illustrasi

KABUPATEN Majalengka dikenal sebagai daerah pertanian dengan lahan pertanian yang subur dan luas. Kehidupan masyarakatnya pun lebih dari 80 persen adalah bertani.

Namun kondisi tersebut kontradiktif dengan banyaknya industri makanan olahan yang bahan bakunya justru didatangkan dari luar kabupaten, hingga impor dari sejumlah negara.

Untuk hal tersebut, menurut Kepala Dianas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Majalengka, Ahmad Suswanto didampingi Kabid Perindustrian Wawan Kurniawan, butuh sinergitas program antar OPD dengan Bapeda dan para petani agar kebutuhan bahan baku bisa dipenuhi, serta petani bisa memiliki kelangsungan usaha taninya.

“Banyak industri makanan ringan di Kabupaten Majalengka yang kekurangan bahan baku, hingga mereka harus mengimpor dari luar negeri atau menambil dari luar daerah. Padahal harusnya bisa dipenuhi dari wilayah sendiri karena bahan baku yang dibutuhkan adalah produk pertanian,” ungkap Ahmad Suswanto didampingi Kabid Perindustrian Wawan Kurniawan.

Menurut mereka bahan baku industri mananan olahan yang kekurangan bahan baku di antarnya adalah singkong, kacang-kacangan seperti acang bogor, kacang tanah, kacang karo, kedelai dan sejumlah kacang lainnya, pisang, beras ketan, dan lain-lain.
Kini di Majalengka lebih dari 3.000 industri makanan olahan, yang ternyata bahan bakunya sebagian harus mengimpor dari Thailand, Cina, Amerika dan sejumlah negara lainnya.

Bahan baku yang banyak diimpor adalah kedelai, kacang karo, kacang tanah serta kacang bogor. Bahan makanan olahan tersebut sebelumnya tidak perlu mengimpor jika saja petani Majalengka bisa memproduksinya. Termasuk singkong dan pisang yang masih mendatangkan dari kabupaten tetangga seperti Sukabumi, Subang dan sejumlah kabupaten lainnya.

“Agak aneh memang, Majalengka ini dikenal kaya sumber daya alam, tanahnya luas dan subur, namun untuk sejumlah komoditas masih tetap harus mendatangkan dari luar daerah,“ ungkap Wawan.

Butuh sinergitas

Menurutnya, butuh sinergitas program antara perindustrian dengan Dinas Pertanian agar bahan baku industri makanan olahan tak perlu lagi mendatangkan dari luar. Namun bisa diproduksi oleh petani Majalengka sendiri.

“Sosialiasi kepada petani juga dibutuhkan, agar mereka bisa menanam komoditas pertanian yang dibutuhkan oleh industri makanan olahan. Karena sebetulnya cara menanam dan memelihara tanaman-tanaman tersebut sangat mudah dan petani tidak butuh modal cukup banyak, serta bisa ditanam di semua jenis tanah dan iklim. Jadi sekarang tinggal bagaimana mendorong petani agar bersedia menanam komoditas yang dibutuhkan industri,” ungkap Wawan.

Menurutnya, kebutuhan bahan baku tersebut tidak terbatas, karena sentra industri makanan olahan asal Desa Rawa, Kecamatan Cingambul pasarnya hingga ke luar Pulau Jawa, seperti Sulawesi, Sumatra dan Bali. Pasar yang cukup besar juga adalah Surabaya, Jakarta dan sejumlah wilayah lainnya.

“Pengusaha makanan olahan ini semuanya partai besar, tidak ada yang partai kecil, setiap harinya bisa puluhan kendaraan boks besar makanan ringan olahan dikirim ke luar daerah,” ungkap Wawan.(Tati/KC Online)