illustrasi/net

KESAMBI, (KC Online).-

Tumbuhnya industri keuangan syariah dan kesadaran masyarakat akan kehalalan dalam bermuamalah menciptakan ladang garapan baru untuk berkarya. Bahkan trend ekonomi syariah bukan hanya di Indonesia, juga berkembang di luar negeri seperti Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, dan lainnya.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah, Dr. Achmad Kholiq. Menurutnya, hijrahnya perekonomian di berbagai negara menjadi syariah menjadi peluang yang baik bagi lulusan perguruan tinggi atau magister bidang ekonomi syariah.

“Peluang kerja itu sebenarnya banyak, baik lulusan S1 maupun S2. Namun peluang itu tidak dimaksimalkan dengan baik karena masih diragukan kompetensi dan kualitasnya, sehingga banyak lembaga keuangan yang mempekerjakan karyawan meskipun background-nya bukan pendidikan ekonomi syariah,” jelasnya kepada KC Online, Kamis (11/1/2018).

Achmad mengaku, ini menjadi problem bagi pelaku ekonomi syariah. Perlu menggodog pendidikan ekonomi syariah, agar menghasilkan sumber daya manusia yang siap bekerja sesuai kebutuhan pasar. Misalnya saja pembenahan dapat dilakukan dari segi kurikulum yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar, dan yang terpenting harus punya kekuatan di bidang menejemen, informasi teknologi, dan bahasa.

“Pernah suatu ketika menjadi pembahasan diskusi dengan lembaga perbankan syariah yang ternyata banyak karyawannya diterima kerja bukan dari perguruan tinggi syariah, melainkan dari lulusan non syariah karena mereka kuat secara menejemen, teknologi, dan bahasa sesuai dengan kebutuhan pasar yang ada,” tuturnya.

Dengan problem seperti itu, menurut Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), pembenahan secara individu mahasiswa, bahkan dari perguruan tinggi syariah seharusnya memiliki pola ajar yang mencakup menejemen, IT, dan bahasa agar mencetak lulusan yang berkualitas dan dapat ditempatkan dimana saja.

Tapi, Achmad yang juga Dosen Ekonomi Islam Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon mengaku sudah banyak perguruan tinggi yang sedang dalam proses menuju pola ajar sesuai kebutuhan pasar. Karena menurutnya, kekayaan wawasan tidak hanya diambil dari kampus saja, melainkan mahasiswa aktif mengikuti seminar dan workshop serta praktik di lapangan.(Ani/Job)