Ilustrasi

JAKARTA, (KC Online).-

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir mendorong perguruan tinggi untuk mendirikan pusat inkubator teknologi inovasi.

Inkubator tersebut akan berguna untuk menopang model bisnis masa depan dunia. Pasalnya, inkubator teknologi inovasi akan melahirkan banyak perusahaan pemula (startup) yang dikelola mahasiswa.

Nasir menjelaskan, aktivitas di pusat inkubator harus selaras dengan kebutuhan industri dan dunia usaha.

Menurut dia, semua kampus di daerah sudah saatnya memiliki dan mengembangkan inkubator inovasi yang sesuai dengan kekhasan daerah masing-masing. Sinergi antara perguruan tinggi negeri dan swasta akan memperkuat fungsi sebuah inkubator inovasi.

“PTN dan PTS harus bersinergi demi meningkatkan daya saing bangsa. Banyak peluang kerja sama yang dapat dibangun antara PTN dan PTS. Bisa dalam bidang riset, publikasi, magang dosen, pengabdian kepada masyarakat,
program kreativitas mahasiswa, inkubator inovasi, pendidikan antikorupsi, dan gerakan antiradikalisme,” ucap Nasir melalui siaran pers Kemenristekdikti.

Ia menturkan, keberadaan inkubator inovasi juga akan memberi kontribusi kepada masyarakat. Mahasiswa dan dosen bisa memberikan pendampingan kewirausahaan yang berbasis pada inovasi teknologi. Ia menegaskan, inovasi terus tumbuh dan memberi manfaat sekaligus menguntungkan secara bisnis.

“Muaranya adalah meningkatnya daya saing bangsa,” ujarnya.

Dari sekitar 4.500 perguruan tinggi se-Indonesia, Universitas Indonesia (UI) menjadi satu di antara sekian banyak PTN yang semakin serius mengembangkan inkubator bisnis inovasi. Dalam kurun 2 tahun terakhir, pusat inkubator bisnis inovasi UI sudah melahirkan sebanyak 18 perusahaan baru yang dibina Direktorat Inovasi dan Inkubator Bisnis UI (DIIB-UI).

Semua perusahaan baru tersebut kini sedang mencari investor. Sejumlah perusahaan yang sedang berkembang itu sepenuhnya dibangun dari ide para mahasiswa UI.

Direktur DIIB UI, Taufiq Wisnu Priambodo mengatakan, para mahasiswa yang tergabung dalam inkubator menjalani pelatihan selama dua tahun. Mentor yang mendampingi mereka berasal dari praktisi, akademisi, dan pegawai pemerintah. Menurut dia, dari pembinaan tersebut, DIIB UI mampu mengembangkan 21 startup. Sebanyak 13 startup mendapatkan pendanaan dari UI, sedangkan dana untuk 8 lainnya berasar dari Kemenristekdikti.

“Kami menggelar beberapa kompetisi internal dan eksternal, untuk menyeleksi ide dan prototipenya. Setelah lulus baru masuk ke inkubasi bisnis yang kami kelola. Seleksi itu melibatkan tim penilai dari internal dan eksternal UI, termasuk dari pemerintah,” ucap Taufiq.

Ia mengatakan, perusahaan baru berbasis teknologi relevan dengan minat dan bakat mahasiswa zaman sekarang. Penetrasi internet yang merasuk ke segala lini harus dipandang sebagai sebuah peluang bisnis yang menjanjikan. Menurut dia, pasar untuk membangun perusahaan baru dalam bidang inovasi teknologi masih terbuka luas.

“Dukungan dari pemerintah cukup baik. Kami mencari investor dari dalam dan luar negeri. Startup yang dikembangkan ada dari berbagai bidang. Ada kesehatan, transportasi massal, lingkungan dan lain-lain. Peserta inkubator ada yang masih aktif sebagai mahasiswa dan alumni,” ujarnya.(PRLM/KC Online)