kabar-cirebon.com

KEJAKSAN, (KC Online).-

Petugas Satuan Reserse Narkoba Polres Cirebon Kota menggelar razia di sejumlah apotek, Rabu (20/9/2017).

Hal tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi peredaran pil paracetamol, caffeine dan carisoprodol (PCC) yang sempat menelan korban jiwa di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Hasilnya, petugas mengamankan obat-obatan yang dilarang beredar dari sejumlah apotek. Selain itu, petugas juga mengamankan obat racikan. Sebab, obat-obatan itu tidak beretiket lantaran tidak disertai label dan tanpa memperhatikan mutu, khasiat, serta keamanan konsumsinya.

Kapolres Cirebon Kota, Ajun Komisaris Besar Adi Vivid AB melalui Kasat Narkoba, Ajun Komisaris Achmad Gunawan mengatakan, razia difokuskan di sejumlah apotek lantaran menjadi tempat penjualan obat secara bebas. Menurutnya, obat yang diamankan, khususnya obat racikan diduga melanggar Pasal 196 UU RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

“Ancaman hukumannya 10 tahun penjara. Sejumlah obat yang kami temukan diduga melanggar Pasal 196. Ini razia sekaligus sosialisasi jenis obat-obatan apa saja yang sudah dilarang,” katanya.

Pihaknya juga mengimbau kepada seluruh apotek, toko obat, pedagang obat dan apoteker berdasarkan UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, untuk tidak mendistributorkan, mengendarkan, menjual, serta meracik obat-obatan.

Khususnya, PCC, Magadon dengan zat aktif Nitrazepam, Rohypnol dengan zat aktif Flunitrazepam, Calmet 2 mg dengan zat aktif Alprazolam 2 mg, Dekstometrofan, Tramadol produksi PT Promedrahardjo, dan obat-obatan mengandung Carisoprodol.

“Izin edar produk tersebut sudah dicabut. Sehingga, sudah tidak ada izin edar dari Badan POM. Kalau masih menyediakan akan kami amankan,” ujarnya.

Ia mengatakan, pendistribusian, pengedaraan, penjualan, dan peracikan sejumlah obat-obatan pisikotropika harus memiliki izin dari Dinas Kesehatan. Selain itu, juga harus di bawah pengawasan Balai POM. Sedangkan, penjualan langsung kepada konsumen harus berdasarkan resep dari dokter yang berkompeten.

“Sehingga, dapat dipertanggungjawabkan secara medis dan hukum. Obat juga harus ada etiketnya. Dari mulai nama pasien, aturan pakai, nama apotek dan tanggal dikeluarkannya obat itu,” pungkas dia.

Manuver bandar