Kamis (26/10/2017), Pemkab Kuningan melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU), Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), dan Pemerintah Desa (Pemdes) Babakan Mulya, Kecamatan Jalaksana, menggelar apresiasi seni tradisi upacara adat Kawin Cai bertema “Mupusti Tradisi Kawin Cai, Ngarumat Adat Budaya Sunda, Pikeun Ngaronjatkeun Ajen Kapariwisataan Kabupaten Kuningan”.Erix/KC Online

PEMERINTAH Kabupaten Kuningan konsisten mempertahankan kearifan lokal dengan mengapresiasi penampilan tradisi di setiap desa. Di mana setiap desa giat menggelar upacara adatnya masing-masing, seperti sedekah bumi, babarit, dan sebagainya.

Hal tersebut dalam rangka menjaga kelestariannya dan mengenalkan kepada generasi penerus agar tidak sampai melupakan jati diri daerahnya. Sebab anak-anak muda era milenial ini semakin tergerus oleh hegemoni budaya asing sehingga mendewakan budaya asing yang kurang selaras dengan budaya bangsa Indonesia.

Kamis (26/10/2017), Pemkab Kuningan melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud), Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU), Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), dan Pemerintah Desa (Pemdes) Babakan Mulya, Kecamatan Jalaksana, menggelar apresiasi seni tradisi upacara adat Kawin Cai bertema “Mupusti Tradisi Kawin Cai, Ngarumat Adat Budaya Sunda, Pikeun Ngaronjatkeun Ajen Kapariwisataan Kabupaten Kuningan”.

Tepat seusai shalat dzuhur, upacara Kawin Cai dimulai. Ribuan warga desa dan dari desa sekitar berbondong-bondong datang menyaksikan ritual ini. Sebelum masuk pada pembukaan upacara, Kepala Desa bersama para sesepuh desa disambut Ki Longser untuk dibawa pada kereta kuda.

Unsur Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) yang hadir pun ikut menaiki kereta-kereta kuda atau delman yang telah dipersiapkan, termasuk unsur Muspika Kecamatan Jalaksana, Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), dan para kepala desa se-Jalaksana serta ratusan warga Desa Babakan Mulya berjalan beriringan menuju tujuh sumur kramat di Objek Wisata Cibulan, Desa Manis Kidul dengan melintasi Desa Sadamantra dan Desa Padamenak Kecamatan Jalaksana.

Setibanya di pintu masuk sumur kramat tersebut, Kuwu Balong atau Kuncen Petilasan Prabu Siliwangi dan Tujuh Sumur Kramat Cibalon, Ki Agus Syuhada menyambutnya. Sebelum mengambil air dari tujuh sumur kramat Cibulan, Kades Babakan Mulya dan para sesepuh desa diajak Kuwu Balong memanjatkan doa kehadirat Allah SWT di ruang Petilasan Prabu Siliwangi, tepatnya di dekat tujuh sumur kramat Cibulan.

Setelah selesai, para sesepuh Desa Babakan Mulya dengan membawa wadah berupa ‘buyung atau kendi dari tanah liat’ diisikan air yang diambil Kuwu Balong dari tujuh sumur kramat Cibulan. Rombongan pun kembali ke Objek Wisata Balong Dalem.

Sesampainya kembali di Balong Dalem, Kades Babakan Mulya dan para sesepuh desa, serta Kuwu Balong disambut Tari Buyung yang dibawakan para gadis cantik. Tarian itu khas Kabupaten Kuningan. Setelah itu menuju hulu sungai Tirtayatra yang letaknya sekitar 200 meter dari Balong Dalem untuk mencampurkan air dari tujuh sumur kramat Cibulan dengan air hulu sungai Tirtayatra.

Air yang sudah bercampur diwadahi kembali ke dalam buyung untuk selanjutnya dimandikan kepada para perangkat desa dan tokoh masyarakatnya sebagai simbol membersihkan diri, sehingga bisa mengayomi dan mensejahterakan masyarakatnya.

Dukung pariwisata

Kepala Bidang Pariwisata Disporapar Kuningan, Hj. Nani Rusnani menyampaikan, upacara adat yang digelar di desa-desa di Kuningan, selain bisa menjaga kelestarian tradisi budaya desa juga membangkitkan dan memajukan sektor pariwisata daerah.

“Dengan rutinnya setiap tahun Upacara Kawin Cai ini digelar, mendukung bidang pariwisata Kuningan yang tengah dalam perkembangan pesat. Pak Presiden Joko Widodo pun selalu berpesan untuk bisa membangun, yang diawali dari tingkatan desa, dan sektor pariwisata serta kearifal lokal dijaga kelestariannya,” kata Nani Rusnani.

Pihaknya juga berharap, semua desa di Kuningan bisa menampilkan tradisi adat budayanya demi menjaga kelestarian agar tidak sampai punah, dilupakan generasi penerusnya.

“Semua tradisi budaya di setiap desa merupakan bentuk syukur atas raihan kesejahteraan atau kemakmuran hasil bumi karunia Allah SWT. Di samping mendorong sektor kepariwisataan daerah juga mendekatkan diri kepada Tuhan YME, dan merangsang kita untuk bersyukur dan beramal baik,” tuturnya.

Sementara Kepala Desa Babakan Mulya, Titin Kartini menuturkan, upacara adat Kawin Cai yang turun-temurun sudah menjadi agenda tahunan di Desa Babakan Mulya.

Tujuannya mensyukuri segala nikmat Tuhan YME., yang telah dianugerahkan kepada warga Desa Babakan Mulya atau desa sekitarnya. Selain pengingat kepada manusia untuk bisa menghargai setap bulir atau tetesan air.

“Upacara Kawin Cai setiap tahunnya dilaksanakan pada hari Kamis malam Jum’at Kliwon di Bulan Ruwah atau Bulan Oktober. Kawin Cai berarti mencampurkan air dari mata air Cikembulan yang berada di Desa Manis Kidul dengan mata air Tirta Yatra yang ada di Desa Babakan Mulya.
Upacara Kawin Cai juga bisa menjadi upacara meminta hujan kepada Allah SWT, serta sebagai limpahan syukur atas rahmat dan karunia yang telah Allah SWT berikan kepada kita selaku manusia. Dengan kegiatan ini harapannya bisa lebih mengenalkan Objek Wisata Balong Dalem kepada masyarakat luas,” tutur Titin.(Erix/KC Online)