Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, seusai menghadiri peringatan Hari Kesehatan Nasional di halaman depan Gedung Sate, Bandung, Senin (13/11/2017). Mutiara/KC Online

BANDUNG, (KC Online).-

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengatakan sudah 70 persen warga Jawa Barat terdaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS).

“Jumlah peserta di Indonesia yang ikut jaminan kesehatan itu terbanyak di dunia. Warga Jawa Barat sudah 70% terdaftar jadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat. Tapi, kalau hitungan kabupaten/kotanya yang terbaik Kota Cirebon sudah 99%, Kota Bandung akan mencapai angka 91 persen. Mudah-mudahan, lebih banyak warga yang menyusul menjadi peserta jaminan kesehatan,” ujar Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, seusai menghadiri peringatan Hari Kesehatan Nasional di halaman depan Gedung Sate, Bandung, Senin (13/11/2017).

Aher, sapaan Ahmad Heryawan, menambahkan, pemerintah Jawa Barat sudah menandatangani nota kesepahaman dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan guna mempercepat target Universal Health Coverage (UHC) JKN-KIS.

“Kalau sudah sampai di angka 99 persen, sudah masuk kategori Universal Health Coverage. Baru tiga pemerintah daerah yang sudah masuk kategori UHC tersebut yaitu Yogyakarta, Semarang, dan Kota Cirebon,” ujarnya.

Selanjutnya, Aher memaparkan, Pemerintah Jawa Barat memberikan subsidi hingga 40 persen bagi warga tidak miskin untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan.

“Kita punya program Jamkesda, Jaminan Kesehatan Daerah, kerja sama provinsi dan kabupaten/kota. Selama ini provinsi mengcover 40 persen dari seluruh pembiayaan, 60 persen oleh kabupaten/kota masing-masing. Setara Rp 225 miliar sampai Rp 250 miliar setiap tahunnya,” papar Aher.

Aher mengatakan, Saat ini, seharusnya masyarakat khususnya yang mampu perlu didorong adalah keanggotaan peserta mandiri untuk program JKN-KIS.

“Bagi masyarakat yang mampu justru sangat mulia, kalau mereka mendaftarkan diri mengikuti program Jaminan Kesehatan yang mandiri, karena dia sudah sadar betul kesehatan sangat penting. Dampaknya, ketika dia sakit, akan tercover. Ketika orang lain sakit, uangnya tersebut bisa membantu orang lain,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah Jawa Barat, Mohammad Edison, mengatakan, data kepesertaan per 31 Oktober 2017, di Jawa Barat sudah menembus 30,777 juta orang dari 43,74 juta penduduk Jawa Barat atau sekitar 70,36%.

Paling kecil

Edison mengatakan, porsi peserta yang iurannya dibayarkan pemerintah, baik lewat Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) menembus 14 juta orang.

“ Jumlah peserta Jaminan Kesehatan mandiri berada di porsi paling kecil. Di Jawa Barat itu angka peserta mandirinya sekitar 2,5 juta orang. Peserta Jaminan Kesehatan mandiri ini pun belum semuanya rutin membayar iuran. Di Jawa Barat, tingkat kolektivitasnya 53 persen. Artinya, ada masyarakat yang saat sakit baru datang ke kantor (melunasi iurannya). Semoga kedepannya, lebih banyak lagi orang yang terdaftar Jaminan Kesehatan Nasional khususnya bagi yang belum terdaftar,” paparnya. (Mutiara/KC Online)