Pergerakan tanah di Blok Pamujaan, Desa Cimuncang, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka, Rabu (10/1/2018) Tati/KC Online

MAJALENGKA, (KC Online).-

Pergerakan tanah di Blok Pamujaan, Desa Cimuncang, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka, terus terjadi dan semakin melebar terutama di saat turun hujan.

Kini sebanyak 20 KK atau 66 jiwa meninggalkan rumah mengungsi di sebuah MTs Al Masum, sedangkan BPBD nyatakan staus siaga.

Tim Geologi dari Bandung pada Rabu (10/1/2018) sore mulai melakukan penelitian terhadap pergerakan tanah yang kini terus berkembang tersebut guna memastikan kondisi wilayah tersebut apakah harus segera ditinggalkan warga atau sebagian masih tetap bisa ditempati.

Menurut Kepala BPBD Kabupaten Majalengka Diki Ahmad Sodikin, pergerakan tanah tiap hari terjadi sekitar 2 hingga 5 cm terkecuali di saat hujan deras pergerakan tanah bisa mencapai 10 cm hingga 25 cm.

Tak heran, jika kini lebar retakan sudah mencapai 30 cm lebih, dengan kedalaman hingga 40 sampai 50 cm, sedangkan anjloknya tanah ada yang mencapai kurang lebih satu meteran. Di lokasi-lokasi seperti itu semua warga telah mengungsi.

“Kini kami menyatakan status siaga, sekitar 66 warga di luar 5 KK yang sudah mengungsi sejak terjadi pergerakan tanah karena rumahnya rusak parah. Ke 66 warga ini mengungsi di gedung sekolah terutama saat malam hari karena khawatir rumahnya tiba-tiba ambruk di saat malam hari saat mereka tertidur lelap,” ungkap Diki.

Kini menurut Diki, tim dari Badan Geologi tengah melakukan penelitian terhadap bencana alam pergerakan tanah tersebut guna memastikan apakah kawasan tersebut masih dinyatakan aman untuk dihuni atau tidak.

Hasilnya diharapkan bisa segera diterima Pemerintah Kabupaten Majalengka untuk mempercepat penanganan para korban bencana alam. Termasuk apakah diperlukan untuk direlokasi atau tidak.

“Kalau harus direlokasi tentu pemerintah harus mencari tempat yang aman dan tempat baru harus diteliti juga oleh Tim Badan Geologi jangan sampai tanah tempar relokasi juga dinyatakan rawan bencana seperti yang mereka tempati saat ini,” ungkap Diki.

Satgas Bencana Desa di Desa Cimuncang, Asep mengungkapkan, masyarakat yang berada di lokasi bencana kini masih mengalami trauma dan sebagian di siang hari tidak bersedia mendatangi rumah mereka.

“Sebagian masyarakat pada siang hari ada yang masih mengunjungi rumahnya ada pula yang sama sekali menolak karena kekhawatiran tiba-tiba bencana terjadi dan membahayakan jiwanya. Yang kasian anak sekolah karena mereka belajarnya terganggu,” ungkap Asep.(Tati/KC Online)