Industri kecap merek ban bersayap milik Maman berdiri jauh lebih dulu bedanya lebih dari 50 tahun, rasa kecap juga mungkin saja lebih enak kecap Majalengka, namun karena terlambat mendaftarkan akhirnya hak paten jadi milik orang lain. Tati/KC Online

MAJALENGKA, (KC Online).-

Banyak industri makanan dan industri pakaian atau industri lainnya di Majalengka yang sudah berdiri sejak puluhan tahun dan sudah terkenal hingga ke luar daerah, namun tidak memiliki hak paten atau HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual) karena pemilik tidak berupaya pemprosesnya, hingga akhirnya hak paten lebih dulu diklaim perusahaan lain.

Menurut Kepala Dinas tenaga Kerja dan Perindustrian Kabupaten Majalengka Ahmad Suswantos didampingi Kepala Bidang Perindustrian Wawan Kurniawan, sangat banyak pemilik usaha kecil menengah (UKM) di Majalengka yang mengabaikan badan hukum, baik PIRT (Pangan Industri Rumah Tangga), label halal, sertifikasi pangan dari BPOM serta HaKI karena awalnya merasa usahanya sudah maju dan usaha bisa berjalan lancar tanpa menempuh aturan tersebut.

Para pengusaha baru merasakan akibatnya ketika menemui persoalan semisal disaat kendaraan yang akan mendistribusikan produksinya ke luar kota terkena tilang kepolisian, dan saat diperiksa makanan yang dikirimnya tersebut tidak terdaftar di Dinas Kesehatan.

Atau juga saat industri konveksinya mendapat masalah karena nama mereknya hampir sama dengan merek lain. Walaupun nama tersebut lebih dulu dipakai pengusaha asal Majalengka, namun karena tidak didaftarkan menjadi hak paten akhirnya mereka digugat pengusaha lain ke jalur hukum, karena merasa lebih dulu memiliki hak paten.

“Akibatnya kalau sudah berurusan dengan hukum, tenaga dan ekonomi pun terkuras. Itu di antaranya kelalaian pengusaha di Majalengka. Kini kami berupaya melakukan sosialisasi aturan-aturan tersebut kepada para pengusaha agar usahanya tidak mendapat persoalan hukum, atau tidak digugat pengusaha lain,” ungkap Wawan.

Baru berdiri

Hal itu salah satunya dialami pabrik kecap terkenal di Majalengka, kecap “Suntama” atau sebelumnya dikenal kecap “ban bersayap”.

Beberapa tahun pemilik pabrik kecap, Maman sedianya akan menempuh HaKI ke Kementriam Hukum dan Ham, namun ketika mendaftar ternyata setahun kemudian ada jawaban yang menyebutkan bahwa kecap ban bersayap sudah dimiliki perusahaan lain di Jawa Tengah. Padahal perusahaan tersebut baru dua bulan berdiri namun langsung mengajukan hak paten.

Sedangkan ban bersayap milik Maman walaupun sudah berdiri sejak tahun 1965 namun pendaftaran HaKI-nya dilakukan belakangan, maka hak paten dimiliki industri lain.

“Industri kecap merek ban bersayap milik Maman berdiri jauh lebih dulu bedanya lebih dari 50 tahun, rasa kecap juga mungkin saja lebih enak kecap Majalengka, namun karena terlambat mendaftarkan akhirnya hak paten jadi milik orang lain,” kata Wawan.

Demikian juga dengan pabrik senar di Kecamatan Cikijing, kualitas senar lebih baik dibanding senar produksi lain, namun karena namanya sama akhirnya dianggap menggunakan mereka lain, dan berakibat patal.

Sementara itu, Maman (58 tahun), generasi kedua pembuat kecap ban bersayap, kini akhirnya menggunakan merek bernama “ban bersayap” di bawahnya ditulis “H Suntama” tanpa membubuhkan gambar ban bersayap. H Suntama adalah nama orang tuanya, yang melahirkan kecap merek ban bersayap.

Merek kecap tersebut dulunya diilhami kalau usaha harus tetap berputar makanya lambangnya ban mobil, sedangkan dua sayap filosofinya kalau usaha harus terus berkembang dan lebih besar dibanding sebelumnya.

“Intinya, usaha harus terus berjalan dan lebih berkembang,” ungkap Maman

Hanya hingga kini Maman ingin terus menempuh HaKI dengan merek dan gambar ban bersayap yang sudah puluhan tahun digunakannya, alasannya gambar roda dan sayap yang dimiliknya berbeda dengan industri kecap lain.

Selain itu yang paling utama adalah konsumen sudah lebih mengenal kecap “ban bersayap” dengan berubah nama artinya perusahaan harus terus melakukan promosi agar konsumen tidak beralih ke kecap lain.(Tati/KC Online)