Illustrasi

SETELAH sekian lama tidak melaut karena buruknya cuaca, para nelayan Indramayu akhirnya secara bertahap melaut. Hal itu karena, cuaca secara bertahap mulai normal.

“Hari ini para nelayan sudah mulai melaut, meski jumlahnya tidak sebanyak seperti biasanya,” kata Koko Sudeswara petugas Syahbandar Indamayu, Jumat (1/9/2017).

Dia mengatakan, surat himbauan kepada nelayan agar tidak dulu melaut itu sifatnya memang fleksibel. Bila cuaca diperkirakan sedang bagus, syahbandar maupun Satpol Air Polres Indramayu bisa mengeluarkan rekomendasi kepada para nelayan untuk melaut. Begitu pun sebaliknya, bila cuaca tidak bagus, nelayan tidak diberikan izin untuk melaut.

Dikatakan Koko, gelombang tinggi kerap menjadi penyebab kapal karam. Menurutnya, selama awal tahun 2014 hingga Agustus, terdapat lima peristiwa kapal nelayan asal Indramayu karam, karena terjangan gelombang tinggi yang disertai angin kencang.

Dia menyebutkan, dari jumlah kecelakaan tersebut, hanya kecelakaan yang terjadi di perairan Kalimantan pada 16 Januari 2014 lalu, yang menimbulkan korban jiwa. Meski koordinat tenggelamnya kapal diketahui, namun nasib 11 nelayan yang menjadi awaknya hingga kini belum juga ditemukan.

“Berdasarkan informasi yang diterima dari radio pada saat itu, Kapal Motor Hikmah 6, karam karena terhempas gelombang laut. Lokasinya saat itu berada pada koordinat 03:56 Lintang Selatan dan 108:42 Bujur Timur,” katanya.

Selain Kapal motor Hikmah, KM Danan Jaya yang berbobot 7 GT dihantam gelombang tinggi hingga terbalik di perairan Indramayu pada 14 Januari 2014. Kemudian KM Ekajaya pada 23 Februari 2014 di utara pulau Candikian, sekitar 20 mil dari Pulau Biawak. Karena angin kencang yang membuat gelombang meninggi, sehingga membuat kapal terbalik.

Begitupun Kapal KM Andora pada 5 Mei 2014, karena menabrak karang di perairan Laut Jawa. Dalam kejadian itu, seluruh awak kapal selamat. Keseluruhan awak kapal itu adalah Nakhoda Sodikin, dan 11 ABK lainnya. Terakhir, kecelakaan terjadi pada KM Mandala 3 pada 6 Agustus 2014, itupun dihantam ombak dan angin besar.

Secara terpisah, sumber Stasiun BMKG Jatiwangi, mengakui gelombang laut masih tergolong tinggi, antara 2-2,5 meter. Hal itu dipengaruhi oleh angin kencang yang kecepatannya sekitar 15 knot.

“Meski syahbandar atau satpol air memberikan izin melaut, namun para nelayan tetap diharuskan waspada. Terutama bagi nelayan tradisional. Sebab, sewaktu-waktu gelombang tinggi yang oleh para nelayan disebut ombak jedor tiba-tiba muncul. Ombak jedor adalah ombak yang muncul mendadak dan saling bertabrakan,” kata sumber yang enggan disebut jati dirinya.

Sumber tadi menambahkan, angin kencang dan gelombang tinggi masih akan terus berlangsung hingga September tahun ini. (Odok/KC Online)