Seorang pengunjung menunjukkan rujak kangkung yang siap disantap/KC Online.*

BAU terasi menguar di hidung begitu memasuki kedai milik Didi (50 tahun) di jajaran kantin tepat depan kampus IAIN Syekh Nurjati, Jumat (28/7/2017) lalu.

Saat KC Online datang ke kedai yang menjual rujak kangkung khas Cibingbin Kuningan, hari belum terlalu siang. Namun, beberapa kursi yang tersedia sudah penuh.

Mereka sedang menikmati rujak kangkung juga oseng tutut yang membuat lidah terasa terbakar karena saking pedasnya. Rasa pedas yang berpadu dengan asam dan terasi yang cukup tajam membuat kedai Didi ini ramai sejak dibuka delapan tahun yang lalu. Meski kini rujak kangkung serupa cukup banyak di berbagai tempat, namun kedai ini masih menjadi referensi bagi si penyuka pedas.

“Sehari saya bisa menghabiskan tiga bakul penuh kangkung, selain itu kedai serupa lainnya di lokasi berbeda juga mengambil sambal dari kami, sehingga saya pun harus membuat sambal yang banyak setiap harinya,” kata Didi.

Menurutnya, beberapa pemilik usaha rujak kangkung memiliki perbedaan pada rasa sambal. Namun, Didi memilih aroma terasi serta asam yang menyengat untuk dipadukannya dengan kangkung.

“Rasanya memang cukup dahsyat, apalagi cabai rawit yang saya tambahkan pada bumbu rujaknya juga dominan. Bagi para pelanggan, rasa bumbu ini yang membuat mereka kangen ingin selalu makan rujak kangkung di sini,” ujar Didi.

Sambal khas