Permainan Anak Tradisional / KC Online

KUNINGAN, (KC Online).-

Perkembangan teknologi dan transformasi budaya ke arah kehidupan modern, menjadikan generasi sekarang jauh dari permainan tradisional. Padahal sebenarnya banyak sisi positif yang bisa didapatkan dari permainan tradisional ketimbang modern.

Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Kuningan, Hj. Ika Acep Purnama saat menghadiri acara monitoring dan evaluasi (monev) dari Tim Penilai lomba Peningkatan Peranan Wanita Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) Provinsi Jawa Barat, di Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, belum lama ini mengemukakan, anak zaman sekarang (kids zaman Now) sejak kecil sudah erat dengan gadget dan internet, sehingga di masa remajanya jadi ketergantungan.

Menurutnya, dengan lebih banyak berinteraksi secara online dari pada offline, mulai dari berkomunikasi, membaca dan hiburan, generasi masa kini jadi jauh lebih melek teknologi dan bisnis,serta lebih kreatif dibanding sebelumnya.

“Generasi Z yang disebutkan untuk generasi yang sejak ia bisa berjalan dan berbicara, sudah akrab dengan internet. Generasi ini berbeda dengan Generasi Milenial yang sempat merasakan dunia tanpa internet, karena Generasi Z ini jauh lebih muda. Di negara-negara maju, Generasi Z ini kelahiran 1995 dan setelahnya, atau yang saat ini sudah, atau belum berusia 22 tahun.
Tapi patokan usia ini jadi agak berbeda di masing-masing negara. Negara-negara berkembang seperti Indonesia memiliki generasi Z yang lebih muda, yakni di usia 20 tahun ke bawah. Mereka inilah yang kemudian dikenal sebagai ‘Kids zaman Now,” tuturnya.

Hj. Ika mengungkapkan, anak zaman sekarang banyak tidak mengenal permainan tradisional. Karena itu perkembangan teknologi dan transformasi budaya ke arah kehidupan modern, menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan nilai-nilai dari permainan tradisional.

“Globalisasi dunia juga memberikan pengaruh yang besar dalam hal itu”, ujarnya.

Padahal sebenarnya lanjut Ika, banyak sisi positif yang bisa didapatkan dari permainan tradisional ketimbang permainan modern.Antara lain, pemanfaatan bahan-bahan permainan yang berasal dari alam dan memiliki hubungan yang erat dalam melahirkan penghayatan terhadap kenyataan hidup manusia serta dapat membentuk karakter anak dari kegiatan pendidikan, pemahaman konsep-konsep nilai dan sebagainya.

Kemudian salah satu cara melestarikan permainan tradisional yakni melalui pendidikan di sekolah, yang memadukan unsur-unsur tradisional daerah dengan mata pelajaran. Seperti adanya kolaborasi silabus mata pelajaran dengan permainan tradisional yang dikemas secara kekinian. Sehingga bisa mudah diterima oleh anak-anak zaman sekarang.

“Sebagai contoh pada pelajaran olahraga, guru juga bisa sesekali menggabungkan jenis olahraga dengan permainan tradisional yang tidak kalah menariknya, mulsi dari bebentengan, oray-orayan, dadaluan, engklek, dan sebagainya. Dengan begitu, permainan tradisional tidak akan luntur dan tetap diminati anak-anak,” katanya.(Erix/KC Online)