kabar-cirebon.com

SUMBER, (KC Online).-

Keberadaan empat truk yang berisi limbah medis hilang misterius. Sebab, setelah diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD) Kabupaten Cirebon pada Jumat (8/12/2017) lalu, ribuan ton limbah medis yang terdiri dari jarum suntik bekas, suntikan bekas, ampul bekas, botol infus bekas, selang infus bekas, jarum infus bekas, obat kadaluarsa dan hasil sample pengambilan darah oleh laboratorium, ternyata belum dimusnahkan.

Tadinya, limbah medis ini akan dikubur di tempat pembuangan akhir (TPA) Kecamatan Gegesik, tapi ternyata tidak jadi. Namun, kalaupun limbah medis ini dibuang ke TPA di Kecamatan Gegesik, warga Gegesik tidak menyetujuinya, mereka menyatakan akan melakukan penolakan.

“Semua truk masih saya simpan di pull kendaraan, belum dimusnahkan,” kata Kepala DLHD Kabupaten Cirebon, Hermawan, kepada KC Online, Senin (11/12/2017).

Namun, saat ditanya lokasi pull kendaraan ini di mana, Hermawan tidak menjawab. Hermawan menambahkan, pihaknya menyerahkan kembali soal limbah medis yang diangkut dengan truk itu ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sebab limbah medis ini tidak bisa dibuang begitu saja dan dikubur di dalam tanah. “Karena tidak bisa dibuang begitu saja, maka waktu Jumat itu ya saya bawa lagi truknya,” tuturnya.

Hermawan menambahkan, DLHD akan menyelesaikan secara terpadu soal limbah medis ini. “Lihat dua mata pisau yang sama-sama tajam, yang satu pencemaran soal limbah medis, dan satu lagi fakta bahwa ada mata pencarian yang tidak bisa diputus begitu saja. Makanya persoalan ini harus dituntaskan secara terpadu,” katanya.

Hermawan mengungkapkan, pihaknya baru bisa menentukan sikap kepada limbah medis yang ada di area TPS di Desa Penguragan Wetan, Kecamatan Penguragan. Namun, tidak pada gudang rongsokan yang diduga menjadi tempat penyimpanan limbah medis ini. Di gudang rongsokan ini pun diduga lebih banyak tersimpan limbah medis dibandingkan di TPS.

“Kita baru selesaikan yang di TPS dulu, belum ke gudangnya. Kita beri waktu satu tahun kepada warga ataupun pengusaha rongsokan yang bermain-main dengan limbah medis. Kalau setahun kemudian mereka masih saja berurusan dengan limbah medis, baru saya akan tindak sesuai dengan Undang-Undang Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009 dengan ancaman maksimal enam tahun penjara atau denda maksimal Rp 6 miliar, ” tutur Hermawan.

Pantauan KC Online di tempat pull truk sampah di Kecamatan Sumber, Jumat (11/12/2017), tidak ditemukan empat truk pengangkut limbah medis tersebut.

Berdasarkan informasi dari petugas di lokasi pull truk ini, diketahui truk-truk ini tidak diperbolehkan berada di pull truk oleh KLHK.

“Truknya diminta balik lagi oleh KLHK ke TPS di Panguragan Wetan pada hari Minggu kemarin, jadi sekarang tidak ada di pull truk,” kata petugas yang tidak bersedia disebutkan namanya di lokasi pull truk tersebut.

Namun, saat penyegelan dilakukan oleh KLHK di TPS di Panguragan Wetan pada Minggu kemarin, truk-truk itu pun tidak ada di lokasi.

Warga menolak