Ilustrasi/youtube.com

KISAH nyata ini masih melekat erat dalam ingatan Ustad Abdul Rahman, atau warga sekitar memanggilnya dengan sebutan Dul. Pria paruh baya yang tinggal di Desa Wanasaba, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon ini selama hidupnya memang tak lepas dari unsur mistis.

Sebelum mendalami agama, Dul hidup dari satu padepokan ke padepokan lainnya. Ia memang gemar menuntut ilmu kebatinan dan hingga kini ia kerap menolong orang yang tengah dilanda kesulitan tanpa pamrih.

Banyak warga yang merasa cocok dengan pengobatan ala ayah tiga putra ini. Kendati tidak sedikit tamu yang datang, namun kehidupannya masih tergolong sangat sederhana. Ia beserta keluarganya masih tinggal bersama saudaranya yang di lain di rumah pusaka (peninggalan orang tua, Red).

Sehari-hari, Dul mengajari anak-anak mengaji di musala yang letaknya persis di depan tempat tinggalnya. Di sela waktu luangnya, ia menerima tamu dari segala penjuru Tanah Air. Ada yang ingin dibantu masalah perjodohan, rumah tangga yang terancam kehancuran, kesulitan ekonomi, pembersihan aura negatif dan sebagainya.

“Terus terang, ada juga tamu yang minta dibantu untuk mencelakai orang lain atau orang yang dianggap musuh semacam santet, ada juga yang pengen dibantu dengan cara jual musuh atau JM. Bahkan mereka berani membayar saya ratusan juta rupiah, tapi saya tolak. Soalnya, itu sama saja saya menghilangkan nyawa manusia,” tandasnya kepada KC Online, Sabtu (4/11/2017).

Bagi Dul, membantu kesulitan orang lain diyakininya akan mendatangkan berkah. Oleh karena itulah, ia pun rela meski hanya dibayar dua bungkus rokok kretek, meskipun dalam ilmu gaib nyawa bisa menjadi taruhannya.

“Kebanyakan yang datang ke sini untuk urusan jodoh, perceraian dan ekonomi. Selama saya bisa bantu saya pasti bantu, tetapi kalau sekiranya tidak mungkin saya akan katakan tidak bisa bantu. Lebih baik jujur di awal daripada memberi harapan palsu,” paparnya.

Dari sekian banyak pengalaman yang telah ia alami, peristiwa penyelamatan TKI-lah yang masih sangat membekas hingga kini. Sebenarnya, Dul merasa sungkan menceritakan pengalamannya tersebut, namun akhirnya ia pun mau berbagi cerita.

“Waktu itu saya masih memiliki kantong macam atau KM. Benda yang terbuat dari kulit macan ini adalah peninggalan almarhum ayah saya. Dengan kantong macam, kita bisa menembus ruang dan waktu tanpa batas. Namun harus diimbangi dengan ibadah lain dan tidak boleh disalahgunakan,” ujarnya.

TKI di Malaysia