Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani

JAKARTA, (KC Online).-

Pemerintah berencana menyiapkan dana abadi pendidikan sebesar Rp 100 triliun. Dana itu akan dikelola dan keuntungannya digunakan untuk beasiswa pendidikan serta penelitian.‎

Dana tersebut akan dikelola oleh lembaga khusus yang akan dibentuk tahun ini. Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan, saat ini pihaknya sedang mencari formula ‎bagaimana mencapai target jumlah dana abadi tersebut.

“Saya sedang simulasi jika misalnya dana abadi Rp 100 triiun, berapa dana yang bisa digunakan untuk beasiswa seperti S1, S2, termasuk vokasi. Kemudian berapa juga yang bisa digunakan untuk penelitian,” ujar dia usai menyerahkan hibah dana riset kepada peneliti di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Kamis (11/1/2018).

Dia mengatakan, dana abadi beasiswa tersebut akan diberikan melalui program LPDP yang sudah berlangsung saat ini. Saat ini, program tersebut telah memberikan lebih dari 18 ribu beasiswa. Selain pendidikan formal, pemerintah juga mulai fokus untuk memberikan beasiswa pada pendidikan vokasi.

“Namun dana pendidikan vokasi kan tidak terbatas hanya LPDP tapi ada juga anggaran pendidikan di Kementerian Riset dan Teknologi, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,” ujarnya.

Sri mengakui,‎ selama ini tingkat penyerapan anggaran pendidikan 20 persen masih rendah. Di sisi lain, pemerintah harus memenuhi komitmen anggaran pendidikan sebanyak 20 persen. Oleh sebab itu, pihaknya berupaya untuk membuat mekanisme agar komitmen anggaran 20 persen terpenuhi namun tidak dihabiskan secara asal-asalan.

“Kita mencari cara bagaimana anggaran pendidikan 20 persen yang tahun ini mencapai Rp 440 triliun lebih, bisa digunakan lebih baik,” ujar dia.

Sri menegaskan, dana abadi pendidikan tersebut akan dikelola secara profesional oleh lembaga yang dibentuk oleh Peraturan Presiden (Perpres). Rencananya Perpres tersebut akan keluar tahun ini.

“Jadi dana ini sifatnya bukan sekali habis, tapi akan dikelola secara profesional. Hasil pengelolaan setiap tahun ini yang akan digunakan. Oleh karena itu, perlu ada suatu tata kelola dari manajer investasinya sehingga bisa menghasilkan penerimaan yang cukup,” ujar dia.

‎Sementara kebijakan pengunaan anggarannya akan ditetapkan oleh berbagai kementerian. “Pembentukan dana abadi ini diperlukan agar pemberian beasiswa untuk riset dan pendidikan bisa berkesinambungan,” ujar Sri.

Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Moazzam Malik‎, mengatakan negara berkembang banyak yang hanya fokus pada penelitian kecil. Oleh karena itu pemerintah Inggris melalui Newton Fund sangat mendukung misi Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) memberikan pendanaan untuk penelitian besar.

Dia mengatakan, Indonesia kaya akan sumber daya alam dan budaya. Kekayaan ini perlu dimanfaatkan dalam bentuk penelitian sehingga bisa menjadi solusi dalam tantangan baik pembangunan sosial ekonomi Indonesia maupun global.‎ Koaborasi internasional, juga dibutuhkan untuk menjawab tantangan tersebut.(PRLM/KC Online)