenis sayuran ada yang mencapai 10 kh gingga 20 kg. Siomak romen misalnya pasokannya telah mencapai 20 kg, selada 10 kg.

“Permintaannya cukup tinggi namun produksinya masih terbatas. Harga sayuran dengan ditanam lewat hydroponik ini jauh lebih mahal dibanding sayuran biasa yang ditanam di kebun dengan banyak pestisida, bedanya bisa mencapai Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per kg.” uangkap Heryanto lulusan IPB.

Semakin banyak masyarakat yang mencintai tanaman hyriponik, Heryanto kini terus berupaya memberikan bimbingan kepada anggota komunitasnya serta kelompok ibu-ibu yang meginginkan cara tanam tersebut. Selain itu kepada anak-anak SD seperti yang dilakukannya di SD Gunung Manik, Desa Gunung Manik, Kecamatan Talaga.

“Saya menyukai tanaman pertanian karena itu bidang saya, saya juga ingin mengajak masyarakat untuk mengonsumsi makanan sehat namun murah.

Caranya dengan menanam sendiri dan itu bisa dilakukan walaupun di lahan sempit sekalipun,” ujar Heryanto yang melakukan pameran di lokasi bazar murah yang diselenggarakan di Pemda Majalengka.

Pegunjung stan pameran cukup tinggi dan sejumlah pengunjung pun berupaya membeli sayuran miliknya, baik yang masih ditanam ataupun yangsudah dipetik.***