Bupati Anna (Retno KC Online.Doc)

INDRAMAYU, (KC Online).-

Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Indramayu turun drastis. Turunnya kasus tersebut, salah satunya disebabkan oleh perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) di masyarakiat. Kendati demikian, masyarakat tetap diminta hati-hati memasuki musim hujan nanti.

Kepala Dinas Kesehatan Indramayu, Deden Boni Koswara mengatakan, pada tahun 2017 ini, hanya ada 94 kasus DBD di Indramayu dengan korban jiwa nihil. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, ada penurunan kasus.

Yakni, pada tahun 2016 terdapat 911 kasus DBD dan merenggut korban jiwa sebanyak 33 orang.

Dikatakan Deden, turunnya kasus DBD merupakan hal positif bagi masyarakat. Kemungkinan, masyarakat sudah menerapkan pola perilaku hidup bersih dan sehat. “Sudah muncul kesadaran dari masyarakat untuk hidup bersih-bersih,” katanya, Selasa (14/11/2017).

Selain itu, faktor cuaca juga berpengaruh terhadap kasus DBD di Indramayu. Pada tahun kemarin, musim kemarau terpantau basah. Dengan artian, hujan kerap mengguyur meskipun di tengah musim kemarau. Berbeda dengan tahun ini, di mana musim kemarau terpantau kering dan gersang.

Lebih jauh Deden menjelaskan, kendati kasus DBD menurun, pihaknya tetap mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga pola perilaku hidup sehat. Apalagi, dalam waktu dekat akan memasuki musim hujan.

Deden menambahkan, untuk antisipasi penyebaran DBD masyarakat wajib melakukan 3 M yakni mengubur, menguras dan menutup.

Cara tersebut hingga saat ini paling efektif untuk memberantas penyebaran penyakit DBD lewat pemberantasan sarang nyamuk. Nyamuk aedes aegypti senang berkembang biak di air bersih.

Jika lingkungan sudah sehat maka harus ditunjang pula dengan kondisi badan yang prima. Kedua aspek tersebut penting sebagai langka pencegahan terpapar penyakit, termasuk agar tubuh tetap prima masyarakat disarankan untuk memakan buah dan sayur.

“Juga jaga kondisi dengan aktifitas fisik 30 menit sehari,” ujarnya.

Secara tepisah, Bupati Indramayu Anna Sophanah mengatakan, untuk menjaga kesehatan harus dilakukan dari lingkup terkecil yakni keluarga. Untuk itu, ia menekankan pentingnya gerakan masyarakat hidup sehat.

“Germas bertujuan untuk menghindarkan terjadinya penurunan produktivitas penduduk,” ungkap Anna.

Sejalan dengan hal tersebut Germas juga dapat menurunkan beban pembiayaan layanan kesehatan. Soalnya, jika masyarakat sehat maka jarang ada warga yang mengklaim asuransi kesehatan.

“Germas mengajak masyarakat untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat. Menjadi mau melakukan langkah kecil perubahan pola hidup ke arah yang lebih sehat,” tutur dia.

Secara nasional kata Anna, Germas mengangkat tiga aspek penting dalam kesehatan.

Antara lain melakukan aktivitas fisik 30 menit seriap hari, mengkonsumsi buah dan sayur, dan memeriksa kesehatan secara rutin minimal 6 bulan sekali. Langkah-langkah di atas merupakan upaya dini antisipasi serangan penyakit. (Odok/KC Online)