Dewi Lanjar/youtube

BAGI pecinta dunia klenik atau alam metafisika, terutama mereka yang mendambakan uang gaib tentu sudah tak asing lagi dengan nama Dewi Lanjar.

Perempuan gaib berparas cantik ini konon menghuni daerah pantai utara Pekalongan, Jawa Tengah. Meski dianggap sebagai sebuah kontroversi oleh masyarakat modern, namun kisah Nyi Lanjar atau Dewi Rara Kuning terlanjur melekat di hati sebagian masyarakat. Tak sedikit pula yang meyakini bahwa kisah Dewi Lanjar ini adalah sesuatu yang nyata dan faktual.

Keyakinan tersebut masih terbilang kental bagi sebagian masyarakat yang bermukim di pesisir utara Pekalongan hingga Tegal dan daerah sekitarnya. Nyai atau Dewi Lanjar sendiri adalah sebutan bagi wanita muda yang sudah menjanda dan belum memiliki anak atau keturunan.

Karenanya, jika anak yang hilang saat bermain di pantai, masyarakat sekitar percaya anak tersebut dibawa oleh Dewi Lanjar. Nama Nyai Lanjar sendiri bisa diartikan sebagai janda kembang atau janda muda. Menurut sebagian masyarakat modern, kisah Dewi Lanjar adalah dongeng klasik yang biasa diceritakan oleh para orang tua saat menidurkan anak-anaknya.

Dikutip dari dotgo.id, Dewi Lanjar adalah sosok yang cukup melegenda bagi masyarakat di pesisir utara pulau Jawa. Sebagian versi menyebutkan, Dewi Lanjar adalah sosok manusia yang berubah menjadi buaya siluman. Dewi Lanjar juga disebut-sebut bisa memberi kekayaan dengan cara menjalani laku pesugihan.

Menurut beberapa ahli spiritual, pesugihan laut utara dikenal dengan sebutan pesugihan Dewi Lanjar Kembang Sewu. Orang yang melakukan ritual pesugihan tersebut akan mendapat harta atau kekayaan semu yang sebenarnya sangat merugikan karena konon akan mengorbankan nyawa. Setelah habis masanya, setiap orang yang melakukan pesugihan, nantinya akan dijemput oleh oleh Dewi Lanjar untuk menjadi pengikutnya.

Sebelumnya, rumah dari pelaku pesugihan akan ditandai dengan tanda silang yang muncul secara gaib. Pada malam harinya, rumah tersebut akan dikelilingi burung gagak dan lolongan anjing liar yang datang secara misterius. Lalu datanglah kereta kencana khas keraton Jawa untuk menjemputnya. Konon, syarat untuk pesugihan Dewi Lanjar salah satunya adalah dengan tidur menyilang atau tidur melintang di depan pintu.

Menurut legenda, Dewi Lanjar adalah sesosok manusia biasa yang semula bernama Dewi Rara Kuning. Syahdan dahulu kala, Dewi Rara Kuning sudah hidup menjanda dalam usia yang masih sangat muda. Tak lama setelah menikah, suami Rara Kuning meninggal dunia dan sejak itulah Rara Kuning dikenal dengan sebutan Dewi Lanjar.

Ditinggal suami saat usia perkawinannya masih seumur jagung, Dewi Lanjar merasa sangat bersedih dan terus dirundung duka. Karena tak mau terus menerus digelayuti kesedihan, Dewi Lanjar memutuskan untuk pergi berkelana dan meninggalkan kampung halamannya. Dewi Lanjar terus berjalan dan mengembara ke arah selatan.

Nyai Lanjar yang terus berjalan ini tanpa terasa sudah memasuki wilayah utama Kerajaan Mataram. Saat Dewi Lanjar sampai di sungai Opak, ia kemudian bertemu dengan Panembahan Senopati dan Mahapatih Singaranu.

Saat itu, Panembahan Senopati dan patihnya sedang bertapa mengapung di Sungai Opak. Saat bertatap muka langsung dengan Raja Mataram tersebut, Dewi Lanjar lantas mengutarakan niat hatinya dan berkata tidak akan menikah lagi.

Panembahan Senopati dan Mahapatih Singoranu yang merasa iba terhadap nasib Dewi Lanjar lantas menasehati dan memberi saran agar Dewi Lanjar bertapa di pantai selatan guna bertemu dengan Ratu Kidul. Setelah memberi saran, Panembahan Senopati dan patihnya berpisah dengan Dewi Lanjar. Mereka meneruskan tapanya dengan menyusuri Sungai Opak, sedangkan Dewi Lanjar meneruskan perjalanan menuju pantai selatan.

Setibanya di Laut Kidul, Dewi Lanjar kemudian melakukan tapa-brata dengan tekun disertai keyakinan dan tekad yang bulat untuk bertemu sang ratu. Setelah beberapa waktu bertapa, Dewi Lanjar akhirnya bisa bertemu dengan Ratu Pantai Selatan. Dihadapan Ratu Kidul, Dewi Lanjar meminta agar bisa menjadi pengikut ratu pantai selatan tersebut. Nyai Ratu Kidul tidak berkebaratan, dan menerima Dewi Lanjar menjadi pengikutnya.

Untuk menguji kesetiaan hati pengikutnya tersebut, Ratu Pantai Selatan kemudian memerintahkan Dewi Lanjar untuk mengganggu dan membatalkan niat hati Raden Bahu yang saat itu sedang membuka hutan Gambiren yang lokasinya saat ini berada di sekitar Jembatan Anim Pekalongan dan Desa Sorogenen.

Namun demikian, Raden Bahu sendiri sedikitpun tak merasa terpengaruh oleh gangguan Dewi Lanjar dan pasukan Jin yang mengikutinya. Dengan tekad dan keteguhan hatinya, Raden Bahu akhirnya berhasil mengalahkan godaan Dewi Lanjar dan pasukannya.

Merasa malu karena gagal menunaikan tugas dari Ratu Kidul, Dewi Lanjar memutuskan untuk tidak kembali ke pantai selatan. Dewi Lanjar pun meminta izin pada Raden Bahu agar ia diperkenankan tinggal di sekitar Pekalongan. Mendengar permintaan Dewi Lanjar, Raden Bahu juga tidak merasa kebaratan jika Dewi Lanjar tinggal dan menetap di Pekalongan.

Mengetahui hal tersebut, Ratu Kidul kemudian memberi izin pada Dewi Lanjar untuk tinggal dan berkuasa di pesisir utara. Sebagian versi menyebutkan, Dewi Lanjar menjadi penguasa pantai utara dan sebagai wakil dari Ratu Pantai Selatan.

Cerita Rakyat Jawa Tengah Dewi Lanjar ini sering dipentaskan dalam kesenian tradisional rakyat, film, sandiwara radio, komik atau novel. Menurut kalangan akademis, kisah Dewi Lanjar adalah kearifan lokal sebagai peninggalan budaya leluhur masyarakat Jawa dalam bentuk dongeng atau sastra.***