The Institute of Internal Auditor Indonesia (IIA) dalam acara Konferensi yang dihadiri sekitar 500 auditor tersebut akan berlangsung pada 10-11 Oktober 2017 di Intercontinental Bandung Dago Pakar. PRLM/KC Online

BANDUNG, (KC Online).-

Indonesia masih kekurangan auditor internal bersertifikasi. Hingga saat ini baru sekitar 360 orang dari puluhan ribu internal auditor di Indonesia yang sudah mengantongi sertifikat berstandar internasional.

Demikian diungkapkan pengurus The Institute of Internal Auditor Indonesia (IIA), Angela Simatupang, di Bandung, Selasa (10/10/2017). Menurut dia, secara global, jumlah auditor bersertifikasi juga masih terbatas.

“Sertifikasi auditor internal adalah sebuah keharusan untuk mendapatkan pengakuan internasional. Akan tetapi, kalau membahas auditor bersertifikasi di Indonesia, jumlahnya memang masih cukup miris,” katanya.

Padahal, menurut dia, pada era pasar bebas ini sertifikasi pada banyak profesi, termasuk internal auditor, sudah menjadi kebutuhan. Sertifikasi bisa menjadi jalan untuk membuka peluang bekerja secara global.

Apalagi, lanjut dia, khusus untuk profesi auditor internal, saat ini sedang menghadapi tantangan besar yang datang dari revolusi industri keempat. Tantangan tersebut, menurut dia, hanya bisa ditaklukan dengan memperkuat kompetensi.

“Sertifikasi adalah kekuatan kita untuk bersaing. Bagaimana bisa memenangkan persaingan kalau pengakuan global saja belum dikantongi? Kuncinya memang harus meningkatkan kesadaran para auditor untuk memiliki perspektif lobal,” katanya.

Ia mengakui, di dunia sendiri, baru sekitar 65.000 auditor internal yang sudah tersertifikasi. Padahal, auditor internal yang sudah bergabung dengan IIA saja jumlahnya sudah hampir tiga kali lipat, mencapai 180.000 orang dari 165 negara.

“Sertifikasi internal auditor memang cukup ketat. Prosesnya sama di seluruh dunia. Keunggulannya, sertifikasi tersebut berlaku secara internasional,” tuturnya.

Kendati demikian, menurut dia, ujian sertifikasi tersebut tidak hanya tersedia dalam bahasa Inggris. Saat ini ujian sertifikasi internal auditor juga sudah tersedia dalam bahasa Indonesia, sehingga memudahkan peserta.

“Dulu, ujian sertifikasinya memang hanya tersedia dalam bahasa Inggris. Akibatnya, jumlah auditor Indonesia yang mengajukan sertifikasi sangat minim. Akan tetapi, sejak ada yang berbahasa Indonesia, partisipasi auditor internal untuk melakukan sertifikasi terus meningkat,” katanya.

Sertifikasi, menurut dia, hanya salah satu tantangan dalam prodesi auditor internal Indonesia saat ini. Menurut dia, ke depan masih banyak tantangan yang harus dihadapi dan dicarikan solusinya.

Hal itu menjadi perhatian IIA dalam konferensi nasional tahunan kali ini. Konferensi yang dihadiri sekitar 500 auditor tersebut akan berlangsung pada 10-11 Oktober 2017 di Intercontinental Bandung Dago Pakar.

Pada kegiatan tersebut akan ada sekitar 26 pembicara nasional dan internasional dengan 17 pembahasan pada konferensi tersebut. Beberapa negara yang hadir di antaranya adalah Australia, Selandia Baru, dan lainnya.(PRLM/KC Online)