Ilustrasi

KUNINGAN, (KC Online).-

Mobil Honda Jazz bernomor polisi E 412 YF milik bendahara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, Arif Yudianto diduga sudah diintai dua orang perampok berinisial RM (35 tahun), warga Bengkulu yang tinggal di kosan wilayah Cimahi, Bandung dan RA (35 tahun) warga Lubuklinggau, Sumatera Selatan.

Sampai saat ini polisi terus melakukan pengembangan kasus perampokan modus pecah kaca mobil yang terjadi di depan Bank Central Asia (BCA) Jalan Siliwangi, Kabupaten Kuningan, pada Selasa (10/10/2017) sekitar pukul 10.45 WIB.

Diberitakan Kabar Cirebon sebelumnya, kedua perampok memecahkan kaca mobil bernopol E 412 YF dan mengambil uang tunai sekitar Rp 170 juta untuk kebutuhan pembayaran gaji honorer Disdikbud non pegawai negeri sipil (PNS).

Pemilik mobil, Arif Yudianto dan stafnya, Anadik meninggalkan mobil dalam keadaan kosong ketika melakukan keperluan pribadi di Bank BCA seusai mengambil uang tersebut dari bank bjb.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal Polres Kuningan, Ajun Komisaris Syahroni mengatakan, dugaan kuat kawanan perampok sudah mengintai dan mengikuti Arif Yudianto sebelum menjalankan aksi yang dilakukan kedua tersangka.

“Kalau pun mereka tidak mengikuti atau mengintai korban dari bank bjb, pasti ada pihak lain yang memberikan informasi gerak–gerik korban kepada tersangka. Keterlibatan orang lain pun setelah dilakukan pengembangan hingga malam hari. sampai saat ini kami belum mengetahui siapa dalang dibalik perampokan ini,” ujar Syahroni, Rabu (11/10/2017).

Disebutkan Syahroni, biasanya tersangka mengetahui korban menyimpan uang di bawah jok mobil itu kalau tidak ada yang mengintai sebelumnya.

Sudah pasti ada pihak lain yang menginformasikan hal ini kepada tersangka, sehingga mereka tahu bahwa korban menyimpan uang di bawah jok dengan begitu mereka langsung beraksi.

“Makanya kami sedang menganalisa rekaman Closed Circuit Television (CCTV) untuk mengetahui dari mana pelaku tahu bahwa di dalam mobil milik bendahara Disdikbud itu terdapat uang ratusan juta persis di bawah jok.

Oleh karenanya, kami mengimbau kepada masyarakat yang sering melakukan transaksi dalam jumlah banyak baik pribadi, swasta maupun pemerintah disarankan untuk meminta pengawalan pihak kepolisian,” kata Syahroni.

Diungkapkan Syahroni, biasanya korban itu mengambil uang apapun tidak pernah ada masalah atau gangguan keamanan.

Meskipun tidak tahu kapan gangguan keamanan bisa terjadi, karena tidak tahu ada orang yang mengintai dan sebagainya, korban baru sadar bahwa gangguan keamanan itu tidak mengenal tempat dan waktu. Apalagi itu posisinya dekat dengan perbankan.

“Saya kira sangat tepat kalau misalnya masyarakat ini bisa memperhitungkan keamanan pada saat mengambil uang dalam jumlah besar, dan memang korban ini juga tidak memperhitungkan faktor keamanan bagaimana kalau uang tersebut disimpan dalam mobil yang keadaan kosong.
Harusnya secara naluri atau secara hitung–hitungan demi keamanan uang itu dibawa. Minimalnya ketika ada yang jambret seperti itu bisa melakukan perlawanan,” tutur Syahroni.

Terkait dugaan adanya senjata tajam, pihak kepolisian sedang menyelidiki hal itu karena di dalam saku tersangka terdapat kunci leter T. Saat perampok itu melancarkan aksi pecah kaca menggunakan dua pecahan busi.

“Setelah kami cek saat olah TKP pecahan itu tidak ditemukan, saksi–saksi yang sudah kami periksa yakni dari pihak korban, anggota Satuan Lalulintas yang mengejar dan menangkap pelaku.
Kalau saksi dari masyarakat belum, karena kami menunggu pengendara yang memberitahu kejadian itu kepada petugas Satlantas ketika bertugas di pos polisi Citamba. Bagi kami pengendara yang memberitahu kepada petugas itu artinya dialah saksi kunci perampokan modus pecah kaca ini,” ujarnya.

Dijelaskan mantan Kasat Reskrim Polres Banjar, pihaknya sedang mengembangkan kasus ini yang dikhawatirkan ada jaringannya, karena kejadian perampokan dengan modus pecah kaca bukan hanya terjadi di wilayah Kuningan.

Tetapi juga peristiwa serupa bersamaan di wilayah hukum Polres Subang.

“Seusai diperiksa, tersangka mengakui bahwa perbuatannya baru dilakukan sekali. Kami mengembangkan itu untuk membenarkan pernyataan yang diungkapkan pelaku kepada penyidik,” katanya.(Agus/KC Online)