KELOMPOK Grab Bike Majalengka bantu bayi penderita hydocephalus M Bais Faisal anak pasangan Ahmad dan Sumiati asal Blok Bantarmerak, Desa Mekarwangi, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka yang kini tengah dirawat di RS Cideres, Majalengka, Senin (8/1/2018). Tati/KC Online

KELOMPOK Grab Bike Majalengka bantu bayi penderita hydocephalus M Bais Faisal anak pasangan Ahmad dan Sumiati asal Blok Bantarmerak, Desa Mekarwangi, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka yang kini tengah dirawat di RS Cideres, Majalengka, Senin (8/1/2018).

Menurut salah seorang Grab Bike Capi Syarifudin, bantuan yang diberikannya bagi Bais sebesar Rp 1.839.000 berasal dari penggalangan dana dari anggota perhimpunan grab di Majalengka yang berjumlah sekitar 429 orang, terdiri dari sepeda motor sebanyak 360 dan mobil 69.

“Ini bentuk kepedulian kami ketika mendengar ada penderita hydrocephalus serta hernia dan sesak nafas, kebetulan orang tua pasien berasal dari keluarga kurang beruntung,” kata Capi.
Capi bersama sejumlah temannya langsung menyerahkan bantuan yang dihimpunnya kepada orang tua kandung bayi etsrebut di rumah sakit.

Sementara itu, Ahmad dan Sumiati menyampaikan ucapan terima aksih atas bantuan yang diberikan anggota grab. Dia mengaku tak menduga bakal ada bantuan dari para donatur karena awalnya dia menunda perawatan anaknya karena ketiadaan biaya di keluarga.

“Bersyukur ternyata kami mendapat bantuan dari mereka yang kami tidka pernah kenal ataupun mengenalnya,” ungkap Sumiati.

Terus bertambah

Sementara itu, menurut Capi, keberadaan grab di Majalengka sendiri sebetulnya baru tiga bulanan, awalnya digagas oleh Grab Bike asal Bandung karena di Majalengka belum ada yang mengenal. Namun akhirnya kini terus bertambah dan pertambahannya cukup pesat.

Pengguna grab sendiri kini sudah cukup banyak dan bahkan sudah ada kendaraan roda empat yang jumlahnya sebanyak 69 kendaraan. Sedangkan sepeda motor sebanyak 360 orang.

Keberadaan grab di Majalengka hingga saat ini cukup aman tak mempengarugi ojek-ojek yang ada di pangkalan. Mereka tak pernah saling bersentuhan seperti halnya di kota lain.

“Kami saling menghargai, ketika kami mengambil muatan tak pernah dekat pangkalan ojek demikian juga saat kami mengantar muatan tak sampai di pangkalan ojek, itu adalah etika kami. Ini cara kami untuk saling menghargai agar tidka muncul gejolak di antara kedua pihak,” ungkap Capi.

Grab sendiri, menurutnya, sebagai peluang usaha sekaligus antisipasi tingginya konsumen atau muatan saat bandara beroperasi kelak. Sehingga ke depan grab bisa menjadi peluang kerja bagi warga Majalengka sendiri.

“Anggota kami berasal dari Majalengka, Maja, Talaga, Rajagaluh dan sejumlah daerah lainnya. Sedangkan penumpangnya sementara ini masih berada di kota Majalengka baru sesekali ke luar daerah seperti Cirebon,” ungkap Capi. Tati/KC Online