Danrem dan Kapolres tutup limbah medis di Panguragan, Rabu (20/12/2017)/KC Online.*

SUMBER, (KC Online).-

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) segera mengevakuasi limbah medis yang ada di tempat pembuangan sampah sementara di Desa Panguragan Wetan dan diangkut ke sebuah perusahaan pengelola limbah medis yang ada di Cileungsi, Bogor, Kamis (21/12/2017).

“Besok (hari ini) kami akan angkut limbah B3 yang ada di TPS ke Cileungsi Bogor. Di sana ada perusahaan pengelola limbah B3 dan kita sudah koordinasi dengan mereka. Besok kita angkut menggunakan jumbo bag karena memang jumlahnya banyak sekali, ” kata Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3 Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3 KLHK, Sinta Saptarina Soemiarno, Rabu (20/12/2017).

Menurutnya, evakuasi limbah medis ini dilakukan setelah ada koordinasi dengan Dirjen Penegakan Hukum KLHK yang telah melakukan penyegelan enam gudang limbah medis.

“Kita gerak cepat untuk memusnahkan limbah medis ini, sebab setelah pemusnahan harus ada tahapan lagi, yaitu pemulihan area bekas TPS, ” katanya.

Direktur Pemulihan Kontaminasi dan Tanggap Darurat B3 KLHK Qurie Purnamasari mengatakan, limbah medis yang akan dievakuasi dan dihancurkan adalah limbah medis yang ada di TPS, sementara limbah yang berada di gudang belum akan dimusnahkan sebelum tim dari Gakkum KLHK selesai melakukan penyelidikan.

“Kita sudah sepakat yang di gudang itu kan masih dilakukan penyelidikan sehingga masih dibutuhkan untuk barang bukti. Kalau penyelidikan selesai maka tentunya nanti limbah medis yang ada di gudang pun akan kita musnahkan, ” ujarnya.

Menurutnya, proses pemulihan area TPS dan sekitarnya membutuhkan biaya yang besar, namun KLHK belum mengetahui berapa besaran biaya yang dibutuhkan. “Karena masih dalam proses penghitungan,” katanya.

Tadinya, pemusnahan limbah medis akan dilakukan melalui PT Wastex. Namun akhirnya gagal dilakukan. PT Wastex sendiri merupakan perusahaan pengelola limbah medis yang sering digunakan jasanya untuk menghancurkan limbah medis di sejumlah rumah sakit dan Puskesmas di Cirebon.

Dirjen Penegakkan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani mengatakan, pihaknya masih mencari tahu hasil pengolahan limbah medis di gudang limbah akan dikirim ke mana dan digunakan apa. “Kami masih mengumpulkan bahan keterangan, ” katanya.

Seluruh limbah medis nantinya akan dimusnahkan setelah tidak digunakan sebagai barang bukti. “Target secepatnya pemusnahan akan kita lakukan,” ujarnya.

Selain itu, pihaknya pun masih mencari tahu keterlibatan perusahaan pengelolaan limbah medis dan rumah sakit. Menurutnya, ada dua kemungkinan dalam persoalan ini, yaitu limbah berasal dari RS kemudian dikirim ke perusahaan pengelola limbah medis namun bocor ke Panguragan, dan kemungkinan lainnya adalah limbah medis ini langsung dikirim dari RS ke Panguragan.

“Ada beberapa perusahaan pengelola limbah medis yang sudah punya izin yang sedang kita dalami, RS juga masih kita dalami, semuanya kita dalami, ” tukasnya.

Belum disegel

Sementara itu, lima gudang limbah medis di Kecamatan Panguragan diketahui belum disegel oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta pihak TNI. Pada penyegelan yang dilakukan pada Selasa (19/12/2017) kemarin, KLHK hanya menyegel enam gudang yang tersebar di beberapa titik di Desa Panguragan Kulon.

Namun berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun KC Online, total gudang milik oknum TNI berinisial T tersebut ada 11 gudang. Beberapa di antaranya merupakan gudang kecil tapi memiliki volume limbah medis yang banyak.

Oknum TNI tersebut juga diketahui memiliki karyawan yang bertugas memilah limbah medis dan dikerjakan di rumah masing masing karyawan tersebut. Atas fakta ini, limbah medis yang tidak diketahui aparat masih banyak, warga sekitar mengkhawatirkan sel-sel dari oknum T masih bisa memanfaatkan limbah medis di gudang yang tidak disegel serta rumah karyawan tersebut.

“Sudah jadi rahasia umum kalau oknum TNI ini punya 11 gudang, itu tersebar di beberapa desa tetangga, mulai dari Panguragan Lor, Wetan dan Tengah,” kata salah satu warga Desa Panguragan Kulon, Hasan saat ditemui usai rapat bersama KLHK dan beberapa SKPD terkait penanganan limbah medis di kantor Dinas Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Cirebon, Rabu (20/12/2017).

Menurutnya, pihaknya sudah melaporkan hal ini kepada KLHK dan berharap KLHK bisa menindaklanjuti temuan terbaru tersebut.

“Kami menduga KLHK hanya menyegel enam gudang karena berdasarkan laporan karyawan, dan karyawan gudang berbohong kalau oknum TNI itu hanya punya enam gudang, padahal faktanya punya 11 gudang, ” ujarnya.

Hasan menambahkan, jika tidak dilakukan penyegelan kepada sisa gudang lainnya, maka dikhawatirkan karyawan masih terus bisa beroperasi.(Fanny)