Sejumlah preman dan pengamen terciduk operasi cipta kondisi petugas polsek jelang Hari Kemerdekaan RI ke-72, Senin (14/8/2017). Selama ini, mereka dinilai meresahkan masyarakat. Selain itu, polisi juga melakukan pembinaan terhadap pak ogah, juru parkir liar dan pemuda yang berkendara ugal-ugalan/KC Online.*

LEMAHWUNGKUK, (KC Online).-

Sejumlah preman dan pengamen terciduk operasi cipta kondisi petugas polsek jelang Hari Kemerdekaan RI ke-72, Senin (14/8/2017). Selama ini, mereka dinilai meresahkan masyarakat. Selain itu, polisi juga melakukan pembinaan terhadap pak ogah, juru parkir liar dan pemuda yang berkendara ugal-ugalan.

“Totalnya ada enam orang yang kami amankan dari sekitar wilayah Kecamatan Lemahwungkuk. Kami juga amankan pengendara motor yang berboncengan tapi ugal-ugalan,” kata Kapolsek Lemahwungkuk, Inspektur Satu Momon Sukarman.

Selama ini, pihaknya kerap mendapat laporan terkait ulah para preman dan pengamen yang meresahkan. Sementara, menurutnya, pak ogah dan juru parkir liar turut diamankan untuk diberikan arahan agar tidak berbuat ulah.

Selama proses razia berlangsung, tak ada perlawanan yang dilakukan oleh mereka yang tertangkap. Namun, saat melakukan penindakan terhadap pengendara ugal-ugalan polisi cukup dibuat repot untuk melakukan pengejaran.

“Sebagian yang kami amankan itu muka-muka lama. Namun, karena ini dalam rangka cipta kondisi dan laporan masyarakat, maka kami amankan lagi untuk dibina kembali,” ujarnya.

Mereka yang terjaring razia langsung diamankan ke Mapolsek Lemahwungkuk. Sebelum diberi arahan dan didata, mereka semua dihukum untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya dan sejumlah lagu nasional lainnya seperti Hari Merdeka, Maju Tak Gentar dan Halo-halo Bandung.

Uniknya, meski mereka hafal lagu-lagu tersebut, namun saat ditanya umur kemerdekaan Indonesia banyak yang tidak tahu. Mereka baru tahu jika Indonesia sudah merdeka selama 72 tahun setelah diberitahu petugas.
“Hukuman itu, sebenarnya sambil mengingatkan mereka kalau beberapa hari lagi adalah hari kemerdekaan. Semoga setelah dibina, mereka punya semangat kemerdekaan untuk berubah ke arah yang lebih baik,” pungkas Momon.

Usai dihukum, dibina dan didata, mereka mengisi surat perjanjian agar tidak berbuat ulah di kemudian hari. Setelah itu mereka diizinkan untuk pulang. (Imam)