ilustrasi/bukalapak.com

SAAT pertama kali pindah rumah di Kompleks Perumahan Permata Harjamukti, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon beberapa tahun lalu, Rohmat tidak menyangka jika dirinya bakal mengalami hal-hal gaib. Termasuk menyaksikan langsung keberadaan pasar gaib dengan segala aktivitasnya.

Kejadian bermula ketika ia pulang bekerja dari sebuah perusahaan swasta di daerah Pegambiran Kota Cirebon. Ketika itu, jam menunjukan pukul 16.30 WIB. Dalam keadaan lelah karena seharian bekerja, ia pun menyandarkan tubuhnya di atas kursi di depan teras rumahnya.

“Waktu itu mata saya tertuju ke lokasi ilalang yang tak jauh dari rumah. Belum lama bersandar, tiba-tiba saya melihat ada ular muncul di antara ilalang itu. Yang membuat saya merasa aneh, ternyata di atas kepalanya terdapat sebuah mahkota,” ujar Rohmat kepada KC Online, Minggu (29/10/2017).

Melihat pemandangan yang tak biasa itu jelas membuat Rohmat sangat terkejut. Namun karena diliputi rasa penasaran, akhirnya ia berusaha mendekati ular bermahkota tersebut.

“Ularnya seperti melihat kedatangan saya, namun ia tidak langsung pergi. Tatapannya begitu tajam. Ukuran badannya sama dengan lengan orang dewasa, warnanya hitam legam tetapi mahkotanya berwarna putih hijau menyala terang. Saya kira mata saya yang salah lihat, tetapi sekitar jarak 3 meter dengan ular aneh itu, mata saya dikucek-kucek tapi memang ternyata mahkota di kepala ular itu benar-benar nyata. Saya tidak sedang bermimpi,” ungkapnya.

Tak berapa lama, ular itu langsung pergi. Keanehan lainnya, tinggi ilalang hampir mencapai satu meter, namun kepala ular tersebut bisa melampauinya. Padahal ular yang ditemui Rohmat, bukanlah ular kobra atau king kobra. “Saya seumur hidup baru melihat ada ular semacam itu,” akunya.

Keganjilan yang dialami Rohmat tidak berhenti sampai di situ. Sejak bertemu dengan ular bermahkota, ia jadi sering mendengar percakapan-percakapan aneh yang hanya ia dengar di atas pukul 00.00 sampai pukul 03.00 WIB. Percakapan yang didengar Rohmat layaknya pedagang dan pembeli di sebuah pasar. Ramai sekali.

Posisi rumah Rohmat memang hampir pojok dekat cekungan Kali Pacit, Kampung Suketduwur, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti. Di sekitar lokasi itu terdapat sebuah makam keramat, yakni Ki Buyut Semambang. Bahkan menurut pengakuan sejumlah tokoh masyarakat setempat, konon dulunya terdapat sebuah keraton.

“Awalnya saya kira ada tetangga yang ngobrol ngalor ngidul, tetapi setelah saya perhatikan, ternyata obrolannya seperti sedang transaksi jual beli di pasar. Karena obrolan itu saya dengar hampir tiap hari, akhirnya saya coba keluar untuk mencari sumber suara,” paparnya.

Namun ketika Rohmat membuka pintu dan keluar mencari sumber suara, ia tidak menemukannya. Pemandangan yang ia lihat hanyalah suasana sunyi senyap dan gelap. Ia pun mencoba mendekati tempat ia melihat ular bermahkota, tetapi tidak menemukan apa-apa.

“Saya sampai heran, kalau dicari tidak ada suaranya tapi kalau sudah masuk ke rumah, suara itu terdengar lagi. Ini ada apa ya, kok suaranya jadi mengganggu tidur saya,” ucap Rohmat.

Menyaksikan pasar gaib

Upaya Rohmat untuk mengetahui asal sumber suara yang muncul tengah malam selalu gagal. Namun ia tidak merasa putus asa, sampai akhirnya, di penghujung senja setelah ia pulang dari kantor, ia kembali duduk di kursi depan terasnya.

“Saya ingat betul, waktu itu jam 17.00 WIB sepulang kerja saya duduk di kursi teras rumah. Kemudian antara sadar dan tidak sadar, saya berjalan menuju cekungan Kali Pacit. Saat melongok ke bawah, saya melihat kerumunan orang sedang lalu lalang dan sebagian lagi duduk di depan barang dagangannya,” ujar dia.

Karena penasaran, Rohmat pun menuruni cekungan Kali Pacit untuk melihat dari dekat apa yang sebenarnya terjadi. “Pas turun ke bawah, MasyaAllah, saya lihat banyak pedagang dan pembeli yang sedang bertransaksi. Mereka melihat keberadaan saya, tetapi nafsi-nafsi saja. Lalu saya keliling melihat-lihat lokasi pasar yang ternyata bentuknya memanjang mengikuti aliran Kali Pacit,” terangnya.

Rohmat terkagum-kagum dengan kondisi pasar yang tertata rapi dan bersih. Pakaian penjual dan pembeli sama seperti layaknya manusia nyata. Wajah-wajah mereka juga tidak ada yang menyeramkan sama sekali. Tubuh mereka pun sama seperti manusia normal pada umumnya.

“Satu per satu saya lihat mereka bertransaksi. Uang yang digunakan juga sama denga uang kita. Barangnya juga sama seperti layaknya pasar, ada yang jual ikan, daging, sayuran, barang pecah belah, barang-barang kelontong dan sebagainya. Pokoknya persis sama seperti di pasar-pasar tradisional pada umumnya,” paparnya.

Rohmat juga melihat kios-kios pedagang disinari lampu-lampu yang terang dan jalan yang beraspal. “Saya hanya membatin, jadi ini suara yang sering saya dengar pas tengah malam. Pantesan suaranya mirip seperti di pasar, tapi ini gaib,” ujarnya.

Menjelang bedug Maghrib, Rohmat bergegas kembali ke rumahnya. Ia tidak ingin berlama-lama di tempat itu karena khawatir tidak akan kembali lagi ke alam nyata. “Saya buru-buru pergi dan pas azan Maghrib, saya sudah sampai di rumah,” katanya.

Pengakuan Rohmat ini dibenarkan warga lainnya, Nana Suryana. Ia juga mengaku kerap mendengar suara-suara aneh tepat tengah malam. “Iya saya juga sering denger. Malah saya lihat kalau sudah maghrib, banyak kuntilanak berseliweran di kebon dekat cekungan Kali Pacit itu. Beberapa warga di sini juga sering ngeliat sesosok banyak putih berkelebat di kebon itu,” tuturnya. (Ruddy)