Ilustrasi/KC Online.*

ADA satu kisah yang sangat berharga dan ini kerap terjadi di tengah kehidupan masyarakat kita. Namun hanya sedikit orang yang menyadari jika nyawa kita pun bisa terancam oleh orang yang meninggal dunia karena “ulah” kita.

Seperti dituturkan Gani (nama samaran), warga perumahan di sekitar Pilang, Kabupaten Cirebon ini mengisahkan sebuah pengalaman pribadinya.

Sebagai anak pengais bungsu dari enam bersaudara, Gani sangat mencintai adik perempuannya, sebut saja Ningsih. Ayahnya yang pensiunan polisi mendidik mereka dengan sangat disiplin. Meski demikian, mereka hidup dengan sangat damai kendati sederhana.

“Ayah saya sudah meninggal dan adik saya tercinta juga sudah dipanggil Allah SWT. Saya hanya bisa berharap semoga kedua orang yang sangat saya cintai itu mendapat surga-Nya. Ayah saya dulu bekerja sebagai polisi dan di kalangan teman-temannya ia dikenal sebagai polisi yang jujur. Ia tak segan menghajar copet atau maling, namun setelah itu ia akan merangkul mereka supaya tidak lagi mengulangi kesalahannya,” ujar Gani.

Gani berkisah, saat Ningsih, adiknya, dipersunting Indra, ia dan keluarga besarnya sangat gembira. Sebab, Indra adalah pilihan Ningsih sekaligus cinta pertamanya. Pesta pernikahan pun dibuat semeriah mungkin, kendati masih dalam balutan kesederhaaan.

“Maklum almarhum bapak tidak mau minta sana-sini. Ia berprinsip tidak mau merepotkan orang lain. Ada beberapa rekan sejawat yang memberikan bantuan dan bagi bapak itu sudah lebih dari cukup. Akhirnya pesta pernikahan dapat berlangsung dan tamu undangan pun sepertinya suka dengan masakan prasmanan yang kami sediakan kala itu,” ucap Gani.

Awal menikah, lanjut Gani, Ningsih dan Indra hidup bahagia. Mereka seperti benar-benar menikmati bulan madu. Sebagai pengantin baru, kemesraan keduanya kerap diperlihatkan di depan anggota keluarga yang lain.

“Kami senang dan ikut bahagia saja karena kebahagiaan Ningsih adalah kebahagiaan kami. Kesedihan Ningsih tentu jadi kesedihan kami juga,” tandas gani.

Namun saat pernikahan hampir berjalan satu tahun, tabiat kurang baik dari sosok Indra mulai terlihat. Indra mulai kelihatan sifat buruknya, yaitu suka mabuk-mabukan dan main perempuan. Bahkan tak segan, Indra membawa perempuan lain ke dalam rumah mereka dan Ningsih tak bisa berbuat banyak karena jika ditegur, Indra akan marah besar dan kerap memukulinya.

Ningsih yang memiliki jiwa tegar dan tidak mudah cengeng memilih menyimpan kesedihan dalam hatinya. Jika ada memar di tubuhnya, maka ia lebih memilih untuk menyembunyikannya. Ningsih tidak ingin penderitaannya diketahui keluarga besarnya.

“Karena sejak kecil dididik untuk disiplin dan tegar, Ningsih jadi tidak mudah menyerah atau cengeng. Ia bisa menyimpan rahasia keluarganya serapat mungkin. Sepertinya Ningsih tidak mau ada satupun anggota keluarga yang mengetahui jika ia kerap disakiti oleh Indra,” ungkap Lani.

Waktu terus berjalan dan ibarat seekor tupai, sepandai-pandainya melompat pasti akan jatuh juga. Sepandai-pandainya menyimpan rahasia pasti terbongkar juga. Rupanya penderitaan Ningsih diketahui ayahnya yang tak sengaja menengok Ningsih yang memilih pisah rumah sejak menikah.

“Ceritanya pas bapak main ke rumah ternyata ia melihat Indra dan sejumlah teman-temannya sedang mabuk-mabukkan di dalam rumah. Bapak yang waktu itu pulang dinas dan masih berpakaian lengkap, sangat kesal. Ia lalu menasehati Indra agar tidak mabuk-mabukan dan meminta semua teman-temannya untuk bubar,” katanya.

Waktu itu, lanjut Gani, ayahnya sengaja tidak memarahi Indra di depan teman-teman dan istrinya karena berharap Indra mau segera sadar dan tidak mengulangi lagi perbuatannya.

“Bapak minta baik-baik kepada Indra supaya sifatnya berubah. Namun rupanya niat baik bapak tidak digubris dan naluri bapak juga tidak bisa dibohongi. Saat dipantau ternyata Indra kerap mabuk-mabukan di dalam rumah. Bahkan dalam beberapa kesempatan ada teman perempuannya yang diajak ikut serta,” jelasnya.

Bekas pukulan