kabar-cirebon.com

KEDAWUNG, (KC Online).-

Pertumbuhan yang terjadi di Cirebon saat ini ibarat pertumbuhan yang terjadi di Cina saat 2004 lalu. Saat itu, pertumbuhan yang terjadi di Cina begitu pesat dan kini menempatkan Cina sebagai salah satu raksasa ekonomi dunia.

Kepala Pusat Studi Energi (PSE) Universitas Gajah Mada, Deendarlianto mengatakan, Cirebon pun bisa merangkak seperti itu dalam skala daerah.

Selain ditunjang oleh Tol Cipali dan dalam waktu mendatang ditunjang pula Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati di Majalengka, Cirebon bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi di Jawa Barat dan bahkan Indonesia jika bisa terus konsisten melakukan pembangunan positif, salah satunya adalah rencana pembangunan kawasan industri seluas 10 ribu hektare.

“Ingat ya sebelum 2004 itu bagaimana kondisi Cina, begitu miskin. Tapi lihatlah sekarang, dia sudah menjadi raksasa ekonomi dunia. Lalu, di Indonesia, salah satu daerahnya adalah Cirebon kini sedang menggeliat, pertumbuhannya begitu cepat persis di Cina. Apalagi pemerintah daerah setempat merencanakan adanya kawasan industri seluas 10 ribu hektare,” kata Deendarlianto di sela Focus Group Discussion dengan tema “Manfaat Terjaminnya Pasokan Energi Listrik Untuk Mendukung Pertumbuhan Ekonomi di Pulau Jawa” di Hotel Aston, Rabu (6/12/2017).

Namun, menurutnya, dengan pertumbuhan ekonomi yang begitu cepat ini, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan, yaitu keberadaan energi. Sebab antara pertumbuhan industri dengan kebutuhan energi sangat berbanding lurus.

“Memang betul saat ini di Jawa sedang ada over surplus pasokan energi. Infrastruktur listrik ini jangan lupa harus ada jaringan transmisinya, yaitu saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET). Masyarakat Cirebon jangan alergi terhadap SUTET, sebab berdasarkan penelitian kami di PSE UGM, tegangan tinggi pada SUTET tidak menyebabkan radiasi, itu hanya isu saja,” tuturnya.

Deendarlianto juga mengatakan, jika ada pembangunan SUTET yang baru, maka setidaknya Pemerintah Kabupaten Cirebon dan PLN harus bersinergi. Salah satunya bersinergi dalam soal pembebasan lahan untuk SUTET.
Sementara soal PLTU yang berada di Cirebon, menurutnya, sudah berada di level andal yang memang dibutuhkan oleh masyarakat agar pasokan listrik bisa lancar.

“Ada beberapa level, yaitu di mana saat dulu itu cukup hanya ada listrik, kemudian setelah level itu bagaimana kini listrik juga harus efisien dan sebagainya yang disebut level andal, nah PLTU sudah ada di level itu (andal),” ujarnya.

Sementara itu, peneliti PSE UGM, Sunyoto Usman yang menjadi salah satu pembicara mengatakan, diperlukan peranan pemerintah daerah dalam menyusun regulasi untuk mempercepat pembangunan ekonomi dengan tersedianya pasokan energi listrik tersebut.

“Pemerintah daerah dalam hal ini Pemkab Cirebon misalnya bisa memfasilitasi pembebasan lahan untuk pembangunan SUTET, sebab di masyarakat ini resistensinya tinggi sekali, dan jangan serta merta menyerahkannya kepada PLN, inilah peranan yang dibutuhkan dari pemerintah daerah,” katanya.

Pemkab Cirebon juga diminta untuk memetakan potensi industri yang akan dibangun di kawasan industri nantinya.

“Kalau sudah bisa dipetakan, maka akan membantu berapa energi yang akan dibutuhkan di Cirebon. Jangan sampai energi yang masuk berlebih atau kurang, melainkan harus tepat guna. Makanya dibutuhkan segera pemetaan potensi industri tersebut, misalnya di kawasan industri seluas 10 ribu hektare itu industri apa saja yang kira-kira akan dibangun,” tuturnya.(Fanny)