Majalengka dulu hingga kini dikenal sebagai produsen kecap. Tati/KC Online

MAJALENGKA, (KC Online).-

Majalengka dulu hingga kini dikenal sebagai produsen kecap. Namun mungkin kini tidak banyak yang tahu kalau kecap Majalengka yang dikenal No 1, kini sebagian sudah tutup dan sebagian lagi sudah mengurangi jumlah produksinya akibat kalah bersaing dengan produk kecap lain yang lebih besar.

Walaupun kecap Majalengka dikenal enak dan dicari pendatang untuk oleh-oleh, namun nyatanya warga Majalengka sendiri banyak yang memilih mengonsumsi kecap luar, termasuk tukang sate. Produsen kecap yang mengurangi produksinya karena pasarnya yang semakin berkurang antara lain adalah kecap merk “ban bersayap” atau kecap “suntama” yang sudah berdiri sejak tahun 1965.

Menurut pemilik pabrik kecap Suntama, Maman Supratman, di Kelurahan Tonjong, dalam sebulan dia hanya menghabiskan 2 kw kedelai yang kedelainya berasal dari kedelai lokal. Dalam seminggu dia hanya empat hari produksi, karena pasarnya yang terus menurun, kalah oleh industri kecap besar.

Untuk menyiasati pasar, dia berusaha membuat kemasan botol plastik, karena konsumen kini lebih memilih kemasan botol plastik. Pasar kecapnya kini sejumlah wilayah di Majalengka dan kabupaten lain di wilayah III.

Maman menyebutkan, kini warga Majalengka sendiri lebih banyak yang menggunakan kecap-kecap produk lain, tidak memilih mengonsumsi kecap Majalengka. Baik ibu rumah tangga ataupun pedagang sate. “Kalau pendatang masih banyak yang mencari kecap Majalengka untuk oleh-oleh karena memang hingga kini Majalengka masih dikenal sebagai produsen kecap,” kata Maman.

Penurunan

Penurunan produksi juga terjadi pada kecap “matahari” atau lebih dikenal dengan kecap “Tjun Teng” yang pabriknya berada di ruas jalan Abdul Halim Majalengka.

Menurut penerus usaha industri kecap Tjun Teng, Eng Riani, industri kecap yang kini masih ditekuninya tersebut didirikan oleh orang tuanya tahun 1928.
Menurut Eng Riani, jika dulu industri kecapnya menguasai pasar di wilayah III Cirebon hingga ke Jawa Tenga dan jawa Timur serta Sumedang dan wilayah lainnya, kini pasarnya hanya di Sumedang, itu pun jumlahnya tidak begitu banyak.

Dalam seminggu hanya 20 peti saja dengan isi setiap petinya sebanyak 15 botol. Kedelai yang menjadi bahan baku kecap ia dipasok dari anaknya yang kini membuat industri kecap dengan merek sendiri yaitu kecap jago. “Sekarang pekerja juga turun, karena industri turun. Sekarang kalah dengan kecap lain,” ungkap Eng Riani.

Pasar Indramayu dan Cirebon kini ditinggalkannya dan pasar diisi oleh anaknya. Dia kini hanya memproduksi kecap asin sesuai resep peninggalan orang tuanya serta kemasannya tetap menggunakan botol kaca atau diistilahkan warga Majalengka botol beling.

Eng Riani tidak mengubah kemasan seperti yang dilakukan produsen lain dengan sachet atau botol plastik. Alat masak pun masih tetap tradisional menggunakan kayu bakar.

“Tidak buat sachet karena harus mengeluarkan modal lagi untuk kemasannya, biarlah tetap seperti ini,” kata Eng Riani

Kepala Bidang Perindustrian Wawan Kurniawan membenarkan, semakin berkurangnya produsen kecap. Ada sejumlah pabrik yang terkendala pemasaran serta persoalan lainnya serta kalah bersaing dengan industri besar.

“Ada juga yang keturunannya tidak melanjutkan usaha orang tuanya, sehingga sekarang katanya asal produksi sekadar mempertahankan keberadaan produksi kecap seperti halnya Kecap Maja Menjangan. Karena pada umumnya produksi kecap di Majalengka ini melanjutkan usaha orang tua. Tidak ada produsen baru untuk industri kecap,” ungkap Wawan.(Tati.KC Online)