Karyani (53 tahun) dan Hasyim (50 tahun) khusuk menabur kemenyan ke atas bara api. Mereka tidak membiarkan api menyurut padam, begitu api akan padam maka Karyani dan Hasyim akan terus mengipasi, menabur kemenyan, dan menambahkan arang. Jasa mereka disewa calon Kuwu Pegagan Lor, Warjata, Minggu (29/10/2017)/KC Online.*

WARJATA (50 tahun) tak bergeming meski kepulan asap kemenyan menutupi sebagian pemandangan di depan matanya, Minggu (29/10/2017), di depan Balai Desa Pegagan Lor, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon. Salah satu calon kuwu pada pilwu serentak di Desa Pegagan Lor ini terus dikipasi oleh saudaranya di kursinya.

Sementara di belakangnya, Karyani (53 tahun) dan Hasyim (50 tahun) khusuk menabur kemenyan ke atas bara api. Mereka tidak membiarkan api menyurut padam, begitu api akan padam maka Karyani dan Hasyim akan terus mengipasi, menabur kemenyan, dan menambahkan arang.

Karyani dan Hasyim bukanlah saudara sang calon kuwu, juga bukan tetangga. Mereka berdua dibayar secara profesional untuk menjaga bau kemenyan tetap terjaga, sehingga aura sang calon kuwu tetap terjaga pula. Mereka berdua menolak disebut dukun atau paranormal.

Baik Karyani maupun Hasyim merupakan warga Desa Trusmi Kulon, Kecamatan Plered. Mereka berdua sering menerima order semacam ini. Musim pilwu serentak sangat ditunggu-tunggu, sebab biasanya ada yang mengorder jasa mereka.

“Kami memang sengaja dipanggil ke sini, sengaja untuk melakukan ini. Supaya pak calon kuwunya bisa menang,” kata Karyani. Karyani menolak membicarakan berapa tarif yang dikenakannya ketika jasanya disewa.

Entah apa kaitan antara bau kemenyan dan kemenangan kuwu, namun menurut Karyani, dirinya percaya betul ada semacam kekuatan lain yang bisa membuat seorang calon kuwu bisa menang. “Karena saya sering menyaksikan para calon kuwu yang order jasa saya ya menang,” ungkapnya.

Menurutnya, Desa Pegagan Lor merupakan desa terjauh dirinya bertugas. Biasanya, yang meminta jasanya dia adalah warga di sekitar Kecamatan Weru. Diakuinya, order semacam ini merupakan pekerjaan utamanya dibandingkan menjual kue di Pasar Kue, Weru.

“Kalau tidak ada order ini, ya saya jual kue di Pasar Kue. Tapi biasanya, ada saja yang minta jasa saya ini untuk berbagai kegiatan,” katanya.

Untuk mengipasi bara api yang ditaburi kemenyan, ritualnya tidak sesederhana yang dipikir banyak orang. Karyani dan Hasyim sama-sama harus berpuasa. Bukan puasa seharian, tapi puasa sehari semalam.
“Tapi ya mungkin karena sudah kebiasaan, maka saya tidak merasa lapar kalau puasa sehari semalam,” tuturnya.

Beberapa syarat