Sunan Gunung Jati/Youtube

DALAM pengembaraannya untuk mencari dan memperdalam agama islam, dua orang petinggi Padjajaran, yakni Raden Walangsungsang dan adiknya Nyi Rarasantang sampai ke Mesir menunaikan ibadah haji.

Setelah ibadah hari selesai, Raden Walangsungsang memilih kembali pulang ke Cirebon dengan sebutan Haji Abdullah Iman, sedangkan Nyi Rarasantang tetap berada di Mesir karena bersuamikan Syarif Abdullah, seorang Raja Mesir. Pernikahan mereka melahirkan dua orang putra, yaitu Syraif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Tidak lama kemudian setelah Syarif Hidayatullah dilahirakan, ayahandanya wafat.

Diambil dari laman Caruban Nagari, menginjak usia dewasa, Syarif Hidayatullah berpamitan kepada ibunya untuk pergi ke Cirebon sambil mencari guru untuk memperdalam ajaran agama Islam. Di Cirebon bertemu dengan pamannya, H.Abdullah Iman atau disebut juga Pangeran Cakra Buana yang telah memiliki seorang putri bernama Nyi Mas Pakung wati, dari prnikahannya dengan Nyai Endang Geulis.

Syarif hidayatullah kemudian dinikahkan dengan Nyi Mas Pakung wati dan menduduki Keraton Pakung Wati dengan gelar Sultan Syarif Hidayatullah atas pemberian nama uwaknya, Pangeran Cakra Buana.

Belum lama di Cirebon, Syarif Hidayatullah pergi mengembara ke Negeri Cina untuk menuntut ilmu sekaligus menyebarkan agama Islam. Di Negeri Cina, Syarif Hidayatullah sangat dihormati oleh masyarakat setempat dan banyak pula yang menganut agama Islam. Karena dianggap orang sakti dan sangat ramah dengan penduduk. Syarif Hidayatullah juga dianggap bisa mengobati sehingga banyak orang yang berobat kepadanya.

Pada suatu ketika tejadi kebakaran di pembakaran keramik, di dalam rumah yang menyala-nyala dilanda api, tak ada seorangpun yang berani menyelamatkan bayi yang masih ada didalamnya. Dengan tenangnya Syarif Hidayatullah masuk untuk menyelamatkan bayi lewat kobaran api yang menyala. Bayi dapat diselamatkan dengan keadaan segar bugar, begitu pula dengan Syarif hidayatullah, pakaiannya tidak terbakar sedikitpun.

Kontak saja, peristiwa itu membuat penduduk terkagum-kagum dan dianggapnya orang sakti. Rupanya, peristiwa itu terdengar Kaisar Cina yang menjadikan dirinya gusar dan marah. Maka dibuatlah tipu muslihat, diundanglah Syarif Hidayatullah ke istana untuk menebak apakah putri An Liong Tien benar-benar mengandung atau tidak.

Dikatakan kepada Syarif Hidayatullah jika putri raja tengah besar mengandung. Semula Syarif Hidayatullah akan menerima hukuman yang berat dari kaisar karena diperut Putri An Liong Tin hanyalah sebuah bantal belaka yang diletakkan di perutnya, namun dalam versi lain bokor dari bahan kuningan, sehingga persis seperti orang mengandung.

Saat Kaisar Cina itu meminta Syarif Hidayatullah untuk menebak apakah putrinya mengandung atau tidak, dengan penuh keyakinan dikatakan jika putrinya sedang mengandung. Jawaban Syarif Hidayatullah ini kontan membuat raja dan seisi istana tertawa terbahak-bahak. Mereka menuding jika ilmu Syarif Hidayatullah tidaklah seperti yang dibicarakan banyak orang.

Namun tak lama kemudian semua menjadi tertegun, tatkala dari dalam keputren seorang emban menjerit-jerit ketika mengetahui jika Putri An Liong Tin benar-benar mengandung. Setelah dilihat oleh kaisar benar juga adanya. Syarif hidayahtullah menyelinap keluar dari istana dan kembali ke Cirebon.

Karena menanggung malu, akhirnya Putri An Liong Tin berpamitan kepada ayahnya untuk mencari calon suaminya di Cirebon. Dalam pertemuannya di Gunung Jati, Putri An Liong Tin dinikahi oleh Syarif Hidayatullah dan ditempatkan di daerah Luragung. Putri An Liong Tin dikenal pula dengan sebutan Ratu Petis, karena gemar makan petis.

Ketika Putri An Liong Tin melahirkan, konon bayi yang baru dilahirkan meninggal dunia. Karena merasa kehilangan, Putri An Liong Tin mengangkat putra Ki Gede Luragung bernama Arya Kemuning sebagai anak, kemudian namanya menjadi Adipati Arya Kemuning.

Pada saat menginjak usia dewasa, Adipati Arya Kemuning yang telah ditinggal ibunya wafat, pergi ke Gunung Jati untuk menemui ayahandanya, Sultan Syarif Hidayatullah. Sultan Syarif Hidayatullah menerimanya dengan suka hati, kemudian Dipati Arya Kemuning ditugaskan untuk mengundang Suryadarma di Indramayu agar datang ke Gunung Jati.

Sekembalinya Arya Kemuning setelah melaksanakan amanat ayahandanya, karena kelelahan, Dipati Arya Kemuning istirahat untuk melepaskan lelah. Di tempat istirahat Dipati Arya Kemuning itulah sekarang disebutnya Desa Arjawinangun.

Arjawinangun terdiri dari dua kata yaitu ARJA dan WINANGUN. Arja artinya bahagia dan Winangun artinya membangun atau telah selesai melaksanakan tugas.***