KASAT Reserse Narkoba Polrestabes Bandung, Haryo Tejo, menunjukkan barang bukti di Satresnarkoba Jalan Sukajadi Kota Bandung, Jumat (11/8/2017)/PRLM/KC Online.*

BANDUNG, (KC Online).-

Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Bandung menangkap seorang ibu rumah tangga, RR (37), terkait peredaran dan penyalahgunaan narkoba jenis ekstasi dan sabu. Kasus ini merupakan pengungkapan terbilang besar untuk tersangka perempuan. Peredaran dilakukan untuk kalangan terbatas, sejumlah temannya sesama sosialita di Kota Bandung.

“Dari pengungkapan selama ini, ini yang terbesar untuk tersangka perempuan. Bisa dibilang ini ratu ekstasi,” ujar Kasat Reserse Narkoba Polrestabes Bandung, Haryo Tejo, di Satresnarkoba Jalan Sukajadi Kota Bandung, Jumat (11/8/2017).

Pengungkapan kasus ini diawali adanya informasi dari masyarakat mengenai dugaan peredaran narkoba di Kota Bandung. Dari hasil penelusuran, petugas kemudian mengintai satu rumah di Jalan Jamika RT 5 RW 1 Kelurahan Jamika Kecamatan Bojongloa Kaler Kota Bandung.

Pada penggeledahan yang dilakukan Selasa 8 Agustus 2017 malam, ditemukan perempuan sesuai dengan ciri yang diinformasikan. Di lantai empat rumah mewah tempat dia tinggal, petugas mendapati narkoba jenis ekstasi yang disimpan dalam sejumlah toples berbeda. Ditemukan pula satu toples berisi kristal berisi narkoba di duga jenis sabu.

Ruangan yang sama juga dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pendukung audio, layaknya tempat hiburan untuk pesta narkoba. “Dari keterangan tersangka, ruangan itu digunakan saat dia mengonsumsi narkoba bersama teman-temannya,” katanya.

Sebagai barang bukti, petugas mengamankan sebanyak 325 butir ekstasi serta narkoba jenis sabu seberat 12,42 gram. “Nilai total barang bukti yang diamankan sekitar Rp 180 juta,” ujarnya.

Lebih lanjut, Haryo, menuturkan, seluruh narkoba tersebut didapat dengan cara memesan dari seseorang di Jakarta berinisial F. Saat ini, pemasok tersebut tengah dalam pengejaran kepolisian. Sebagian barang dikonsumsi sendiri oleh RR. Sebagian lainnya dijual kepada teman-temannya secara langsung tanpa melalui perantara. Hal itu sudah berlangsung selama sekitar dua tahun terakhir.

Atas perbuatannya, RR dijerat dengan pasal 114 ayat (2) dan 112 ayat (2) Undang-Undang nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. “Ancaman hukumannya sampai 20 tahun penjara,” kata Haryo. (PRLM/KC Online)