Area makam Buyut Dana Rasa/KC Online.*

NYARIS tak ada yang berbeda ketika Tim KC Online menelusuri area pemakaman umum yang terletak di Desa Gombang, Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon ini. Hanya saja, di depan areal TPU yang berdampingan dengan sebuah musala ini terdapat sebuah papan mirip gapura yang bertuliskan Buyut Dana Rasa.

Ketika melongok ke dalam kompleks makam, hanya terlihat ratusan nisan yang di sela-selanya terdapat puluhan pohon besar aneka jenis. Tumbuh lebat hingga nyaris menutupi cahaya matahari yang berusaha menembus area pemakaman tersebut.

Menurut penuturan salah seorang tokoh masyarakat setempat, Iin, kompleks makam ini terkadang didatangi peziarah yang ingin berdoa di salah satu makam yang ada, yakni Buyut Dana Rasa.

“Kalau dulu masih suka ada peziarah yang datang ke sini, tetapi sekarang sudah sangat jarang. Saya sendiri kurang paham sejarah Ki Buyut Dana Rasa, tetapi menurut informasi yang beredar, beliau adalah salah satu pendiri desa ini dan salah satu penyebar agama Islam di Cirebon,” ungkapnya.

Memang, tak banyak informasi yang bisa digali Tim KC Online atas sosok Ki Buyut Dana Rasa. Meski demikian, sebagian warga mengaku pernah melihat adanya istana besar berdiri kokoh di tengah areal kompleks pemakaman.

“Istana itu berwarna putih dan konon merupakan tempat kediaman Ki Buyut Dana Rasa. Saya termasuk salah seorang yang pernah melihat langsung penampakan istana gaib tersebut dan umumnya warga menyaksikan kemunculan istana tak kasat mata itu pada malam Jumat Kliwon,” tuturnya.

Istana itu, lanjut Iin, bentuknya sangat indah dan megah. Di depannya terdapat banyak anak tangga yang juga berwarna putih. Di sekelilingnya juga dibangun semacam gazebo atau rumah mirip saung yang tak kalah indahnya. Pintu istananya juga besar dan tinggi. “Pokoknya sulit dilukiskan dengan kata-kata,” akunya.

Iin juga tidak menampik jika selain ada istana gaib, di areal pemakaman itu juga kerap terdengar seperti suara auman harimau. Bahkan ada warga yang sempat melihat penampakan harimau putih di depan kompleks makam.

“Kalau untuk sosok harimau putih saya tidak pernah lihat, tapi tetangga saya mengaku pernah melihat ada harimau sedang berjalan di depan pintu masuk kompleks makam itu,” ujarnya.

Yang membuat Iin tak habis pikir, dua marbot atau penjaga musala kedapatan depresi berat. Keduanya merupakan pria lajang yang biasa mengurus musala.

“Yang pertama stres, dan yang kedua juga sama stres. saya tidak paham kenapa bisa begitu, menurut penuturan orang yang mampu berkomunikasi dengan Ki Buyut Dana Rasa, karena orang itu tidak bisa mengurus kebersihan musala dengan baik, dan sampai sekarang tidak ada marbot khusus, tetapi warga bergantian membersihkan musala,” paparnya.

Iin berharap, siapapun yang nanti menjaga musala bisa memelihara kebersihannya dengan baik. “Saya harap musala ini dapat dijaga dengan baik, karena kalau sore biasanya dipakai untuk belajar ngaji anak-anak di sekitar sini,” ucapnya.(KBI)